Di Antara Kabut dan Jurang: Cerita 30 Jam Tim SAR Evakuasi Korban ATR

Selasa, 20 Jan 2026 19:19
Di Antara Kabut dan Jurang: Cerita 30 Jam Tim SAR Evakuasi Korban ATR
Proses evakuasi jenazah korban ATR 42-500 di Bawakaraeng. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAROS - Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, dilakukan melalui operasi berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman jurang mencapai ratusan meter.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan melakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan.

“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif.

Sebanyak 10 personel dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.

Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang terlibat langsung dalam operasi, Rusmadi, mengungkapkan kondisi berat yang dihadapi tim di lapangan. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada pukul 13.43 WITA dalam posisi tersangkut di dahan pohon.

Setelah penemuan korban, tim melakukan proses pengemasan jenazah selama kurang lebih satu jam. Proses tersebut terkendala karena posisi korban berada di kemiringan sekitar 30 derajat dan tepat di bibir tebing.

Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter. Namun keterbatasan tenaga dan peralatan, ditambah hujan deras yang terus mengguyur lokasi, membuat tim melakukan evaluasi lapangan.

“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.

Proses evakuasi ke bawah berlangsung sekitar tiga jam. Namun kondisi cuaca terus memburuk dengan hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin yang membatasi pergerakan tim. Atas pertimbangan keselamatan, tim memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.

“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.

Ia menambahkan, pada siang hari berikutnya, Senin (19/1), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan aspek keselamatan personel tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.

“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.

Tim kedua kemudian melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan pada Selasa (20/1/2026). Selanjutnya dilakukan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju kampung baru melalui jalan setapak sejauh sekitar 15 kilometer, melewati medan punggungan dan sungai.

Evakuasi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer menuju jalan poros Kecamatan Cenrana. Dari lokasi tersebut, jenazah direncanakan dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk diserahkan kepada pihak Disaster Victim Identification (DVI).

Hingga berita ini diturunkan, korban pertama masih berada di Kampung Lampeso.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru