Guru SDN 14 Tamalatea Jeneponto Diduga Dianiaya Orang Tua Siswa di Sekolah

Kamis, 13 Agu 2026 23:19
Guru SDN 14 Tamalatea Jeneponto Diduga Dianiaya Orang Tua Siswa di Sekolah
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Comment
Share
JENEPONTO - Kepala UPT SDN 14 Tamalatea, Saenab, angkat bicara terkait dugaan penganiayaan terhadap salah seorang guru di lingkungan sekolah. Ia menyayangkan aksi kekerasan yang disebut terjadi saat aktivitas penjemputan siswa berlangsung.

Saenab mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 07.00 Wita. Saat itu, sejumlah guru dan orang tua siswa disebut menyaksikan kejadian tersebut.

"Saya sangat kaget karena kejadiannya terjadi sekitar jam 7 pagi, sehingga guru ataupun orang tua siswa yang sedang mengantar anaknya melihat dengan jelas kejadian ini," kata Saenab saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (13/8/2026).

Menurut Saenab, tindakan kekerasan tersebut tidak hanya berdampak terhadap korban, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis guru dan siswa yang menyaksikan kejadian.

"Saya tidak membenarkan tindakan orang tua siswa yang datang ke sekolah mengeroyok guru tanpa konfirmasi kronologis kejadian yang sebenarnya," tegasnya.

Kepsek Sebut Sudah Rencanakan Mediasi

Saenab mengaku baru mengetahui persoalan antara guru dan siswa pada Rabu sore. Saat itu, ia mendapat laporan dari salah seorang wali murid terkait dugaan tindakan disiplin yang diberikan guru kepada siswa.

Setelah menerima laporan tersebut, Saenab mengaku telah berencana memanggil guru yang bersangkutan untuk meminta klarifikasi. Pihak sekolah juga berencana mempertemukan guru dan orang tua siswa untuk menyelesaikan persoalan secara internal.

Namun, rencana mediasi tersebut belum sempat dilakukan. Keesokan paginya, dugaan aksi kekerasan justru terjadi di lingkungan sekolah.

Berdasarkan informasi yang diterima Saenab, orang tua siswa bersama dua anggota keluarganya diduga menunggu kedatangan guru di area parkir sekolah.

Mereka kemudian diduga langsung melakukan tindakan kekerasan tanpa terlebih dahulu meminta penjelasan terkait persoalan yang terjadi. Akibat kejadian tersebut, jilbab yang dikenakan korban disebut sampai terlepas.

Saenab menilai tindakan tersebut terjadi karena persoalan yang belum diklarifikasi secara utuh.

Menurut dia, informasi mengenai dugaan pemukulan terhadap siswa awalnya beredar dari percakapan antar orang tua siswa di pasar. Informasi tersebut kemudian diduga memicu kemarahan orang tua siswa dan mendatangi sekolah hingga berujung pada aksi kekerasan.

Sekolah dan PGRI Dampingi Guru

Atas kejadian tersebut, Saenab menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI ) akan memberikan pendampingan kepada guru yang menjadi korban dalam proses hukum.

Saenab menyebut persoalan tersebut kini telah masuk ke ranah kepolisian. Kedua pihak juga disebut telah saling melapor terkait perkara tersebut.

Meski demikian, Saenab berharap masih ada ruang penyelesaian secara kekeluargaan demi kepentingan semua pihak, khususnya keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah.

"Kami tetap menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang. Namun, ruang penyelesaian secara kekeluargaan tetap kami buka demi kebaikan bersama," ujarnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru