Gandeng Athirah, SMP - SMA Perguruan Islam Siap Bertransformasi & Bangkit
Senin, 10 Agu 2026 12:01
Pihak Yayasan dan manajemen SMP - SMA Perguruan Islam berfoto bersama sekaligus memperkenalkan diri. Sekolah ini berkomitmen melakukan transformasi dan bangkit. Foto/Istimewa
MAKASSAR - SMP - SMA Perguruan Islam yang berlokasi di Jalan Datu Museng, Kota Makassar, bersiap bangkit. Setelah sempat mengalami masa surut, lembaga pendidikan Islam yang memiliki jejak sejarah panjang itu kini memasuki babak baru melalui pembentukan yayasan baru dan kolaborasi dengan Sekolah Islam Athirah. Transformasi tak hanya menyasar fasilitas, tetapi juga kualitas guru, kurikulum, dan sistem pendidikan.
Komitmen itu disampaikan dalam silaturahmi pengurus Yayasan Perguruan dan Kesejahteraan Islam bersama orang tua/wali murid, alumni, serta manajemen Sekolah Islam Athirah pada Senin (10/8/2026).
Direktur SMP - SMA Perguruan Islam, Muhammad Lottong Makaraka, mengatakan pembentukan yayasan baru menjadi langkah awal kebangkitan sekaligus melanjutkan perjuangan para pendahulu untuk membangun kembali sekolah dengan kualitas yang lebih baik.
"Insya Allah kita akan membangun kembali sekolah ini dengan jauh lebih baik. Langkah awal kita akan membina kerja sama dengan Sekolah Islam Athirah," ujarnya.
Menurutnya, kerja sama tersebut diarahkan untuk menyamakan standar pendidikan, meningkatkan kompetensi guru, serta memperbaiki fasilitas sekolah secara bertahap.
Ia berharap lulusan SMP - SMA Perguruan Islam nantinya memiliki kualitas yang setara dengan lulusan Sekolah Islam Athirah.
"Kita akan kolaborasi, mendidik guru-gurunya, menyamakan standar-standarnya. Fasilitas sekolah juga akan ditingkatkan step by step," katanya.
Ia menambahkan, SMP - SMA Perguruan Islam juga diarahkan menjadi sister school Sekolah Islam Athirah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Perguruan dan Kesejahteraan Islam, Imelda Jusuf Kalla, mengatakan transformasi sekolah tidak semata-mata menyangkut pembangunan fisik, tetapi terutama menyentuh kualitas sumber daya manusia dan sistem pendidikan.
"Transformasi itu bukan hanya sekadar gedung dan fasilitas, tapi yang paling penting bagaimana SDM-nya, bagaimana kualitas pendidikannya, dan bagaimana sistem yang akan kita jalankan," ujarnya.
Imelda mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah menghidupkan kembali jenjang SMP yang sebelumnya berhenti beroperasi.
Ia menargetkan SMP Perguruan Islam dapat kembali berjalan pada tahun depan.
Menurut Imelda, keberadaan jenjang SMP penting untuk membangun karakter siswa sejak usia dini, khususnya karakter keislaman yang menjadi fondasi bagi pendidikan mereka pada jenjang berikutnya.
Imelda juga menegaskan bahwa kerja sama dengan Athirah menjadi salah satu langkah strategis yayasan. Selain memiliki visi dan misi yang dinilai sejalan, Athirah dinilai memiliki pengalaman dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendampingi proses pembenahan sekolah.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kompetensi guru, penyempurnaan kurikulum, pembangunan sistem sekolah, serta evaluasi kualitas pendidikan secara berkala.
"Yayasan tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan kerja sama dari semua warga sekolah, guru, orang tua, dan murid," katanya.
Imelda menambahkan, sekolah tersebut memiliki nilai sejarah yang kuat bagi keluarganya. Ayahnya, Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden RI), merupakan alumni SMP Perguruan Islam pada era 1950-an. Ia dan sejumlah saudaranya juga pernah bersekolah di sekolah tersebut.
Karena itu, ia berharap transformasi yang dilakukan tidak hanya memperbaiki kondisi sekolah saat ini, tetapi juga melanjutkan amal jariyah para pendiri dan pengurus terdahulu.
Ia mengutip pesan pembina yayasan, Jusuf Kalla, agar pengurus saat ini tidak memutus amal jariyah yang telah dibangun para pendahulu. "Ini kesempatan kita untuk terus meneruskan kebaikan yang ada," ujarnya.
Pendampingan dari Athirah
Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengatakan pihaknya siap mendampingi Perguruan Islam Datu Museng melalui program Athirah Berbakti Dampingi Sekolah.
Menurutnya, pendampingan akan diawali dengan pemetaan kondisi sekolah. Tim Athirah akan melakukan diagnosis berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan untuk mengetahui posisi dan kebutuhan sekolah.
"Dari analisis diagnosis itu, kita susun program perbaikan. Jadi jelas, apakah ada masalah di guru, sarana, atau aspek lainnya," kata Syamril.
Selain pendampingan manajemen dan sistem pendidikan, Athirah juga akan membantu mengatasi kekurangan tenaga pengajar di Perguruan Islam Datu Museng.
Saat ini, sekolah masih membutuhkan sekitar delapan guru untuk sejumlah mata pelajaran. Untuk tahap awal, Athirah akan menugaskan sejumlah guru untuk membantu proses pembelajaran.
Jika kebutuhan belum terpenuhi, rekrutmen guru baru akan dilakukan dengan standar yang ditetapkan Athirah. "Jadi insya Allah guru ini kita standarkan dengan standar Athirah," ujarnya.
Syamril menargetkan pembenahan tersebut dapat berdampak pada peningkatan jumlah peserta didik. Saat ini, jumlah siswa baru di kelas pertama tercatat hanya empat orang.
Ia berharap pada tahun berikutnya jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 40 siswa. "Kita coba lakukan branding dan lain sebagainya. Sekolah ini insya Allah akan menjadi sekolah yang bermutu dengan biaya yang sangat terjangkau," katanya.
Syamril menyebut biaya pendidikan bagi siswa baru saat ini sekitar Rp50 ribu per bulan. Dengan biaya tersebut, pihaknya menargetkan tetap menghadirkan kualitas pendidikan yang tinggi.
"Murah dan terjangkau, tapi kita mau mutunya bintang lima," ujarnya.
Syamril juga mengajak orang tua, guru, alumni, yayasan, dan seluruh warga sekolah untuk bersama-sama mengawal proses transformasi tersebut.
Ia menekankan bahwa perubahan sekolah tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan mengganti fasilitas.
Mengibaratkan sekolah sebagai ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu, Syamril mengajak seluruh pihak tidak sekadar melakukan "ganti kulit", tetapi benar-benar melakukan perubahan mendasar.
"Jangan hanya ganti kulit. Kita ingin berubah dan bertransformasi menjadi lebih baik," katanya.
Dengan kolaborasi tersebut, SMP - SMA Perguruan Islam diharapkan kembali menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang berkualitas, sekaligus mempertahankan nilai dan sejarah yang telah dibangun para pendahulunya.
Komitmen itu disampaikan dalam silaturahmi pengurus Yayasan Perguruan dan Kesejahteraan Islam bersama orang tua/wali murid, alumni, serta manajemen Sekolah Islam Athirah pada Senin (10/8/2026).
Direktur SMP - SMA Perguruan Islam, Muhammad Lottong Makaraka, mengatakan pembentukan yayasan baru menjadi langkah awal kebangkitan sekaligus melanjutkan perjuangan para pendahulu untuk membangun kembali sekolah dengan kualitas yang lebih baik.
"Insya Allah kita akan membangun kembali sekolah ini dengan jauh lebih baik. Langkah awal kita akan membina kerja sama dengan Sekolah Islam Athirah," ujarnya.
Menurutnya, kerja sama tersebut diarahkan untuk menyamakan standar pendidikan, meningkatkan kompetensi guru, serta memperbaiki fasilitas sekolah secara bertahap.
Ia berharap lulusan SMP - SMA Perguruan Islam nantinya memiliki kualitas yang setara dengan lulusan Sekolah Islam Athirah.
"Kita akan kolaborasi, mendidik guru-gurunya, menyamakan standar-standarnya. Fasilitas sekolah juga akan ditingkatkan step by step," katanya.
Ia menambahkan, SMP - SMA Perguruan Islam juga diarahkan menjadi sister school Sekolah Islam Athirah.
Sementara itu, Ketua Yayasan Perguruan dan Kesejahteraan Islam, Imelda Jusuf Kalla, mengatakan transformasi sekolah tidak semata-mata menyangkut pembangunan fisik, tetapi terutama menyentuh kualitas sumber daya manusia dan sistem pendidikan.
"Transformasi itu bukan hanya sekadar gedung dan fasilitas, tapi yang paling penting bagaimana SDM-nya, bagaimana kualitas pendidikannya, dan bagaimana sistem yang akan kita jalankan," ujarnya.
Imelda mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah menghidupkan kembali jenjang SMP yang sebelumnya berhenti beroperasi.
Ia menargetkan SMP Perguruan Islam dapat kembali berjalan pada tahun depan.
Menurut Imelda, keberadaan jenjang SMP penting untuk membangun karakter siswa sejak usia dini, khususnya karakter keislaman yang menjadi fondasi bagi pendidikan mereka pada jenjang berikutnya.
Imelda juga menegaskan bahwa kerja sama dengan Athirah menjadi salah satu langkah strategis yayasan. Selain memiliki visi dan misi yang dinilai sejalan, Athirah dinilai memiliki pengalaman dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendampingi proses pembenahan sekolah.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kompetensi guru, penyempurnaan kurikulum, pembangunan sistem sekolah, serta evaluasi kualitas pendidikan secara berkala.
"Yayasan tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan kerja sama dari semua warga sekolah, guru, orang tua, dan murid," katanya.
Imelda menambahkan, sekolah tersebut memiliki nilai sejarah yang kuat bagi keluarganya. Ayahnya, Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden RI), merupakan alumni SMP Perguruan Islam pada era 1950-an. Ia dan sejumlah saudaranya juga pernah bersekolah di sekolah tersebut.
Karena itu, ia berharap transformasi yang dilakukan tidak hanya memperbaiki kondisi sekolah saat ini, tetapi juga melanjutkan amal jariyah para pendiri dan pengurus terdahulu.
Ia mengutip pesan pembina yayasan, Jusuf Kalla, agar pengurus saat ini tidak memutus amal jariyah yang telah dibangun para pendahulu. "Ini kesempatan kita untuk terus meneruskan kebaikan yang ada," ujarnya.
Pendampingan dari Athirah
Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengatakan pihaknya siap mendampingi Perguruan Islam Datu Museng melalui program Athirah Berbakti Dampingi Sekolah.
Menurutnya, pendampingan akan diawali dengan pemetaan kondisi sekolah. Tim Athirah akan melakukan diagnosis berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan untuk mengetahui posisi dan kebutuhan sekolah.
"Dari analisis diagnosis itu, kita susun program perbaikan. Jadi jelas, apakah ada masalah di guru, sarana, atau aspek lainnya," kata Syamril.
Selain pendampingan manajemen dan sistem pendidikan, Athirah juga akan membantu mengatasi kekurangan tenaga pengajar di Perguruan Islam Datu Museng.
Saat ini, sekolah masih membutuhkan sekitar delapan guru untuk sejumlah mata pelajaran. Untuk tahap awal, Athirah akan menugaskan sejumlah guru untuk membantu proses pembelajaran.
Jika kebutuhan belum terpenuhi, rekrutmen guru baru akan dilakukan dengan standar yang ditetapkan Athirah. "Jadi insya Allah guru ini kita standarkan dengan standar Athirah," ujarnya.
Syamril menargetkan pembenahan tersebut dapat berdampak pada peningkatan jumlah peserta didik. Saat ini, jumlah siswa baru di kelas pertama tercatat hanya empat orang.
Ia berharap pada tahun berikutnya jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 40 siswa. "Kita coba lakukan branding dan lain sebagainya. Sekolah ini insya Allah akan menjadi sekolah yang bermutu dengan biaya yang sangat terjangkau," katanya.
Syamril menyebut biaya pendidikan bagi siswa baru saat ini sekitar Rp50 ribu per bulan. Dengan biaya tersebut, pihaknya menargetkan tetap menghadirkan kualitas pendidikan yang tinggi.
"Murah dan terjangkau, tapi kita mau mutunya bintang lima," ujarnya.
Syamril juga mengajak orang tua, guru, alumni, yayasan, dan seluruh warga sekolah untuk bersama-sama mengawal proses transformasi tersebut.
Ia menekankan bahwa perubahan sekolah tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan mengganti fasilitas.
Mengibaratkan sekolah sebagai ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu, Syamril mengajak seluruh pihak tidak sekadar melakukan "ganti kulit", tetapi benar-benar melakukan perubahan mendasar.
"Jangan hanya ganti kulit. Kita ingin berubah dan bertransformasi menjadi lebih baik," katanya.
Dengan kolaborasi tersebut, SMP - SMA Perguruan Islam diharapkan kembali menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang berkualitas, sekaligus mempertahankan nilai dan sejarah yang telah dibangun para pendahulunya.
(TRI)
Berita Terkait
News
Ketika yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya
Di era teknologi, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal, berbagai penelitian menyampaikan pesan yang sama.
Senin, 03 Agu 2026 17:40
News
Sekolah Bukan Pabrik Nilai
Saya sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang setiap selesai ujian hanya menunggu satu hal: penilaian.
Senin, 03 Agu 2026 09:37
News
SMP Islam Athirah Gelar Eskul Fair, Wadah Murid Temukan Minat dan Potensi
Sebanyak 22 ekstrakurikuler diperkenalkan kepada murid baru dalam Eskul Fair 2026 yang digelar SMP Islam Athirah Makassar di Auditorium Sekolah Islam Athirah, Kamis (30/7).
Jum'at, 31 Jul 2026 10:04
News
Berkat Dukungan PLN, SMKN 1 Konawe Utara Kini Miliki Laboratorium TIK Sendiri
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menghadirkan laboratorium TIK di SMKN 1 Konawe Utara pada 2025.
Kamis, 30 Jul 2026 11:01
News
Baru Tiga Tahun Berdiri, SD Islam Athirah Bone Koleksi 24 Prestasi
Meski baru beroperasi sejak 2024, SD Islam Athirah Bone mampu menunjukkan capaian yang membanggakan. Dalam tiga tahun perjalanannya, sekolah ini berhasil membukukan 24 prestasi di berbagai ajang kompetisi.
Rabu, 22 Jul 2026 13:52
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bisnis Mencari Efisiensi, Limbah Mulai Dilirik sebagai Sumber Nilai Ekonomi
2
Lima Rancangan Produk Hukum Tana Toraja Diharmonisasi Makassar – Kantor Wilayah
3
Special Screening Pertama di Luar Jawa, Penonton Makassar Baper Nonton Film Dan Bandung
4
Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg di Bone Aman
5
Asmo Sulsel & FIFGroup Bantu Petani Terdampak Kekeringan di Sidrap
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bisnis Mencari Efisiensi, Limbah Mulai Dilirik sebagai Sumber Nilai Ekonomi
2
Lima Rancangan Produk Hukum Tana Toraja Diharmonisasi Makassar – Kantor Wilayah
3
Special Screening Pertama di Luar Jawa, Penonton Makassar Baper Nonton Film Dan Bandung
4
Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG 3 Kg di Bone Aman
5
Asmo Sulsel & FIFGroup Bantu Petani Terdampak Kekeringan di Sidrap