Opini
Dari Suara ke Harga: Renungan tentang Demokrasi dan Amanah
Minggu, 15 Feb 2026 08:45
Ketua Bawaslu Pangkep, Samsir Salam. Foto: dok/istimewa
Oleh Samsir SalamKetua Bawaslu Kabupaten Pangkep dan Kepulauan
*Catatan ini hadir sebagai upaya Konsolidasi Demokrasi Bawaslu Pasca Pemilu dalam rangka perbaikan demokrasi.
DEMOKRASI lahir dari keyakinan bahwa suara rakyat memiliki makna yang luhur. Demokrasi bukan sekadar angka dalam perhitungan politik, melainkan ekspresi harapan dan tanggung jawab warga negara terhadap masa depan bersama. Dalam perspektif agama, suara itu dapat dipahami sebagai amanah—sesuatu yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan sesama manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Dalam perjalanan demokrasi kita, terdapat dinamika yang patut menjadi bahan perenungan bersama. Praktik politik yang bersifat transaksional, dalam berbagai bentuknya, berpotensi menggeser orientasi demokrasi dari ruang pertukaran gagasan menuju pendekatan yang lebih pragmatis. Situasi ini tidak selalu lahir dari niat yang keliru, tetapi sering kali dari kebiasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa disadari dampak jangka panjangnya.
Di hulu, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara pemilih memaknai pilihannya. Pertimbangan program, kapasitas, dan integritas berisiko tersisih oleh pertimbangan sesaat. Padahal, demokrasi yang sehat mensyaratkan pilihan yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan atau ketergantungan. Ketika ruang refleksi menyempit, pemilu berisiko dipersepsikan sekadar sebagai rutinitas, bukan sebagai momentum menentukan arah kehidupan bersama.
Di hilir, tantangannya tidak kalah besar. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang kurang sehat berpotensi menghadapi beban kepercayaan publik. Bukan karena individu semata, melainkan karena ekspektasi yang menyertai proses tersebut. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas kebijakan dan pelayanan publik, serta kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi itu sendiri.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, saya memandang bahwa tugas ini bukan hanya soal memastikan tahapan berjalan sesuai aturan, tetapi juga merawat makna demokrasi itu sendiri. Pengawasan, pencegahan, dan edukasi pemilih merupakan ikhtiar untuk menjaga agar proses demokrasi tetap berada dalam koridor kejujuran dan keadilan. Namun saya juga menyadari, sekuat apa pun aturan, demokrasi tidak akan tumbuh tanpa kesadaran para pelakunya.
Di titik inilah nilai-nilai keagamaan dan kebijaksanaan para tokoh bangsa menjadi relevan sebagai pengingat. Mohammad Hatta pernah menegaskan bahwa demokrasi memerlukan kejujuran dan tanggung jawab moral agar tidak kehilangan ruhnya. Sementara Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah cara memanusiakan manusia.
Karena itu, upaya menjaga demokrasi dari praktik transaksional sebaiknya dipahami sebagai ikhtiar bersama, bukan beban satu pihak. Peserta pemilu dituntut berkompetisi secara bermartabat, pemilih diajak memaknai suaranya sebagai amanah, dan penyelenggara pemilu terus berupaya menjaga integritas serta kepercayaan publik.
Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering kita memilih, melainkan dari kesadaran dan nilai yang menyertai pilihan itu. Selama suara masih diperlakukan sebagai amanah—bukan semata sebagai harga—demokrasi memiliki ruang untuk tumbuh secara sehat, beradab, dan memberi kebaikan bagi semua.
*Catatan ini hadir sebagai upaya Konsolidasi Demokrasi Bawaslu Pasca Pemilu dalam rangka perbaikan demokrasi.
DEMOKRASI lahir dari keyakinan bahwa suara rakyat memiliki makna yang luhur. Demokrasi bukan sekadar angka dalam perhitungan politik, melainkan ekspresi harapan dan tanggung jawab warga negara terhadap masa depan bersama. Dalam perspektif agama, suara itu dapat dipahami sebagai amanah—sesuatu yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan sesama manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Dalam perjalanan demokrasi kita, terdapat dinamika yang patut menjadi bahan perenungan bersama. Praktik politik yang bersifat transaksional, dalam berbagai bentuknya, berpotensi menggeser orientasi demokrasi dari ruang pertukaran gagasan menuju pendekatan yang lebih pragmatis. Situasi ini tidak selalu lahir dari niat yang keliru, tetapi sering kali dari kebiasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa disadari dampak jangka panjangnya.
