Semen Tonasa Perkuat Budaya Inovasi untuk Ciptakan Nilai Bisnis

Jum'at, 30 Okt 2026 19:38
Semen Tonasa Perkuat Budaya Inovasi untuk Ciptakan Nilai Bisnis
PT Semen Tonasa melaksanakan kegiatan Leaders Cafe bertajuk “From Ideas to Impact: Turning Innovation into Business Value” di Auditorium Kantor Pusat PT Semen Tonasa. Foto/Istimewa
Comment
Share
PANGKEP - Inovasi tidak cukup berhenti pada gagasan. Lebih dari itu, setiap ide harus mampu menjawab tantangan perusahaan, meningkatkan efisiensi, dan memberikan nilai tambah bagi bisnis. Semangat inilah yang didorong PT Semen Tonasa melalui kegiatan Leaders Cafe bertajuk “From Ideas to Impact: Turning Innovation into Business Value” di Auditorium Kantor Pusat PT Semen Tonasa, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Wakil Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Andriano Hosny Panangian, dan Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, sebagai narasumber. Acara dibuka Direktur Utama PT Semen Tonasa, Anis, serta dihadiri jajaran direksi, manajemen, direksi perusahaan afiliasi, dan jajaran Band 1, 2, dan 3 PT Semen Tonasa.

Dalam sambutannya, Anis menegaskan bahwa tidak semua ide dapat berkembang menjadi inovasi. Begitu pula, tidak semua inovasi mampu menghasilkan nilai bisnis.

Menurutnya, inovasi yang memberikan business value harus selaras dengan strategi perusahaan, memiliki perhitungan biaya dan manfaat yang rasional, serta mampu menjawab persoalan nyata dalam operasional maupun bisnis perusahaan.

Karena itu, ia mendorong perubahan paradigma dalam membangun budaya inovasi. Orientasi yang selama ini cenderung mengejar kuantitas ide perlu diarahkan pada kualitas dan dampak yang terukur.

Inovasi, lanjutnya, tidak boleh sekadar menjadi pemenuhan target administratif tahunan. Setiap gagasan harus memiliki tujuan yang jelas dan berkontribusi terhadap penyelesaian tantangan bisnis perusahaan.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Direktur Utama SIG, Andriano Hosny Panangian, mengingatkan bahwa inovasi bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tantangan industri yang semakin kompleks.

Ia menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi industri semen, mulai dari volatilitas harga energi, kompleksitas logistik, tuntutan dekarbonisasi, hingga kondisi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar.

Menghadapi situasi tersebut, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan efisiensi operasional. Transformasi inovasi juga perlu diarahkan agar lebih berorientasi pada kebutuhan pasar (market-centric).

Andriano menyebut SIG memiliki dua keunggulan kompetitif yang dapat menjadi modal untuk memperkuat inovasi, yakni jaringan distribusi yang luas di seluruh Indonesia serta struktur keuangan yang kuat.

Kedua kekuatan tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan inovasi berbasis pasar, memperkuat daya saing, sekaligus menciptakan nilai bisnis yang lebih besar.

Pada sesi berikutnya, Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menekankan bahwa inovasi selalu berawal dari manusia (innovation starts with people). Karena itu, budaya inovasi perlu dibangun dengan melibatkan seluruh karyawan, bukan hanya menjadi tanggung jawab kelompok atau unit tertentu.

Ia memperkenalkan siklus inovasi melalui tiga tahapan, yakni challenge, create, dan compound. Ketiganya menggambarkan proses menantang kebiasaan lama, melahirkan gagasan baru, serta mengembangkan dan mereplikasi inovasi agar dampaknya semakin luas bagi perusahaan.

Hadi juga memaparkan capaian inovasi SIG sepanjang 2026. Dari 1.191 ide yang masuk, sebanyak 52 persen telah berhasil diimplementasikan menjadi inovasi. Implementasi tersebut menghasilkan nilai bisnis mencapai Rp308 miliar, baik melalui peningkatan pendapatan maupun penghindaran biaya (cost avoidance).

Menurut Hadi, pencapaian tersebut tidak terlepas dari karakter yang perlu terus ditumbuhkan dalam diri setiap karyawan, yakni rasa ingin tahu (curiosity), keberanian (courage), dan rasa tanggung jawab untuk mengambil peran (taking ownership).

Di sisi lain, pemimpin memiliki peran penting sebagai fasilitator yang membuka ruang bagi lahirnya gagasan, mendorong kolaborasi lintas departemen, serta memastikan setiap inovasi dapat diwujudkan menjadi hasil yang terukur.

Melalui Leaders Cafe ini, Semen Tonasa mendorong agar budaya inovasi tidak berhenti pada banyaknya ide yang dihasilkan. Lebih penting, gagasan tersebut harus mampu diwujudkan menjadi solusi, meningkatkan daya saing, dan menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru