Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar Belajar Dunia Penyiaran di TVRI Sulsel

Selasa, 08 Sep 2026 16:18
Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar Belajar Dunia Penyiaran di TVRI Sulsel
Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar mengikuti Safari Media ke Kantor TVRI Sulawesi Selatan, Selasa (8/9/2026). Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Dunia penyiaran tak hanya berlangsung di depan kamera. Hal itu dikenali langsung siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar saat mengikuti Safari Media ke Kantor TVRI Sulawesi Selatan, Selasa (8/9/2026).

Melalui kegiatan tersebut, Pengurus OSIS/MPK ARTHAVA SMA Islam Athirah 1 Makassar mendapat kesempatan mengenal lebih dekat dunia broadcasting dan jurnalistik, sekaligus melihat proses produksi hingga penyiaran televisi dari balik layar.

Safari Media merupakan program kerja Humas ARTHAVA yang dirancang untuk memperluas wawasan siswa melalui pengalaman langsung di lingkungan kerja media. Dalam kunjungan itu, siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai dunia penyiaran, tetapi juga mengikuti simulasi produksi dan melihat bagaimana sebuah program televisi disiapkan.

Ketua Tim Teknik TVRI Sulawesi Selatan, Hamdani Halim, menyambut positif kunjungan tersebut. Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa tidak berhenti pada pengetahuan tentang proses produksi, tetapi juga membuat mereka memahami fungsi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik.

“Kami sangat positif dengan kedatangan OSIS dan MPK ARTHAVA SMA Islam Athirah. Jangan sampai setelah kunjungan tidak ada yang didapat. Mereka harus tahu mengapa ada TVRI,” kata Hamdani.

Menurut Hamdani, TVRI memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi publik di tengah semakin beragamnya sumber informasi. Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga menjalankan fungsi edukasi, termasuk dalam bidang budaya, agama, dan pengetahuan.

“TVRI adalah satu-satunya televisi yang ada Republik Indonesianya di belakang. Mengapa ada TVRI? Agar informasi yang disampaikan dapat menjadi penyeimbang dari informasi yang tersebar di media-media lain. Hiburan hanya sekitar 25 persen, sementara sebagian besar lainnya diarahkan untuk mengedukasi pemirsa,” jelasnya.

Hamdani juga mendorong siswa yang tertarik menekuni bidang broadcasting agar mempersiapkan kompetensi sejak dini. Menurutnya, industri penyiaran membutuhkan generasi muda yang memiliki kemampuan komunikasi, penguasaan teknik, kemampuan bahasa Inggris, serta wawasan yang luas.

“Kalau ingin menjadi broadcaster, bahasa Inggris harus bagus, teknik harus dikuasai, dan wawasan harus luas. Harapannya, mereka bisa menjadi penerus televisi ke depan,” ujarnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Islam Athirah 1 Makassar, Yusran, mengatakan Safari Media memberikan pengalaman yang sulit diperoleh siswa hanya melalui pembelajaran di kelas.

“Kegiatan ini sangat bagus karena memberikan banyak pengalaman kepada siswa terkait proses produksi dan penyiaran. Anak-anak juga diberikan simulasi, bukan hanya teori. Ini sangat luar biasa,” kata Yusran.

Menurut Yusran, pengalaman langsung di lingkungan profesional membantu siswa memahami penerapan pengetahuan sekaligus mengenali potensi dan minat mereka pada bidang tertentu.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung salah satu peserta, Anindya Puteri Awaluddin. Ia mengatakan kunjungan ke TVRI Sulawesi Selatan memberikan gambaran baru mengenai proses kerja di industri media.

“Safari Media ke TVRI Sulawesi Selatan menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan bermanfaat. Kami mendapatkan wawasan mengenai dunia penyiaran, jurnalistik, serta bagaimana sebuah program media diproduksi. Kami juga berkesempatan melihat secara langsung proses kerja di balik layar TVRI,” ujar Anindya.

Menurut Anindya, pengalaman tersebut tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi bekal bagi siswa untuk menentukan langkah dan mengembangkan keterampilan di masa depan.

Kegiatan Safari Media diharapkan dapat memperkuat literasi media siswa sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan kreativitas. Pengalaman belajar langsung di TVRI juga menjadi bagian dari upaya ARTHAVA menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan dunia profesional secara nyata.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru