BI Sulsel Sabet Dua Penghargaan di IABC Indonesia Awards 2026

Sabtu, 19 Sep 2026 13:51
BI Sulsel Sabet Dua Penghargaan di IABC Indonesia Awards 2026
Dua program unggulan BI Sulsel, yakni Non Stop Education (NSE) CBP Rupiah dan Green PUR, berhasil meraih penghargaan dalam IABC Indonesia Awards 2026. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Komitmen Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan menghadirkan komunikasi yang berdampak mendapat pengakuan di tingkat nasional. Dua program unggulan BI Sulsel, yakni Non Stop Education (NSE) CBP Rupiah dan Green PUR, berhasil meraih penghargaan dalam IABC Indonesia Awards 2026.

Dua program tersebut meraih penghargaan pada kategori ICOMMA (Impactful Communications Awards). NSE CBP Rupiah meraih Top 10 dan Awards of Excellence pada subkategori Best Public Interest Communications, sedangkan Green PUR memperoleh Awards of Excellence pada subkategori Best Sustainability Communications.

Penghargaan tersebut diterima Firman Hidayat, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai representasi KPw BI Sulsel.

Pencapaian ini menjadi pengakuan atas pendekatan komunikasi yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat, perubahan pemahaman dan perilaku, serta menghasilkan dampak yang dapat diukur.

Untuk Penghargaan Top 10 dan Awards of Excellence diraih program Non Stop Education (NSE) CBP Rupiah pada subkategori Best Public Interest Communications.

Program tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang menjadikan persoalan nyata di masyarakat sebagai titik awal untuk membangun solusi komunikasi yang sistematis dan terukur.

Edukasi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi diperluas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai bagian dari ekosistem literasi Rupiah.

Guru, agen, komunitas, serta mitra lintas sektor dilibatkan untuk menciptakan efek pengganda (multiplier effect) sehingga pesan mengenai Rupiah dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui strategi komunikasi terintegrasi di berbagai kanal serta inovasi digital CBPedia. Pada saat yang sama, keberlanjutan program didorong melalui integrasi literasi Rupiah ke dalam pendidikan formal.

Dampaknya tercermin dalam sejumlah capaian terukur. Program NSE CBP Rupiah mencatat 85,02 juta interaksi digital, melibatkan 2.190 guru, serta menghasilkan tingkat pemahaman sebesar 87 persen terhadap metode 3D.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa komunikasi program tidak semata-mata membangun awareness, tetapi diarahkan untuk mendorong perubahan pemahaman dan perilaku hingga menghasilkan outcome dan impact.

Dengan pendekatan tersebut, NSE CBP Rupiah memenuhi sejumlah elemen penting komunikasi kepentingan publik, mulai dari keberangkatan program dari persoalan publik, penggunaan strategi komunikasi terintegrasi, pelibatan masyarakat sebagai change agent, pemanfaatan inovasi digital, hingga keberlanjutan program.

Sementara itu, Green PUR meraih Awards of Excellence pada subkategori Best Sustainability Communications.

Program ini menghadirkan pendekatan komunikasi keberlanjutan melalui konsep “waste to product”, yakni mengolah limbah racik uang kertas (LRUK) menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus memberikan nilai tambah dari aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Green PUR juga menerapkan strategi komunikasi PESO (Paid, Earned, Shared, Owned Media) untuk memperluas jangkauan pesan dan membangun keberlanjutan program.

Pada sisi Paid Media, program masih berada dalam tahap penjajakan. Sementara itu, strategi Earned Media antara lain diwujudkan melalui pemameran produk dalam forum ilmiah di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Adapun Shared Media diperkuat melalui publikasi dan perkembangan program yang dilakukan oleh media UNM dan CBP. Sementara strategi Owned Media dijalankan melalui serangkaian pertemuan dan komunikasi intensif dengan pihak UNM untuk memastikan keberlanjutan sekaligus penyempurnaan program.

Dari sisi implementasi, Green PUR telah menghasilkan satu pilot project selama empat bulan melalui kolaborasi dengan UNM. Kolaborasi tersebut menghasilkan tiga prototipe, yakni briket arang, biochar, dan karbon aktif.

Program ini juga menghasilkan sejumlah manfaat terukur. Sedikitnya enam pemangku kepentingan telah merasakan manfaat dari prototipe briket, sementara kegiatan seminar Dies Natalis UNM melibatkan sekitar 600 peserta, dengan lebih dari 80 persen peserta memahami materi yang disampaikan.

Pengembangan Green PUR selanjutnya diarahkan untuk membangun model pemanfaatan LRUK yang dapat diterapkan secara lebih luas.

Hingga tahap yang dilaporkan, terdapat 100 ton LRUK yang siap diproduksi menjadi berbagai produk. Program tersebut juga membuka potensi kolaborasi dengan dua hingga tiga UMKM, dengan estimasi nilai keuntungan sekitar Rp100 juta bagi UMKM yang terlibat.

Melalui capaian tersebut, Green PUR menunjukkan bahwa komunikasi keberlanjutan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi dan sosial, sekaligus mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk yang lebih bernilai.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru