Pengawasan Tegas dan Fasilitasi Kepabeanan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Regional

Minggu, 11 Jan 2026 22:51
Pengawasan Tegas dan Fasilitasi Kepabeanan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Regional
Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Erwin Situmorang. Foto: Istimewa
Comment
Share
MANADO - Kanwil Bea Cukai Sulbagtara mencatat kinerja yang solid sepanjang tahun 2025, baik dalam pelaksanaan fungsi pengawasan kepabeanan dan cukai maupun dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional di wilayah kerja Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Sepanjang 2025, Kanwil Bea Cukai Sulbagtara berhasil membukukan realisasi penerimaan negara sebesar Rp2,81 triliun, atau melampaui 132 persen dari target yang ditetapkan.

Capaian ini mencerminkan optimalisasi peran Bea Cukai sebagai revenue collector yang didukung oleh penguatan sistem pengawasan, kepatuhan pelaku usaha, serta sinergi yang efektif dengan para pemangku kepentingan di daerah.

Dari aspek pengawasan, Bea Cukai Sulbagtara mencatat 618 kasus penindakan, yang terdiri atas 461 penindakan di bidang kepabeanan dan 143 penindakan di sektor cukai hasil tembakau dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA).

Total nilai barang hasil penindakan mencapai sekitar Rp 550 miliar. Khusus pada penindakan MMEA ilegal, penerapan pendekatan ultimum remedium turut menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp 7 miliar, menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak hanya bersifat represif, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap penerimaan negara.

Kinerja Ekspor Terus Menguat

Kinerja pengawasan dan fasilitasi yang dilakukan Bea Cukai Sulbagtara sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri di wilayah kerjanya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hingga November 2025, nilai ekspor Sulawesi Utara tercatat sebesar US$ 1,1 miliar, meningkat sekitar 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Komoditas utama yang mendominasi ekspor provinsi ini meliputi minyak nabati berbasis kelapa dan kelapa sawit, serta produk perikanan.

Sementara itu, Sulawesi Tengah mencatat nilai ekspor sebesar US$ 19,97 miliar, atau meningkat sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun 2024. Kinerja ini terutama ditopang oleh industri berbasis sumber daya alam, dengan besi dan baja sebagai komoditas dominan yang menyumbang mayoritas nilai ekspor.

Adapun Provinsi Gorontalo mencatat nilai ekspor sekitar US$ 43,46 juta, tumbuh 2,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan molases sebagai salah satu komoditas unggulan.

Komoditas ekspor dari ketiga provinsi tersebut dipasarkan ke berbagai negara tujuan utama seperti Tiongkok, Vietnam, Taiwan, India, Korea Selatan, dan Jepang. Secara keseluruhan, tren ekspor di wilayah Sulawesi bagian utara dan tengah menunjukkan arah pemulihan yang berkelanjutan dan pertumbuhan yang stabil, meskipun struktur komoditas dan profil pasar masing-masing provinsi memiliki karakteristik yang berbeda.

Fasilitasi Kepabeanan Perkuat Basis Industri Daerah

Selain pengawasan, Bea Cukai Sulbagtara juga konsisten menjalankan peran sebagai trade facilitator dan industrial assistance melalui pemberian fasilitas kepabeanan. Sepanjang tahun 2025, Kanwil Bea Cukai Sulbagtara memberikan Fasilitas Kawasan Berikat kepada 11 perusahaan, serta mendukung pembentukan 1 Pusat Logistik Berikat (PLB) dan 1 Kawasan Pabean.

Dengan tambahan tersebut, hingga akhir 2025 terdapat 59 perusahaan yang menikmati fasilitas Kawasan Berikat di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di sektor strategis, antara lain hilirisasi hasil tambang, hilirisasi kelapa, dan industri perikanan, yang memiliki potensi nilai tambah tinggi serta berorientasi ekspor.

Fasilitasi kepabeanan ini terbukti berperan dalam menurunkan biaya logistik, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pembukaan lapangan kerja dan masuknya investasi baru. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian daerah.

Pertumbuhan Ekonomi Regional di Atas Rata-rata Nasional

Data resmi BPS menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, ketiga provinsi di wilayah kerja Bea Cukai Sulbagtara dapat menikmati pertumbuhan ekonomi yang solid dan berada di atas rata-rata nasional. Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan III-2025 tumbuh 5,39 persen (year-on-year), didorong oleh kinerja ekspor dan sektor jasa.

Gorontalo mencatat pertumbuhan 5,49 persen (yoy) dengan kontribusi kuat dari industri pengolahan dan investasi. Sementara itu, Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di tingkat nasional, dengan ekonomi tumbuh sekitar 7,79 persen (yoy) pada triwulan III-2025.

Menyikapi capaian tersebut, Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara, Erwin Situmorang, menegaskan bahwa potensi wilayah ini masih perlu dioptimalkan.

“Ke depan, percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan ini perlu didukung oleh optimalisasi posisi strategis Sulawesi Utara sebagai gerbang Indonesia ke Asia Pasifik. Salah satu upaya yang kami dorong bersama pemangku kepentingan adalah terwujudnya direct call pelayaran dari Bitung ke China dan Asia Timur, sehingga waktu tempuh dan biaya logistik dapat ditekan, serta ekspor produk hilirisasi dan perikanan dari kawasan ini semakin kompetitif,” papar Erwin Situmorang.

Rencana direct call dari Pelabuhan Bitung ke negara-negara tujuan ekspor utama di Asia Timur diharapkan mampu memperkuat rantai pasok, meningkatkan volume ekspor, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi regional sekaligus nasional.

Dengan kombinasi pengawasan yang tegas dan fasilitasi yang pro-investasi, Bea Cukai Sulbagtara optimistis dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru