Festival Mural Hijau: Lomba dan Digitalisasi Mural Pada Lokasi Rawan Banjir di Maros

Jum'at, 21 Agu 2026 11:34
Festival Mural Hijau: Lomba dan Digitalisasi Mural Pada Lokasi Rawan Banjir di Maros
Comment
Share
MAROS - Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Program Dari Kemdiktisaintek kembali mencatat capaian penting dalam penguatan seni sebagai instrumen mitigasi bencana di Sulawesi Selatan.

Sepanjang tahun 2026 ini, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Makassar (UNM) merangkaikan kegiatan "Festival Mural Hijau: Mitigasi Banjir Melalui Lomba Mural dan Digitalisasi Mural Pada Lokasi Rawan Banjir di Kabupaten Maros" yang berlangsung selama delapan bulan di sejumlah titik rawan banjir di Kabupaten Maros.

Program yang masuk dalam skema Program Inovasi Seni Nusantara dengan fokus bidang Sosial Humaniora ini digelar bekerja sama dengan Ruang Rupa, mitra pelaksana yang mendampingi proses kreatif lomba mural sekaligus proses digitalisasi karya di lapangan.

Kegiatan ini dipimpin oleh Agussalim Djirong sebagai ketua program, bersama anggota tim Faizal Erlangga Makawi (Dosen Desain Komunikasi Visual UNM) dan Atikah Nurul Asdah (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNM).

Faizal Erlangga Makawi bertanggung jawab menyusun rancangan ide dan pelaksanaan kegiatan serta menjalin komunikasi dengan mitra dan peserta, sementara Atikah Nurul Asdah berperan membantu penyusunan narasi bahasa berbasis tema budaya sekaligus membantu pembuatan script video kegiatan.

Kehadiran PISN UNM menjadi jawaban atas tantangan banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Maros. Melalui pendekatan seni rupa publik, program ini mengajak masyarakat di lokasi rawan banjir untuk turut menyuarakan kesadaran mitigasi bencana lewat karya mural, yang kemudian didigitalisasi agar dapat diarsipkan dan dimanfaatkan sebagai media edukasi jangka panjang.

Melalui lomba mural yang melibatkan siswa yang bertempat disekitar lokasi rawan banjir, program ini akan menghasilkan karya-karya visual bertema mitigasi lingkungan yang dipasang di titik-titik strategis. Proses digitalisasi mural turut dilakukan agar karya tersebut tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga dapat diakses dan disebarluaskan secara digital sebagai bahan edukasi publik mengenai kesiapsiagaan bencana banjir.

Penyelenggara menilai keterlibatan seni dalam isu mitigasi bencana selama ini belum banyak dioptimalkan, padahal medium visual seperti mural memiliki daya jangkau kuat untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Program ini pun menjadi bentuk intervensi kreatif yang menghubungkan pelestarian ruang publik, edukasi lingkungan, dan pengembangan seni komunikasi visual berbasis kebutuhan lokal.

Ketua Program Agussalim Djirong menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek RI) sebagai pemberi hibah PISN yang proses pengajuannya dikelola melalui platform BIMA.

Ia juga berterima kasih kepada LP2M UNM serta Ruang Rupa sebagai mitra pelaksana program. "Festival Mural Hijau ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi bahasa yang efektif untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap risiko banjir di lingkungan mereka sendiri. Karya-karya mural yang lahir dari program ini kami harapkan tidak berhenti sebagai hiasan visual, tetapi menjadi pengingat sekaligus edukasi berkelanjutan bagi warga di kawasan rawan banjir," ujar Agussalim Djirong.

Perwakilan Ruang Rupa turut mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan berupa alat teknologi dan kolaborasi ini, yang dinilai membuka ruang baru bagi seniman lokal dan para siswa di Maros untuk berkarya sekaligus berkontribusi langsung pada isu lingkungan di wilayah mereka.

Dengan terselenggaranya Festival Mural Hijau di lokasi-lokasi rawan banjir Kabupaten Maros, program ini diharapkan terus memperkuat kesadaran mitigasi bencana berbasis seni, membuka ruang kolaborasi antara akademisi, seniman, dan masyarakat, serta menjadi model pemanfaatan seni komunikasi visual untuk isu-isu sosial dan lingkungan di masa mendatang.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru