Pemkot Makassar Pastikan PKL Losari Tak Digusur, Hanya Ditata
Jum'at, 03 Apr 2026 05:15
DPRD Kota Makassar menerima aspirasi PKL Pantai Losari di halaman Kantor Sementara DPRD Kota Makassar (eks Kantor Perumnas Regional VII), Jalan Hertasning, Kamis (2/4/2026). Foto: Ist
MAKASSAR - DPRD Kota Makassar menerima aspirasi Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) terkait keresahan pedagang asongan di kawasan Anjungan Pantai Losari. Pertemuan berlangsung di Kantor Sementara DPRD Kota Makassar (eks Kantor Perumnas Regional VII), Jalan Hertasning, Kamis (2/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pariwisata menegaskan bahwa kebijakan yang diambil merupakan penataan kawasan, bukan penggusuran paksa.
Anggota Komisi A DPRD Kota Makassar, Andi Hadi Ibrahim Baso, menyampaikan aspirasi pedagang kaki lima (PKL) yang menggantungkan hidup di kawasan Pantai Losari. Ia menjelaskan, keresahan muncul setelah para pedagang menerima Surat Peringatan ke-2 (SP2) dari Dinas Pariwisata terkait penataan lokasi berjualan.
Menurutnya, kedatangan para pedagang ke DPRD bertujuan memperoleh kepastian mengenai keberlangsungan mata pencaharian mereka.
"Alhamdulillah tadi sudah dipertemukan dengan Kepala Dinas Pariwisata yang intinya tidak ada penggusuran. Pemkot Makassar ingin menata bagaimana kota kita ini tidak semrawut. Adanya penataan ini bukan berarti menghilangkan pekerjaan para pedagang kaki lima yang selama ini mereka berjualan di sekitar Losari," jelas Hadi.
Ia juga meluruskan isu penggusuran yang disebut-sebut akan terjadi pada Senin (6/4/2026). Berdasarkan hasil pertemuan antara DPRD, perwakilan pedagang, dan Dinas Pariwisata, pemerintah tidak akan melakukan penggusuran paksa.
"Selama belum ada tempat yang mereka tempati, mereka masih bisa berjualan. Jadi pada prinsipnya, pemerintah ini telah memikirkan sejauh mungkin juga untuk tidak langsung memutus atau menghilangkan apa yang menjadi pekerjaan pedagang kaki lima selama ini di area Losari," tuturnya.
Hadi menambahkan, penataan kawasan Pantai Losari akan diprioritaskan bagi pedagang asongan. Namun, keberadaan kuliner khas seperti pisang epe tetap dipertahankan sebagai ikon wisata Makassar.
"Ciri khas Makassar tidak bisa hilang di Losari itu, yaitu adanya jualan pisang epe dan ini sudah berjalan lama di situ. Masyarakat di luar Makassar sudah tahu bahwasanya jualan tersebut ada di Pantai Losari. Jadi memang untuk ciri khas itu tidak boleh dihilangkan karena itu yang menjadi jualan kita di luar daerah Makassar," lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Akhmad Hendra Hakamuddin, menegaskan bahwa langkah pemerintah merupakan bagian dari program penataan kota secara menyeluruh.
Ia menyebut, kebijakan di kawasan Anjungan Pantai Losari bertujuan meningkatkan kualitas usaha masyarakat agar lebih tertata dan layak.
"Kita lihat beberapa langkah sudah dilakukan oleh pemerintah, termasuk di Anjungan. Saya tidak sebut yang di luar, yang menjadi tugas pokok dan fungsi ruang lingkup tanggung jawab Dinas Pariwisata adalah di sepanjang Anjungan Pantai Losari," katanya.
Menanggapi kekhawatiran pedagang, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merampas hak masyarakat.
"Jadi mungkin saya juga koreksi sedikit bahwa agak jauh dengan penggusuran, negatif sekali kedengarannya. Tentu saja pemerintah juga tidak zalim kepada masyarakatnya. Sebaliknya, masyarakat harus mengurus rakyatnya, seperti tadi kita bilang, tidak boleh ada yang terzalimi, jangan sampai ada yang tidak makan," jelas Hendra.
Ia meminta para pedagang tetap tenang dan menunggu pengumuman resmi terkait lokasi penempatan baru, yang disiapkan untuk mendukung penataan jangka panjang.
Di sisi lain, Ketua Umum SRMI, Wahidah Baharuddin, menyampaikan bahwa pihaknya kembali mendatangi DPRD bersama perwakilan pedagang untuk memperjuangkan kejelasan nasib mereka.
Ia menyebut, ini merupakan kunjungan ketiga yang dilakukan SRMI terkait persoalan tersebut.
"Jadi kedatangan ini memang untuk menyampaikan aspirasi bahwa ada rencana dari pemerintah kota berdasarkan surat teguran SP 1 dari Dinas Pariwisata yang menyatakan akan melakukan penggusuran terhadap teman-teman asongan di Pantai Losari," katanya.
Wahidah juga mempertanyakan dasar penertiban pedagang dan menekankan pentingnya transparansi kebijakan.
"Tapi kalau kita lihat sama-sama bahwa teman-teman di Pantai Losari itu sama sekali tidak menggunakan trotoar ataupun badan jalan. Tapi memang dia menggunakan space yang sebelumnya memang sudah disiapkan oleh pemerintahan sebelumnya," bebernya.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM.
"Karena yang bisa bertahan hidup itu dalam posisi seperti ini hanyalah pedagang-pedagang kaki lima atau pedagang-pedagang mikro menengah. Memang ada opsi yang dikasih oleh pemerintah kota ditempatkan di dua tempat," paparnya.
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pariwisata menegaskan bahwa kebijakan yang diambil merupakan penataan kawasan, bukan penggusuran paksa.
Anggota Komisi A DPRD Kota Makassar, Andi Hadi Ibrahim Baso, menyampaikan aspirasi pedagang kaki lima (PKL) yang menggantungkan hidup di kawasan Pantai Losari. Ia menjelaskan, keresahan muncul setelah para pedagang menerima Surat Peringatan ke-2 (SP2) dari Dinas Pariwisata terkait penataan lokasi berjualan.
Menurutnya, kedatangan para pedagang ke DPRD bertujuan memperoleh kepastian mengenai keberlangsungan mata pencaharian mereka.
"Alhamdulillah tadi sudah dipertemukan dengan Kepala Dinas Pariwisata yang intinya tidak ada penggusuran. Pemkot Makassar ingin menata bagaimana kota kita ini tidak semrawut. Adanya penataan ini bukan berarti menghilangkan pekerjaan para pedagang kaki lima yang selama ini mereka berjualan di sekitar Losari," jelas Hadi.
Ia juga meluruskan isu penggusuran yang disebut-sebut akan terjadi pada Senin (6/4/2026). Berdasarkan hasil pertemuan antara DPRD, perwakilan pedagang, dan Dinas Pariwisata, pemerintah tidak akan melakukan penggusuran paksa.
"Selama belum ada tempat yang mereka tempati, mereka masih bisa berjualan. Jadi pada prinsipnya, pemerintah ini telah memikirkan sejauh mungkin juga untuk tidak langsung memutus atau menghilangkan apa yang menjadi pekerjaan pedagang kaki lima selama ini di area Losari," tuturnya.
Hadi menambahkan, penataan kawasan Pantai Losari akan diprioritaskan bagi pedagang asongan. Namun, keberadaan kuliner khas seperti pisang epe tetap dipertahankan sebagai ikon wisata Makassar.
"Ciri khas Makassar tidak bisa hilang di Losari itu, yaitu adanya jualan pisang epe dan ini sudah berjalan lama di situ. Masyarakat di luar Makassar sudah tahu bahwasanya jualan tersebut ada di Pantai Losari. Jadi memang untuk ciri khas itu tidak boleh dihilangkan karena itu yang menjadi jualan kita di luar daerah Makassar," lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Akhmad Hendra Hakamuddin, menegaskan bahwa langkah pemerintah merupakan bagian dari program penataan kota secara menyeluruh.
Ia menyebut, kebijakan di kawasan Anjungan Pantai Losari bertujuan meningkatkan kualitas usaha masyarakat agar lebih tertata dan layak.
"Kita lihat beberapa langkah sudah dilakukan oleh pemerintah, termasuk di Anjungan. Saya tidak sebut yang di luar, yang menjadi tugas pokok dan fungsi ruang lingkup tanggung jawab Dinas Pariwisata adalah di sepanjang Anjungan Pantai Losari," katanya.
Menanggapi kekhawatiran pedagang, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merampas hak masyarakat.
"Jadi mungkin saya juga koreksi sedikit bahwa agak jauh dengan penggusuran, negatif sekali kedengarannya. Tentu saja pemerintah juga tidak zalim kepada masyarakatnya. Sebaliknya, masyarakat harus mengurus rakyatnya, seperti tadi kita bilang, tidak boleh ada yang terzalimi, jangan sampai ada yang tidak makan," jelas Hendra.
Ia meminta para pedagang tetap tenang dan menunggu pengumuman resmi terkait lokasi penempatan baru, yang disiapkan untuk mendukung penataan jangka panjang.
Di sisi lain, Ketua Umum SRMI, Wahidah Baharuddin, menyampaikan bahwa pihaknya kembali mendatangi DPRD bersama perwakilan pedagang untuk memperjuangkan kejelasan nasib mereka.
Ia menyebut, ini merupakan kunjungan ketiga yang dilakukan SRMI terkait persoalan tersebut.
"Jadi kedatangan ini memang untuk menyampaikan aspirasi bahwa ada rencana dari pemerintah kota berdasarkan surat teguran SP 1 dari Dinas Pariwisata yang menyatakan akan melakukan penggusuran terhadap teman-teman asongan di Pantai Losari," katanya.
Wahidah juga mempertanyakan dasar penertiban pedagang dan menekankan pentingnya transparansi kebijakan.
"Tapi kalau kita lihat sama-sama bahwa teman-teman di Pantai Losari itu sama sekali tidak menggunakan trotoar ataupun badan jalan. Tapi memang dia menggunakan space yang sebelumnya memang sudah disiapkan oleh pemerintahan sebelumnya," bebernya.
Ia menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM.
"Karena yang bisa bertahan hidup itu dalam posisi seperti ini hanyalah pedagang-pedagang kaki lima atau pedagang-pedagang mikro menengah. Memang ada opsi yang dikasih oleh pemerintah kota ditempatkan di dua tempat," paparnya.
(MAN)
Berita Terkait
News
Pemkot Makassar Sabet Penghargaan Creative Financing, Dapat Insentif Rp3 M
Pemkot Makassar meraih penghargaan Terbaik I Kategori Creative Financing Regional Sulawesi Tahun 2026 pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 yang diselenggarakan Kemendagri.
Sabtu, 30 Mei 2026 09:46
News
Tarif Parkir MHM 2026 Dipatok Flat, Motor Rp3.000 dan Mobil Rp5.000
Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Parkir Makassar Raya menyatakan kesiapan mengawal pelaksanaan Makassar Half Marathon (MHM) 2026. Sejumlah personel akan disiagakan di titik-titik strategis untuk memastikan pengelolaan parkir berjalan tertib selama acara berlangsung.
Jum'at, 29 Mei 2026 19:16
News
Respons Aduan Warga, Pemerintah Kecamatan Rappocini Bersihkan Drainase dan Pedestrian
Pemerintah Kota Makassar melalui Kecamatan Rappocini bersama Kelurahan Tidung menindaklanjuti laporan masyarakat terkait kondisi drainase dan tumpukan sampah di bawah Tol Layang Jalan AP Pettarani.
Jum'at, 29 Mei 2026 14:13
News
Kasus Pembunuhan di Tallo Bikin Legislator Dorong Optimalisasi Pemasangan CCTV
Kasus pembunuhan terhadap NU, anak perempuan berusia 12 tahun di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, memicu keprihatinan berbagai pihak.
Kamis, 28 Mei 2026 18:51
Sports
MHM 2026 Siap Digelar, Wali Kota Appi Prediksi Perputaran Uang Capai Ratusan Miliar
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan dukungan penuh dan apresiasi terhadap pelaksanaan Makassar Half Marathon (MHM) 2026 sebagai event strategis bagi pengembangan olahraga, pariwisata, dan citra kota.
Kamis, 28 Mei 2026 16:09
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Rangkaian Milad ke-72 UMI, FSIKP Himpun 255 Alumni dalam Silatnas dan Muskom
2
Angkatan IX Zarchapera SMP Telkom Makassar Sukses Gelar TSFC Vol. 5, Libatkan 68 Tim SD
3
ITB Nobel Indonesia Gelar Pelatihan CV ATS dan Teknik Wawancara bagi Calon Lulusan
4
Kinerja Solid di Awal 2026, Pendapatan Telkom Tumbuh Jadi Rp37,2 Triliun
5
Pemkot Makassar Sabet Penghargaan Creative Financing, Dapat Insentif Rp3 M
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Rangkaian Milad ke-72 UMI, FSIKP Himpun 255 Alumni dalam Silatnas dan Muskom
2
Angkatan IX Zarchapera SMP Telkom Makassar Sukses Gelar TSFC Vol. 5, Libatkan 68 Tim SD
3
ITB Nobel Indonesia Gelar Pelatihan CV ATS dan Teknik Wawancara bagi Calon Lulusan
4
Kinerja Solid di Awal 2026, Pendapatan Telkom Tumbuh Jadi Rp37,2 Triliun
5
Pemkot Makassar Sabet Penghargaan Creative Financing, Dapat Insentif Rp3 M