PTOS-M Jadi Senjata Digital PTP Nonpetikemas Gerakkan Logistik-Tumbuhkan Ekonomi

Jum'at, 29 Mei 2026 18:08
PTOS-M Jadi Senjata Digital PTP Nonpetikemas Gerakkan Logistik-Tumbuhkan Ekonomi
PTP Nonpetikemas terus memperkuat ekosistem logistik sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi lewat strategi digitalisasi dan modernisasi pelabuhan. Foto/Istimewa
Comment
Share
JAKARTA - Transformasi digital kini menjadi kebutuhan utama dalam industri logistik dan kepelabuhanan. Digitalisasi dan modernisasi merupakan kunci untuk memperkuat ekosistem logistik sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi.

Jurus digitalisasi itu kini dijalankan oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok atau PTP Nonpetikemas melalui implementasi Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M). Senjata digital itu terbukti mampu menekan biaya logistik dan mempercepat arus barang di pelabuhan. Muaranya, memacu pertumbuhan ekonomi dari pelabuhan.

Sebagai bagian Pelindo Multi Terminal, PTP Nonpetikemas memegang peran penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok nasional. Perusahaan yang beroperasi di 11 cabang ini menangani berbagai jenis kargo mulai dari curah cair, curah kering, general cargo hingga bag cargo.

Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, mengungkapkan strategi digitalisasi dan modernisasi diterapkan dengan fokus peningkatan produktivitas layanan dan percepatan proses bisnis pelabuhan.

Ia menjelaskan penerapan sistem digital seperti PTOS-M membuat proses bongkar muat lebih cepat, transparan, dan minim hambatan. Dengan begitu, waktu sandar kapal dapat ditekan dan efisiensi operasional meningkat.

"Jadi semua terkontrol secara real time. Itu yang membuat kita bisa melakukan kegiatan bongkar muat secara cepat," kata Indra.

Sekadar diketahui, PTOS-M merupakan platform sistem operasi layanan terminal multipurpose yang terstandarisasi di lingkungan Pelindo. Sistem ini menghadirkan layanan end-to-end berbasis digital yang mengintegrasikan operasional terminal dan layanan pelanggan dalam satu platform.

Melalui PTOS-M, pengguna jasa kini dapat mengakses berbagai layanan secara online, mulai dari registrasi pengguna, pengajuan permohonan bongkar muat, penumpukan barang, layanan alat bongkar muat, pencetakan dokumen, pembayaran hingga monitoring kegiatan operasional secara real time.

Jurus digitalisasi ini telah mengubah pola layanan pelabuhan yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual menjadi lebih cepat dan efisien. Seluruh proses kini berbasis planning and control sehingga aktivitas operasional dapat dipantau secara terukur dan transparan.

Bagi pengguna jasa, implementasi PTOS-M memberikan dampak langsung terhadap kepastian layanan. Proses administrasi menjadi lebih sederhana, waktu tunggu berkurang, dan koordinasi kegiatan bongkar muat dapat dilakukan lebih cepat.

Transformasi digital tersebut juga menjadi bagian dari enam pilar transformasi operasional yang dijalankan PTP Nonpetikemas. Masing-masing yakni business process, equipment, infrastructure and facility, technology, people, serta Health, Safety, Security and Environment (HSSE).

Dari seluruh pilar tersebut, aspek teknologi menjadi salah satu pengungkit utama peningkatan performa PTP Nonpetikemas. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat throughput sebesar 48,1 juta ton atau tumbuh sekitar 2,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didominasi oleh muatan curah kering sebesar 46 persen, disusul general cargo 25 persen, curah cair 23 persen, dan bag cargo 6 persen.

Cabang Tanjung Priok menjadi motor utama pertumbuhan PTP Nonpetikemas. Dominasi layanan general cargo, peningkatan komoditas curah, serta produktivitas bongkar muat di cabang ini terus membaik.

Didukung optimalisasi fasilitas, sistem digital, dan SDM tersertifikasi, Cabang Tanjung Priok konsisten melampaui target dan menjadi kontributor terbesar kinerja perusahaan.

Nah, kinerja positif PTP Nonpetikemas terus berlanjut, tercermin dari capaian pada triwulan I 2026. SM Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, menjelaskan pada triwulan I 2026 secara konsolidasi, kinerja throughput mencapai 12,4 juta ton. Terjadi peningkatan 3,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 11,9 juta ton.

Komposisi throughput tersebut didominasi oleh curah kering sebesar 5,7 juta ton atau 46 persen, diikuti general cargo 2,9 juta ton atau 24 persen, curah cair 3 juta ton atau 25 persen, serta bag cargo sebesar 656 ribu ton atau 5 persen.

Fiona menegaskan PTP Nonpetikemas sebagai bagian dari Pelindo Group terus menghadirkan layanan terminal nonpetikemas yang andal dan terintegrasi. PTP Nonpetikemas hadir mendukung ekosistem logistik maritim nasional, dengan menghubungkan pusat produksi, kawasan industri, dan pasar melalui layanan kepelabuhan yang andal dan beroperasi selama 24 jam.

"Kami berpengalaman dalam menangani berbagai jenis kargo, mulai dari curah cair, curah kering, hingga general cargo, yang didukung jaringan operasional di 11 wilayah pelabuhan di Indonesia bagian barat," tuturnya.

Diakui Fiona, transformasi digital yang diimplementasikan melalui sistem PTOS-M telah membuat proses operasional pelabuhan semakin terintegrasi. Sistem ini memudahkan proses monitoring kegiatan bongkar muat dan rangkaian proses bisnis pelabuhan lainnya. Mulai dari transaksi operasional hingga perencanaan dan kontrol, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas dan efisiensi waktu.

VP Komunikasi Korporasi PT Pelindo Multi Terminal, Farid Chairmawan, menambahkan PTP Nonpetikemas merupakan satu dari tiga anak perusahaan Pelindo Multi Terminal. Diakuinya, digitalisasi dan modernisasi menjadi senjata bagi Pelindo Multi Terminal maupun PTP Nonpetikemas dalam memacu kinerja operasional.

"Transformasi digital itu terlihat dari implementasi PTOS-M. Itu membuat semua aktivitas operasional terpantau secara real time," kata dia, saat kunjungan ke Makassar, belum lama ini.

Transformasi digital itu, kata Farid, ditunjang dengan pengoperasian terminal selama 24 jam selama tujuh hari alias 24/7 membuat kegiatan bongkar muat kini lebih cepat.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru