Opini

Dari Riuh ke Ruh: Menemukan Pusat Diri dalam Salat Khusyuk

Selasa, 24 Feb 2026 06:33
Dari Riuh ke Ruh: Menemukan Pusat Diri dalam Salat Khusyuk
Dr Muh Ikhsan AR M Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari. Foto: Istimewa
Comment
Share
Oleh: Dr Muh Ikhsan AR M Ag
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)

Di zaman ketika notifikasi lebih sering terdengar daripada suara hati, manusia modern hidup dalam gelombang riuh yang nyaris tak bertepi. Media sosial, arus informasi, tekanan produktivitas, dan kompetisi citra membentuk ruang batin yang gaduh. Kita terhubung ke mana-mana, tetapi sering terputus dari diri sendiri. Dalam situasi inilah, salat khusyuk menjadi jalan pulang—dari riuh menuju ruh.

Al-Qur’an memberi penanda yang tegas:

*قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰشِعُونَ*

_Qad aflaha al-mu’minūn, alladzīna hum fī ṣalātihim khāsyi‘ūn_“Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Keberuntungan (_al-falāḥ_) dalam ayat ini bukan sekadar sukses duniawi, tetapi kemenangan eksistensial—menemukan pusat diri yang sejati. Khusyuk bukan hanya menundukkan kepala, melainkan menundukkan ego. Ia adalah kesadaran penuh bahwa kita sedang berdiri di hadapan Yang Maha Hadir.

Riuh sebagai Krisis Pusat

Filsuf Muslim kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr menyebut krisis modern sebagai krisis kehilangan pusat spiritual. Dunia bergerak cepat, tetapi manusia kehilangan poros batinnya. Kita tahu banyak hal, tetapi lupa siapa diri kita. Dalam bahasa tasawuf, riuh adalah bentuk keterasingan dari ruh.

Salat hadir sebagai pemulihan pusat. Dalam takbir, kita mengafirmasi: _Allāhu Akbar_—Allah Maha Besar. Kalimat ini bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi deklarasi pembebasan: bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah, termasuk kecemasan, ambisi, dan algoritma yang membentuk persepsi kita.

Khusyuk: Hadirnya Hati

Menurut Imam Al-Ghazali dalam _Ihya’ ‘Ulumuddin_, inti khusyuk adalah _hudūr al-qalb_—hadirnya hati. Tubuh boleh berdiri, tetapi jika hati mengembara, salat kehilangan ruhnya. Di sinilah relevansi salat dalam dunia digital: ia melatih fokus mendalam (deep attention) di tengah budaya perhatian dangkal (shallow attention).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebut bahwa kualitas salat seseorang sebanding dengan kadar kehadiran hatinya. Ada yang salatnya hanya gerak tubuh, ada pula yang salatnya menjadi mi‘raj ruhani. Maka khusyuk adalah perjalanan menaiki tangga kesadaran.

Sementara Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa khusyuk adalah ruh shalat. Tanpanya, shalat ibarat jasad tanpa nyawa. Dunia modern mungkin tidak bisa kita hentikan riuhnya, tetapi kita bisa menghadirkan ketenangan di dalamnya.

Menemukan Pusat Diri

Dalam perspektif Buya Hamka, khusyuk adalah “diamnya hati dari selain Allah.” Ketika hati diam, kita mendengar kembali suara fitrah. Dalam sujud, manusia mencapai puncak kemuliaannya justru ketika ia merendah. Paradoks spiritual ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kepasrahan.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa shalat adalah dzikir—mengingat Allah dengan kesadaran penuh. Ingatan ini bukan nostalgia, tetapi aktualisasi. Mengingat Allah berarti menempatkan hidup dalam orientasi Ilahi.

Bahkan dalam pendekatan yang lebih transformatif, Nasaruddin Umar melihat shalat sebagai pembentuk etika sosial. Khusyuk yang benar akan melahirkan kejujuran, empati, dan keadilan. Ia tidak berhenti di sajadah, tetapi menjalar ke pasar, kantor, dan ruang digital.

Adapun Muhammad Sabri memaknai shalat sebagai proses penyucian kesadaran. Dalam khusyuk, manusia menyadari dirinya bagian dari tasbih kosmik—bahwa seluruh semesta bertasbih kepada-Nya. Shalat menjadi perjumpaan mikro-kosmos (manusia) dengan Makro-Kosmos (Tuhan).

Dari Riuh ke Ruh

Kita mungkin tidak bisa mematikan dunia, tetapi kita bisa mematikan sejenak distraksi sebelum salat. Kita mungkin tidak bisa menghentikan algoritma, tetapi kita bisa menghadirkan murāqabah—kesadaran bahwa Allah melihat kita.

Salat khusyuk adalah revolusi sunyi. Ia tidak gaduh, tetapi menggetarkan. Ia tidak viral, tetapi vital. Ia bukan pelarian dari dunia, melainkan penataan kembali dunia dalam hati.

Maka, setiap kali kita berdiri menghadap kiblat, sejatinya kita sedang mencari pusat diri. Dari riuh menuju ruh. Dari pecah menjadi utuh. Dari lupa menjadi ingat.

Dan mungkin, di antara takbir dan salam, kita menemukan kembali siapa diri kita sebenarnya: hamba yang kembali pulang.

_Wallahu A'lam bi al-Shawwab_
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru