Opini
Puasa Integritas: Menjaga Demokrasi Tanpa Transaksi
Senin, 23 Feb 2026 08:00
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Foto: Istimewa
Oleh Samsir Salam
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
(Renungan Ramadhan tentang Moral, Amanah, dan Kekuasaan)
PUASA bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan sunyi untuk kejujuran. Seseorang yang berpuasa bisa saja melanggar tanpa diketahui siapa pun, tetapi ia memilih patuh. Di situlah integritas lahir—keteguhan moral yang tidak bergantung pada pengawasan. Dengan demikian, ramadhan adalah sekolah karakter paling jujur yang pernah dimiliki manusia.
Nilai tersebut menjadi sangat relevan ketika kita berbicara tentang demokrasi.
Krisis demokrasi bukan krisis aturan, melainkan krisis batin. Politik uang, transaksi jabatan, dan kompromi kepentingan menunjukkan bahwa kedaulatan rakyat kerap diperlakukan sebagai komoditas. Pemilu berjalan, prosedur terpenuhi, tetapi ruh keadilan perlahan menguap.
Al-Qur’an menyentuh akar persoalan tersebut secara halus namun mendalam. Qur’an Surah Ash-Shaff ayat 2–3, Allah menegur:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat ini bukan hanya kritik terhadap kemunafikan personal, tetapi juga terhadap kemunafikan politik: janji tanpa komitmen, slogan tanpa keteladanan. Demokrasi yang dipenuhi janji tetapi dikotori transaksi adalah bentuk paling nyata dari ketidaksatuan antara kata dan perbuatan.
Lebih jauh, integritas politik bertaut erat dengan pengendalian diri. Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 83:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan dan kerusakan di bumi.”
Ayat ini relevan bagi yang mengejar kekuasaan. Ketika kekuasaan diinginkan dengan cara merusak—membeli suara, menyuap nurani, menekan pilihan—maka ia telah kehilangan legitimasi moralnya, meski mungkin sah secara formal.
Pemikir Islam, Al-Ghazali, pernah mengingatkan bahwa:
“Kerusakan penguasa bermula dari rusaknya niat, dan rusaknya niat berasal dari cinta berlebihan kepada dunia.”
Politik transaksional adalah ekspresi paling telanjang dari cinta berlebihan pada dunia: kekuasaan dikejar bukan sebagai amanah, melainkan sebagai alat akumulasi. Puasa, sebaliknya, melatih kita untuk melepaskan—menundukkan hasrat demi nilai yang lebih tinggi.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan tentang bahaya kecenderungan batin yang condong pada kebatilan dalam Surah Hud ayat 113:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
Ayat tersebut mengandung pesan moral yang tajam: diam, permisif, atau ikut menikmati hasil dari kezaliman juga merupakan bentuk keberpihakan. Dalam konteks pemilu, menerima uang mungkin tampak sebagai pilihan pragmatis, tetapi ia adalah bentuk kecenderungan pada kezaliman sistemik.
Sosiolog Muslim. Ibn Khaldun, mengingatkan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai ketika kekuasaan berubah dari amanah menjadi alat pemuasan kepentingan. Negara runtuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena kehilangan moral pengikatnya.
Pandangan ini sejalan dengan refleksi filsuf politik modern Hannah Arendt, yang menyebut bahwa kejahatan paling berbahaya sering lahir bukan dari niat jahat yang besar, melainkan dari kebiasaan menerima keburukan sebagai sesuatu yang normal. Politik uang menjadi berbahaya justru karena dinormalisasi.
Dari sini makna puasa integritas menemukan bentuk sosialnya. Jika puasa mengajarkan manusia menahan yang halal demi ketaatan, maka demokrasi menuntut kita menahan yang haram demi keadilan. Menahan diri untuk tidak membeli suara. Menahan diri untuk tidak menjual suara Menahan diri untuk tidak memanfaatkan kekuasaan sebagai alat transaksi.
Ramadhan juga mendidik kita pada kesadaran ihsan—merasa diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan. Dalam demokrasi, ihsan berarti berpolitik seolah Tuhan hadir di setiap bilik suara, di setiap keputusan dan kebijakan. Hukum bisa dilanggar, pengawasan bisa dilewati, tetapi pengawasan Ilahi tidak pernah absen.
Puasa integritas, bukanlah romantisme moral. Puasa Integritas adalah fondasi demokrasi yang berkeadaban. Sebab hanya dengan integritas kekuasaan kembali menjadi amanah, dan demokrasi kembali menemukan kehormatannya—bukan sebagai pasar transaksi, melainkan sebagai ruang pengabdian.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
(Renungan Ramadhan tentang Moral, Amanah, dan Kekuasaan)
PUASA bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan sunyi untuk kejujuran. Seseorang yang berpuasa bisa saja melanggar tanpa diketahui siapa pun, tetapi ia memilih patuh. Di situlah integritas lahir—keteguhan moral yang tidak bergantung pada pengawasan. Dengan demikian, ramadhan adalah sekolah karakter paling jujur yang pernah dimiliki manusia.
Nilai tersebut menjadi sangat relevan ketika kita berbicara tentang demokrasi.
Krisis demokrasi bukan krisis aturan, melainkan krisis batin. Politik uang, transaksi jabatan, dan kompromi kepentingan menunjukkan bahwa kedaulatan rakyat kerap diperlakukan sebagai komoditas. Pemilu berjalan, prosedur terpenuhi, tetapi ruh keadilan perlahan menguap.
Al-Qur’an menyentuh akar persoalan tersebut secara halus namun mendalam. Qur’an Surah Ash-Shaff ayat 2–3, Allah menegur:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat ini bukan hanya kritik terhadap kemunafikan personal, tetapi juga terhadap kemunafikan politik: janji tanpa komitmen, slogan tanpa keteladanan. Demokrasi yang dipenuhi janji tetapi dikotori transaksi adalah bentuk paling nyata dari ketidaksatuan antara kata dan perbuatan.
Lebih jauh, integritas politik bertaut erat dengan pengendalian diri. Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 83:
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan dan kerusakan di bumi.”
Ayat ini relevan bagi yang mengejar kekuasaan. Ketika kekuasaan diinginkan dengan cara merusak—membeli suara, menyuap nurani, menekan pilihan—maka ia telah kehilangan legitimasi moralnya, meski mungkin sah secara formal.
Pemikir Islam, Al-Ghazali, pernah mengingatkan bahwa:
“Kerusakan penguasa bermula dari rusaknya niat, dan rusaknya niat berasal dari cinta berlebihan kepada dunia.”
Politik transaksional adalah ekspresi paling telanjang dari cinta berlebihan pada dunia: kekuasaan dikejar bukan sebagai amanah, melainkan sebagai alat akumulasi. Puasa, sebaliknya, melatih kita untuk melepaskan—menundukkan hasrat demi nilai yang lebih tinggi.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan tentang bahaya kecenderungan batin yang condong pada kebatilan dalam Surah Hud ayat 113:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
Ayat tersebut mengandung pesan moral yang tajam: diam, permisif, atau ikut menikmati hasil dari kezaliman juga merupakan bentuk keberpihakan. Dalam konteks pemilu, menerima uang mungkin tampak sebagai pilihan pragmatis, tetapi ia adalah bentuk kecenderungan pada kezaliman sistemik.
Sosiolog Muslim. Ibn Khaldun, mengingatkan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering kali dimulai ketika kekuasaan berubah dari amanah menjadi alat pemuasan kepentingan. Negara runtuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena kehilangan moral pengikatnya.
Pandangan ini sejalan dengan refleksi filsuf politik modern Hannah Arendt, yang menyebut bahwa kejahatan paling berbahaya sering lahir bukan dari niat jahat yang besar, melainkan dari kebiasaan menerima keburukan sebagai sesuatu yang normal. Politik uang menjadi berbahaya justru karena dinormalisasi.
Dari sini makna puasa integritas menemukan bentuk sosialnya. Jika puasa mengajarkan manusia menahan yang halal demi ketaatan, maka demokrasi menuntut kita menahan yang haram demi keadilan. Menahan diri untuk tidak membeli suara. Menahan diri untuk tidak menjual suara Menahan diri untuk tidak memanfaatkan kekuasaan sebagai alat transaksi.
Ramadhan juga mendidik kita pada kesadaran ihsan—merasa diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan. Dalam demokrasi, ihsan berarti berpolitik seolah Tuhan hadir di setiap bilik suara, di setiap keputusan dan kebijakan. Hukum bisa dilanggar, pengawasan bisa dilewati, tetapi pengawasan Ilahi tidak pernah absen.
Puasa integritas, bukanlah romantisme moral. Puasa Integritas adalah fondasi demokrasi yang berkeadaban. Sebab hanya dengan integritas kekuasaan kembali menjadi amanah, dan demokrasi kembali menemukan kehormatannya—bukan sebagai pasar transaksi, melainkan sebagai ruang pengabdian.
(GUS)
Berita Terkait
News
Milad Bawaslu: Antara Prosedur Demokrasi dan Krisis Integritas
MOMENTUM Milad Bawaslu bukan sekadar penanda usia kelembagaan, tetapi ruang kontemplasi atas tanggung jawab besar dalam menjaga arah demokrasi. Selamat Milad Bawaslu RI ke-18: Mengukuhkan Demokrasi.
Rabu, 08 Apr 2026 13:51
News
Saatnya Menata Ulang Manajemen Sekolah
Meski tetap berpijak pada cita-cita luhur yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, strategi yang ditempuh Abdul Mu'ti kini menunjukkan pergeseran signifikan dari pendahulunya.
Kamis, 02 Apr 2026 06:12
News
PSEL Makassar: Uji Nalar Teknis di Tengah Risiko Sistemik
Niat Pemerintah Kota Makassar untuk mengoptimalkan aset lahan di TPA Tamangapa sebagai lokasi proyek PSEL patut kita apresiasi sebagai upaya efisiensi penggunaan kekayaan daerah.
Senin, 30 Mar 2026 13:01
News
Dilema PSEL Makassar, Menimbang Akurasi Teknis di Antara Dua Lokasi
Makassar sedang bertaruh dengan waktu. Di satu sisi, tumpukan sampah di TPA Tamangapa sudah menjadi gunung yang menanti solusi.
Jum'at, 27 Mar 2026 18:10
News
Andi Amran Sulaiman: Arsitek Kedaulatan Pangan di Tengah Krisis Global
Di tengah gejolak krisis pangan global yang melanda berbagai negara, nama Andi Amran Sulaiman muncul sebagai sosok pahlawan modern bagi bangsa Indonesia.
Selasa, 24 Mar 2026 11:50
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Ketum PB PSTI Surianto Jadi Doktor, Angkat Riset Kinerja Karyawan Tambang
2
Muscalub Dihadiri Bupati Uji Nurdin, Ramli Terpilih Ketua Apdesi Bantaeng
3
Dividen PDAM Gowa Rp3,49 M, Bupati Gowa Minta Layanan Ditingkatkan
4
Makassar Kian Terkoneksi: XLSMART Perkuat 5G Dedicated Tanpa Gangguan
5
Pembangunan KMP di Maros Sudah 38 Unit, Tujuh Hampir Rampung
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Ketum PB PSTI Surianto Jadi Doktor, Angkat Riset Kinerja Karyawan Tambang
2
Muscalub Dihadiri Bupati Uji Nurdin, Ramli Terpilih Ketua Apdesi Bantaeng
3
Dividen PDAM Gowa Rp3,49 M, Bupati Gowa Minta Layanan Ditingkatkan
4
Makassar Kian Terkoneksi: XLSMART Perkuat 5G Dedicated Tanpa Gangguan
5
Pembangunan KMP di Maros Sudah 38 Unit, Tujuh Hampir Rampung