Di hulu, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara pemilih memaknai pilihannya. Pertimbangan program, kapasitas, dan integritas berisiko tersisih oleh pertimbangan sesaat. Padahal, demokrasi yang sehat mensyaratkan pilihan yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan atau ketergantungan. Ketika ruang refleksi menyempit, pemilu berisiko dipersepsikan sekadar sebagai rutinitas, bukan sebagai momentum menentukan arah kehidupan bersama.
Di hilir, tantangannya tidak kalah besar. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang kurang sehat berpotensi menghadapi beban kepercayaan publik. Bukan karena individu semata, melainkan karena ekspektasi yang menyertai proses tersebut. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas kebijakan dan pelayanan publik, serta kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi itu sendiri.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, saya memandang bahwa tugas ini bukan hanya soal memastikan tahapan berjalan sesuai aturan, tetapi juga merawat makna demokrasi itu sendiri. Pengawasan, pencegahan, dan edukasi pemilih merupakan ikhtiar untuk menjaga agar proses demokrasi tetap berada dalam koridor kejujuran dan keadilan. Namun saya juga menyadari, sekuat apa pun aturan, demokrasi tidak akan tumbuh tanpa kesadaran para pelakunya.
Di titik inilah nilai-nilai keagamaan dan kebijaksanaan para tokoh bangsa menjadi relevan sebagai pengingat. Mohammad Hatta pernah menegaskan bahwa demokrasi memerlukan kejujuran dan tanggung jawab moral agar tidak kehilangan ruhnya. Sementara Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah cara memanusiakan manusia.
Karena itu, upaya menjaga demokrasi dari praktik transaksional sebaiknya dipahami sebagai ikhtiar bersama, bukan beban satu pihak. Peserta pemilu dituntut berkompetisi secara bermartabat, pemilih diajak memaknai suaranya sebagai amanah, dan penyelenggara pemilu terus berupaya menjaga integritas serta kepercayaan publik.
Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering kita memilih, melainkan dari kesadaran dan nilai yang menyertai pilihan itu. Selama suara masih diperlakukan sebagai amanah—bukan semata sebagai harga—demokrasi memiliki ruang untuk tumbuh secara sehat, beradab, dan memberi kebaikan bagi semua.
(GUS)
Berita Terkait
News
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Di sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.
Rabu, 19 Agu 2026 20:52
News
Memaknai Kemerdekaan: Pendidikan untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur
SETIAP 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala untuk mengenang pengorbanan para founding fathers dan para pahlawan yang dengan nasionalisme dan patriotisme telah mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan.
Senin, 17 Agu 2026 10:59
News
Paradoks Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik, Membaca Arah Kekayaan di Era Turbulensi
Di tengah eskalasi konflik geopolitik yang terus memanas, khususnya ketegangan di jalur perdagangan energi vital seperti Selat Hormuz, pasar keuangan global sering kali merespons dengan cara yang sulit diprediksi.
Senin, 10 Agu 2026 09:33
News
Ketika yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya
Di era teknologi, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal, berbagai penelitian menyampaikan pesan yang sama.
Senin, 03 Agu 2026 17:40
News
Sekolah Bukan Pabrik Nilai
Saya sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang setiap selesai ujian hanya menunggu satu hal: penilaian.
Senin, 03 Agu 2026 09:37
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Leadership Camp Ar-Rahmah Digelar di Rindam Pakatto
2
Makassar Jadi Kota Perdana Teras Perwira 2026, Grab Bekali UMKM Strategi Digital
3
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
4
BMJ TK Islam Athirah Bukit Baruga Punya Pengurus Baru Periode 2026–2028
5
Pemkot Makassar Digitalisasi Retribusi Sampah Lewat Lontara Plus
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Leadership Camp Ar-Rahmah Digelar di Rindam Pakatto
2
Makassar Jadi Kota Perdana Teras Perwira 2026, Grab Bekali UMKM Strategi Digital
3
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
4
BMJ TK Islam Athirah Bukit Baruga Punya Pengurus Baru Periode 2026–2028
5
Pemkot Makassar Digitalisasi Retribusi Sampah Lewat Lontara Plus