Kredit Perbankan Sulsel Tumbuh 5,27 Persen, Tembus Rp176,3 Triliun
Selasa, 04 Agu 2026 12:13
Kepala OJK Sulselbar Moch Muchlasin memaparkan kinerja industri jasa keuangan di Sulsel pada acara media briefing. Foto/Tri Yari Kurniawan
MAKASSAR - Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit mencapai Rp176,30 triliun, atau tumbuh 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat 3,89 persen.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, mengatakan pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik dan mampu menopang aktivitas ekonomi di daerah.
"Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit mencapai Rp176,30 triliun, tumbuh 5,27 persen secara tahunan," kata Muchlasin, saat acara media briefing di Kantor OJK Sulselbar.
Dari total kredit yang disalurkan, kredit produktif masih mendominasi dengan nilai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen dari keseluruhan kredit. Sementara kredit konsumsi mencapai Rp82,50 triliun atau 47,72 persen.
Berdasarkan sektor usaha, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp37,96 triliun atau sekitar 21,53 persen dari total kredit. Meski masih menjadi penyumbang terbesar, sektor ini mengalami kontraksi tipis sebesar 1,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kredit di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan tumbuh 11,23 persen menjadi Rp16,51 triliun, mencerminkan masih kuatnya aktivitas sektor primer di Sulawesi Selatan.
Pertumbuhan paling tinggi justru terjadi pada sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi yang melonjak 18,07 persen menjadi Rp3,08 triliun. Disusul sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan yang meningkat 16,85 persen menjadi Rp4,28 triliun. Di sisi lain, sektor konstruksi mengalami kontraksi terdalam, yakni turun 7 persen menjadi Rp5,05 triliun.
Secara geografis, penyaluran kredit masih terkonsentrasi di Kota Makassar dengan nilai mencapai Rp83,40 triliun atau sekitar 53,04 persen dari total kredit di Sulawesi Selatan. Nilai tersebut tumbuh 7,15 persen dibandingkan Juni 2025.
Di luar Makassar, penyaluran kredit terbesar tercatat di Kota Palopo sebesar Rp10,42 triliun, disusul Kabupaten Bone sebesar Rp6,20 triliun dan Kota Parepare sebesar Rp6,12 triliun. Sementara dari sisi pertumbuhan, Kabupaten Toraja Utara menjadi daerah dengan peningkatan kredit tertinggi, yakni 8,62 persen, diikuti Kabupaten Bone yang tumbuh 8,54 persen.
Selain pertumbuhan kredit, OJK juga mencatat peningkatan pada indikator utama perbankan lainnya. Total aset perbankan Sulawesi Selatan mencapai Rp214,32 triliun, tumbuh 5,99 persen secara tahunan. Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp149,77 triliun, meningkat 5,71 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
Muchlasin menjelaskan, struktur penghimpunan dana masyarakat masih didominasi tabungan yang mencapai Rp92,03 triliun atau 61,45 persen dari total DPK. Adapun deposito menyumbang Rp33,96 triliun dan giro sebesar Rp23,77 triliun.
Ia menambahkan, kondisi perbankan Sulawesi Selatan juga tetap terjaga dari sisi kesehatan. Hingga Juni 2026, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 117,71 persen, yang menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih cukup tinggi. Sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,70 persen, menandakan kualitas kredit tetap terkendali.
"Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan NPL sebesar 3,70 persen," pungkasnya.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch Muchlasin, mengatakan pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dengan baik dan mampu menopang aktivitas ekonomi di daerah.
"Kinerja industri perbankan di Sulawesi Selatan hingga Juni 2026 masih menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit mencapai Rp176,30 triliun, tumbuh 5,27 persen secara tahunan," kata Muchlasin, saat acara media briefing di Kantor OJK Sulselbar.
Dari total kredit yang disalurkan, kredit produktif masih mendominasi dengan nilai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen dari keseluruhan kredit. Sementara kredit konsumsi mencapai Rp82,50 triliun atau 47,72 persen.
Berdasarkan sektor usaha, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp37,96 triliun atau sekitar 21,53 persen dari total kredit. Meski masih menjadi penyumbang terbesar, sektor ini mengalami kontraksi tipis sebesar 1,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, sejumlah sektor mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi. Kredit di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan tumbuh 11,23 persen menjadi Rp16,51 triliun, mencerminkan masih kuatnya aktivitas sektor primer di Sulawesi Selatan.
Pertumbuhan paling tinggi justru terjadi pada sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi yang melonjak 18,07 persen menjadi Rp3,08 triliun. Disusul sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan yang meningkat 16,85 persen menjadi Rp4,28 triliun. Di sisi lain, sektor konstruksi mengalami kontraksi terdalam, yakni turun 7 persen menjadi Rp5,05 triliun.
Secara geografis, penyaluran kredit masih terkonsentrasi di Kota Makassar dengan nilai mencapai Rp83,40 triliun atau sekitar 53,04 persen dari total kredit di Sulawesi Selatan. Nilai tersebut tumbuh 7,15 persen dibandingkan Juni 2025.
Di luar Makassar, penyaluran kredit terbesar tercatat di Kota Palopo sebesar Rp10,42 triliun, disusul Kabupaten Bone sebesar Rp6,20 triliun dan Kota Parepare sebesar Rp6,12 triliun. Sementara dari sisi pertumbuhan, Kabupaten Toraja Utara menjadi daerah dengan peningkatan kredit tertinggi, yakni 8,62 persen, diikuti Kabupaten Bone yang tumbuh 8,54 persen.
Selain pertumbuhan kredit, OJK juga mencatat peningkatan pada indikator utama perbankan lainnya. Total aset perbankan Sulawesi Selatan mencapai Rp214,32 triliun, tumbuh 5,99 persen secara tahunan. Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp149,77 triliun, meningkat 5,71 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
Muchlasin menjelaskan, struktur penghimpunan dana masyarakat masih didominasi tabungan yang mencapai Rp92,03 triliun atau 61,45 persen dari total DPK. Adapun deposito menyumbang Rp33,96 triliun dan giro sebesar Rp23,77 triliun.
Ia menambahkan, kondisi perbankan Sulawesi Selatan juga tetap terjaga dari sisi kesehatan. Hingga Juni 2026, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 117,71 persen, yang menunjukkan fungsi intermediasi perbankan masih cukup tinggi. Sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,70 persen, menandakan kualitas kredit tetap terkendali.
"Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan NPL sebesar 3,70 persen," pungkasnya.
(TRI)
Berita Terkait
Ekbis
OJK Perkuat Keuangan Syariah, dari Aset Digital hingga Sahabat Masjid
OJK mendorong pengembangan aset keuangan digital dan aset kripto syariah yang tidak sekadar menawarkan kebaruan teknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata dan memperkuat kepercayaan masyarakat.
Rabu, 04 Nov 2026 16:44
News
OJK dan UIN Alauddin Perkuat Literasi Keuangan Syariah Mahasiswa
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar memperkuat literasi keuangan syariah di kalangan mahasiswa melalui program OJK Mengajar
Rabu, 04 Nov 2026 09:18
Ekbis
Perbankan Syariah Bidik Pangsa Pasar 20%, ASBISINDO Dorong Sinergi OJK & Pemerintah
Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) mendorong keberpihakan kebijakan serta sinergi yang lebih kuat antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah, dan industri.
Rabu, 04 Nov 2026 07:28
News
OJK, LPS, dan Pemprov Sulsel Gaungkan Gerakan Cinta Keuangan Syariah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersinergi melalui Gerakan Masyarakat (Germas) Anti Mager Cinta Keuangan Syariah.
Selasa, 03 Nov 2026 20:13
Ekbis
Mayoritas Daerah di Sulsel Mulai Beralih ke Perbankan Syariah
Sebanyak 21 dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan telah mengalihkan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) ke layanan perbankan syariah.
Selasa, 03 Nov 2026 09:52
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SMARTFREN Bundling nubia A77 5G, Internet Unlimited Dua Tahun Mulai Rp3,5 Juta
2
Polri di Persimpangan: Menguji Warisan Listyo Sigit, Memulihkan Marwah Bhayangkara
3
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
4
Perkuat Pasokan Listrik, PLN Matangkan Perjanjian Lahan PLTMG Baubau 2
5
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SMARTFREN Bundling nubia A77 5G, Internet Unlimited Dua Tahun Mulai Rp3,5 Juta
2
Polri di Persimpangan: Menguji Warisan Listyo Sigit, Memulihkan Marwah Bhayangkara
3
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
4
Perkuat Pasokan Listrik, PLN Matangkan Perjanjian Lahan PLTMG Baubau 2
5
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto