Berkenalan dengan Nasywa, Kafilah Pangkep di MTQ Sulsel yang Jago Nulis Karya Ilmiah

Senin, 20 Apr 2026 23:54
Berkenalan dengan Nasywa, Kafilah Pangkep di MTQ Sulsel yang Jago Nulis Karya Ilmiah
Kafilah asal Kabupaten Pangkep, Nasywa Aqilah Shahib. Foto: Istmewa
Comment
Share
PANGKEP - Kafilah asal Kabupaten Pangkep, Nasywa Aqilah Shahib, menorehkan prestasi pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di Kabupaten Maros. Ia berhasil melaju ke babak final pada cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ).

Nasywa lahir di Makassar, 25 Juli 2005. Ia merupakan putri dari pasangan Muhammad Shahib A dan Nuraliah. Pendidikan dasarnya ditempuh di TK Negeri Pembina Pangkajene dan SD Negeri 3 Jagong, kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Pondok Pesantren Ummul Mukminin.

Saat ini, Nasywa merupakan mahasiswa semester enam di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.

Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis mengantarkannya meraih berbagai prestasi, di antaranya Juara 2 tingkat nasional pada Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin (KINMU) serta Juara 2 tingkat internasional pada The International Islamic Student Competition (INISCOM).

Dalam ajang MTQ, Nasywa telah tiga kali berpartisipasi di cabang berbeda, yakni Tartil anak-anak (Juara 1 tingkat Kabupaten Pangkep), Hifdzil 5 Juz Putri, dan KTIQ Putri.

Ia mengaku minat menulis mulai tumbuh sejak aktif membaca, khususnya saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tulisan pertamanya berjudul Inovasi Digital Tafsir Interaktif: Platform Kolaboratif Berbasis Visual dan Multimedia untuk Memahami Ushuluddin, yang diikutkan dalam ajang KINMU.

Menurut Nasywa, semangat berkarya lahir dari kesadaran sebagai mahasiswa serta dorongan untuk berkontribusi melalui tulisan. Motivasi tersebut juga diperkuat oleh tanggung jawab sebagai penerima beasiswa BIB-LPDP.

"Ada amanah besar yang saya bawa sebagai penerima beasiswa untuk terus bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata melalui karya-karya yang bermanfaat," ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia juga mengaku terinspirasi dari produktivitas para dosen dalam menghasilkan berbagai karya ilmiah.

"Tentu menurut saya melalui tulisan juga bisa berkontribusi dalam syiar islam dengan merelevansikan Al-Quran dalam kehidupan sekarang ini," ungkapnya.

Menurut Nasywa, menulis merupakan cara sederhana untuk menyebarkan manfaat, terutama bagi kalangan pelajar.

"Intinya menulis bisa dimulai dengan apa yang kita rasakan hari ini, apa yang telah kita capai hari ini dan apa rencana kita untuk hari ini dalam buku pribadi kita," kata Nasywa.

Dalam ajang MTQ di Maros, cabang KTIQ terdiri atas dua babak dengan tema yang telah ditentukan. Pada babak penyisihan, peserta mengangkat tema pelestarian lingkungan. Nasywa mengusung judul Tafsir Ekoteologis QS Al-A'raf/7: 31 tentang Etika Konsumsi Berpakaian Berbasis Slow Fashion dalam Merespons Fashion Ecocide.

Ia menilai pelestarian lingkungan tidak hanya berkaitan dengan isu deforestasi atau sampah, tetapi juga mencakup kesadaran terhadap dampak industri pakaian dalam kehidupan sehari-hari.

Pada babak semifinal, Nasywa mengangkat judul Reaktualisasi QS Al-Baqarah/2: 143 dalam Membangun Moderasi Beragama di Tengah Polarisasi pada Era Echo Chamber.

Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut penguatan nilai moderasi beragama, tidak hanya di ruang nyata, tetapi juga di ruang digital.

"Kita lihat bahwa informasi dengan konteks keagamaan di dunia digital bisa dikatakan agak sensitif, apalagi jika orang-orang tidak menyikapinya dengan bijak. Tentu, perlu dihadirkan juga nilai-nilai Al-Qur'an sebagai landasan teologis dalam menghadapi perkembangan zaman," tambahnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru