Opini
Ramadhan dan Cermin Ruhani: Meniti Jalan Pulang Melalui Muhasabah
Sabtu, 21 Feb 2026 10:47
Dr Muh Ikhsan AR M Ag, Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari. Foto: Istimewa
Oleh: Dr Muh Ikhsan AR M Ag(Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari)
RAMADHAN selalu datang seperti tamu agung, tetapi ia tidak pernah mengetuk pintu yang sama dua kali. Ia hadir sebagai waktu yang berbeda, suasana yang berbeda, dan jiwa yang berbeda. Sebab sejatinya, Ramadhan bukan hanya perubahan kalender, melainkan undangan untuk bercermin. Bercermin bukan pada wajah, tetapi pada ruhani.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kehilangan dirinya sendiri. Kita sibuk memperbaiki citra, tetapi lalai memperbaiki batin. Kita terampil menghitung keuntungan dunia, tetapi jarang menghitung kualitas amal. Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya: ia adalah bulan muhasabah—bulan menghitung sebelum dihitung.
Al-Qur’an mengingatkan:
*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ* _Yā ayyuhallażīna āmanū ittaqullāha wal-tanzur nafsum mā qaddamat lighad.._
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (kiamat).”
Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi panggilan eksistensial. “Hari esok” bukan hanya esok pagi, tetapi esok yang lebih panjang—akhirat. Ramadhan adalah simulasi kecil menuju hari besar itu. Ia melatih kita menahan, menimbang, dan menyadari.
Puasa sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183, bertujuan melahirkan takwa. Takwa bukan hanya takut, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah hadir dalam setiap detik hidup. Dalam perspektif tasawuf, takwa adalah kejernihan hati; ketika jiwa tidak lagi dikuasai nafsu, melainkan dipimpin oleh nur Ilahi.
Ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi mengosongkan hati dari selain Allah. Lapar hanyalah pintu; yang dicari adalah kebeningan batin. Sementara Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa orang yang cerdas adalah yang mampu menghisab dirinya sebelum dihisab.
Ramadhan, dengan demikian, adalah cermin ruhani. Cermin itu kadang tidak nyaman. Ia memantulkan kekurangan, kesombongan, riya, dan kelalaian. Namun tanpa cermin, kita akan hidup dalam ilusi kebaikan. Muhasabah mengajarkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Di era digital, kebutuhan akan muhasabah justru semakin mendesak. Media sosial sering menjadikan hidup sebagai panggung pertunjukan. Amal mudah berubah menjadi konten; kebaikan mudah menjadi pencitraan. Ramadhan mengajarkan diam di tengah riuh, hening di tengah hiruk, dan tulus di tengah sorotan.
Ketika kita menahan amarah saat berpuasa, kita sedang melatih pengendalian diri. Ketika kita menahan komentar negatif di dunia maya, kita sedang mempraktikkan takwa digital. Ketika kita bersedekah tanpa diumumkan, kita sedang membersihkan niat. Muhasabah hari ini bukan hanya soal dosa personal, tetapi juga jejak digital dan tanggung jawab sosial.
Lebih dari itu, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Dalam tradisi sufistik, hidup dipahami sebagai safar—perjalanan dari Allah dan kembali kepada Allah. Puasa adalah kendaraan ruhani yang mempercepat langkah pulang itu. Lapar mengajarkan rendah hati; haus mengajarkan ketergantungan; tarawih mengajarkan ketekunan; tadarus mengajarkan kedekatan.
Jalan pulang bukanlah perjalanan fisik, tetapi transformasi batin. Ia dimulai ketika seseorang berhenti menyalahkan dunia dan mulai menata diri. Ia dimulai ketika seseorang berhenti mencari pengakuan manusia dan mulai mencari ridha Tuhan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menunggu maghrib, tetapi menunggu perubahan diri. Bukan sekadar berbuka dari makan dan minum, tetapi berbuka dari kesombongan dan kelalaian. Muhasabah adalah inti dari semua itu: kesediaan untuk melihat, menilai, dan memperbaiki.
Ramadhan adalah cermin.Dan siapa yang berani bercermin, dialah yang menemukan jalan pulang.
_Wallahu A'lam bi al-Shawwab_
RAMADHAN selalu datang seperti tamu agung, tetapi ia tidak pernah mengetuk pintu yang sama dua kali. Ia hadir sebagai waktu yang berbeda, suasana yang berbeda, dan jiwa yang berbeda. Sebab sejatinya, Ramadhan bukan hanya perubahan kalender, melainkan undangan untuk bercermin. Bercermin bukan pada wajah, tetapi pada ruhani.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kehilangan dirinya sendiri. Kita sibuk memperbaiki citra, tetapi lalai memperbaiki batin. Kita terampil menghitung keuntungan dunia, tetapi jarang menghitung kualitas amal. Di sinilah Ramadhan menemukan relevansinya: ia adalah bulan muhasabah—bulan menghitung sebelum dihitung.
Al-Qur’an mengingatkan:
*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ* _Yā ayyuhallażīna āmanū ittaqullāha wal-tanzur nafsum mā qaddamat lighad.._
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (kiamat).”
Ayat ini bukan sekadar seruan moral, tetapi panggilan eksistensial. “Hari esok” bukan hanya esok pagi, tetapi esok yang lebih panjang—akhirat. Ramadhan adalah simulasi kecil menuju hari besar itu. Ia melatih kita menahan, menimbang, dan menyadari.
Puasa sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183, bertujuan melahirkan takwa. Takwa bukan hanya takut, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah hadir dalam setiap detik hidup. Dalam perspektif tasawuf, takwa adalah kejernihan hati; ketika jiwa tidak lagi dikuasai nafsu, melainkan dipimpin oleh nur Ilahi.
Ulama klasik seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi mengosongkan hati dari selain Allah. Lapar hanyalah pintu; yang dicari adalah kebeningan batin. Sementara Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa orang yang cerdas adalah yang mampu menghisab dirinya sebelum dihisab.
Ramadhan, dengan demikian, adalah cermin ruhani. Cermin itu kadang tidak nyaman. Ia memantulkan kekurangan, kesombongan, riya, dan kelalaian. Namun tanpa cermin, kita akan hidup dalam ilusi kebaikan. Muhasabah mengajarkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Di era digital, kebutuhan akan muhasabah justru semakin mendesak. Media sosial sering menjadikan hidup sebagai panggung pertunjukan. Amal mudah berubah menjadi konten; kebaikan mudah menjadi pencitraan. Ramadhan mengajarkan diam di tengah riuh, hening di tengah hiruk, dan tulus di tengah sorotan.
Ketika kita menahan amarah saat berpuasa, kita sedang melatih pengendalian diri. Ketika kita menahan komentar negatif di dunia maya, kita sedang mempraktikkan takwa digital. Ketika kita bersedekah tanpa diumumkan, kita sedang membersihkan niat. Muhasabah hari ini bukan hanya soal dosa personal, tetapi juga jejak digital dan tanggung jawab sosial.
Lebih dari itu, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Dalam tradisi sufistik, hidup dipahami sebagai safar—perjalanan dari Allah dan kembali kepada Allah. Puasa adalah kendaraan ruhani yang mempercepat langkah pulang itu. Lapar mengajarkan rendah hati; haus mengajarkan ketergantungan; tarawih mengajarkan ketekunan; tadarus mengajarkan kedekatan.
Jalan pulang bukanlah perjalanan fisik, tetapi transformasi batin. Ia dimulai ketika seseorang berhenti menyalahkan dunia dan mulai menata diri. Ia dimulai ketika seseorang berhenti mencari pengakuan manusia dan mulai mencari ridha Tuhan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menunggu maghrib, tetapi menunggu perubahan diri. Bukan sekadar berbuka dari makan dan minum, tetapi berbuka dari kesombongan dan kelalaian. Muhasabah adalah inti dari semua itu: kesediaan untuk melihat, menilai, dan memperbaiki.
Ramadhan adalah cermin.Dan siapa yang berani bercermin, dialah yang menemukan jalan pulang.
_Wallahu A'lam bi al-Shawwab_
(GUS)
Berita Terkait
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
News
Buah-buah 'Penolong' di Momen Hari Raya Idul Adha
Setelah Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Kamis, 28 Mei 2026 16:37
News
Penerapan Plea Bargain dalam Sistem Peradilan Pidana
Konstruksi mekanisme pengakuan bersalah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terbaru perlu dipahami dalam perspektif sistem hukum pidana yang bertradisi civil law.
Senin, 25 Mei 2026 06:21
News
Di Balik Kemudahan AI, Ada Krisis Daya Kritis
Hari ini, semakin banyak pelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit.
Minggu, 24 Mei 2026 05:36
News
Meratakan Lapangan Belajar Indonesia
Setiap tahun, ribuan siswa Indonesia duduk di bangku sekolah dengan harapan yang sama: mendapat pendidikan terbaik. Namun di balik harapan itu, tersimpan kesenjangan nyata.
Selasa, 19 Mei 2026 09:01
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Muhsin Palinrungi, Direktur Ekrap IKN Pimpin IKA FSIKP UMI
2
DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 Rampungkan Seleksi Provinsi di Makassar
3
Bumi Karsa Tuntaskan Pembangunan 6 Sekolah Negeri di Jakarta
4
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
5
Vasaka Hotel Makassar Salurkan Daging Kurban kepada Warga dan Mitra
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Muhsin Palinrungi, Direktur Ekrap IKN Pimpin IKA FSIKP UMI
2
DANCOW Indonesia Cerdas Season 2 Rampungkan Seleksi Provinsi di Makassar
3
Bumi Karsa Tuntaskan Pembangunan 6 Sekolah Negeri di Jakarta
4
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
5
Vasaka Hotel Makassar Salurkan Daging Kurban kepada Warga dan Mitra