Unismuh Makassar Siapkan Rp5,9 Miliar untuk BUMM 2026, Seleksi Calon Penerima Dimulai

Selasa, 22 Sep 2026 15:10
Unismuh Makassar Siapkan Rp5,9 Miliar untuk BUMM 2026, Seleksi Calon Penerima Dimulai
Suasana seleksi calon penerima BUMM berlangsung di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar, Selasa (22/9/2026). Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa memperoleh Beasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar (BUMM) tahun akademik 2026/2027.

Tahun ini, skema BUMM diperluas menjadi empat jalur setelah Unismuh menambahkan jalur beasiswa bagi mahasiswa difabel. Seleksi calon penerima BUMM berlangsung di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar. Kegiatan dibuka Pelaksana Harian Rektor yang juga Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof Andi Sukri Syamsuri.

Ketua Panitia Pelaksana, Dr Muhammad Akhir, mengatakan BUMM tahun ini mencakup empat jalur, yakni Hafiz Al-Qur'an, Prestasi Akademik, Bibit Unggul Persyarikatan, dan Difabel. Jalur difabel menjadi kategori baru karena pada tahun sebelumnya BUMM hanya terdiri atas tiga jalur.

“Kalau tahun lalu hanya tiga jenis, tahun ini ditambah beasiswa untuk anak-anak kita yang difabel. Jadi ada Hafiz Quran, Prestasi Akademik, Bibit Unggul Persyarikatan, dan Difabel,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).

Ketua Lembaga Penerimaan Mahasiswa Baru (LPMB) Unismuh Makassar itu menjelaskan proses rekrutmen BUMM 2026 telah berlangsung sejak Mei.

"Pendaftaran dilaksanakan hingga Juli, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan berkas dan validasi pada Juli hingga Agustus. Setelah peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi, tahapan dilanjutkan dengan wawancara oleh tim yang melibatkan unsur pimpinan universitas, fakultas, lembaga, dan unit terkait," jelasnya.

Dalam laporan panitia, peserta tersebar pada empat jalur tersebut. Data yang disebutkan dalam acara terdiri atas 83 peserta Hafiz Al-Qur'an, 132 peserta Prestasi Akademik, 59 peserta Bibit Unggul Persyarikatan, serta tiga peserta jalur Difabel. Panitia juga menyebut peserta yang mengikuti tahapan seleksi pada hari itu sebanyak 278 orang.

Muhammad Akhir menegaskan, pilihan kategori pada saat pendaftaran belum otomatis menjadi kategori akhir penerima. Tim pewawancara akan menilai kembali kemampuan dan kelayakan peserta sehingga kategori beasiswa yang diterima dapat berubah berdasarkan hasil seleksi.

"Khusus jalur Hafiz Al-Qur'an, misalnya, penerima pada kategori tertinggi dapat memperoleh pembiayaan 100 persen. Skema berikutnya diberikan secara bertingkat sebesar 75 persen, 50 persen, dan 25 persen. Pola pembiayaan bertingkat juga diterapkan pada jalur Prestasi Akademik dan Bibit Unggul Persyarikatan sesuai hasil penilaian tim seleksi," tegasnya.

Sementara, Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof Andi Sukri Syamsuri, mengatakan Unismuh tetap mempertahankan BUMM sebagai salah satu instrumen untuk mendukung mahasiswa berprestasi sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di kampus.

"Apabila kuota yang disiapkan dapat terpenuhi sesuai persyaratan, nilai beasiswa yang dialokasikan tahun ini berada pada kisaran Rp5,9 miliar," sebutnya.

Kuota BUMM 2026 disiapkan untuk 2.117 penerima, terdiri atas 384 kuota Hafiz Al-Qur'an, 937 Prestasi Akademik, 531 Bibit Unggul Persyarikatan, dan 265 Difabel. Namun, Prof Andis sapaan akrabnya itu menegaskan bahwa ketersediaan kuota tidak berarti seluruh pendaftar otomatis memperoleh beasiswa.

“Kuota ada, tetapi Anda harus lulus seleksi. Hari inilah seleksinya. Jadi tidak berarti karena kuotanya tersedia, semua langsung dinyatakan lulus,” tegas Prof Andis.

Menurutnya, seleksi diperlukan untuk memastikan penerima BUMM benar-benar memenuhi kriteria sesuai jalur masing-masing. Ia meminta tim melakukan penilaian secara objektif, sementara para peserta diminta menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Prof Andis juga menekankan bahwa beasiswa tidak boleh dipandang semata-mata sebagai bantuan pembiayaan pendidikan.

"BUMM harus menjadi instrumen untuk mendorong mahasiswa mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya selama menempuh pendidikan di Unismuh," katanya.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya sistem pemantauan khusus terhadap perkembangan penerima BUMM.

"Pemantauan antara lain dapat dilakukan melalui perkembangan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), capaian hafalan Al-Qur'an, aktivitas kemahasiswaan, serta keterlibatan dalam kegiatan pengembangan kompetensi.Ketika nanti dinyatakan lulus, jaga semangat itu. Penerima beasiswa ini harus bisa menjadi contoh,” pesannya.

Ia juga mengusulkan agar penerima BUMM memperoleh pembinaan berkelanjutan, termasuk mengikuti kegiatan perkaderan Muhammadiyah dan program peningkatan kompetensi.

"Penerima beasiswa bahkan dapat diarahkan mengikuti sertifikasi profesi ketika telah mencapai semester yang memungkinkan," tambahnya.

Prof Andis menilai bahwa perlakuan khusus tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk pilih kasih, tetapi sebagai strategi memastikan penerima beasiswa berkembang secara akademik, keislaman, kepemimpinan, dan profesional.

“Saya berharap ananda yang dinyatakan lulus nanti bisa menjadi pionir, menjadi perintis, dan menjadi teladan bagi mahasiswa yang seangkatan. Jangan justru menjadi pengekor,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar penerima BUMM dihimpun dalam sistem komunikasi dan pembinaan tersendiri sehingga perkembangan mereka dapat dipantau setiap semester. Untuk jalur Hafiz Al-Qur'an, misalnya, mahasiswa diharapkan tidak hanya mempertahankan jumlah hafalannya, tetapi terus menambah hafalan selama menjalani perkuliahan.

Seleksi BUMM 2026 melibatkan pimpinan universitas, para wakil dekan, pimpinan lembaga, serta tim penguji sesuai bidang masing-masing.

Seleksi Hafiz Al-Qur'an antara lain ditangani tim dari Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Unismuh Makassar, sementara jalur lain dinilai oleh pimpinan dan tim sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan panitia.

Pelaksanaan BUMM 2026 ini sejalan dengan komitmen Unismuh Makassar terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui perluasan akses pendidikan tinggi dan dukungan keberlanjutan studi mahasiswa, serta SDG 10: Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan) melalui hadirnya jalur beasiswa bagi mahasiswa difabel dan kelompok potensial dari berbagai latar belakang.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru