Produksi dan Laba Naik, PT Vale Bukukan Kinerja Solid Sepanjang 2025
Senin, 16 Mar 2026 22:58
PT Vale Indonesia Tbk menutup tahun 2025 dengan capaian kinerja yang relatif kuat di tengah dinamika pasar komoditas global. Foto/IST
MAKASSAR - PT Vale Indonesia Tbk (“PT Vale” atau “Perseroan”, kode saham IDX: INCO) hari ini mengumumkan hasil-hasil keuangan yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir pada 2025.
Sepanjang tahun 2025, PT Vale mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 metrik ton (“t”). Angka ini meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 71.311 t.
Secara triwulanan, produksi pada triwulan keempat 2025 (4T25) tercatat 17.052 t atau sekitar 12% lebih rendah dibandingkan 19.391 t pada triwulan ketiga. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, produksi 4T25 juga sedikit lebih rendah dari 18.528 t pada 4T24. Meski demikian, total produksi sepanjang 2025 tetap lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan upaya Perseroan dalam menjaga keandalan operasional sekaligus mengelola produksi secara efisien.
Selain produksi nikel matte, PT Vale juga terus memperluas portofolio komersialnya melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Sepanjang 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (“wmt”), dengan volume bulanan tertinggi terjadi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Secara keseluruhan, Blok Bahodopi menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.
Sejalan dengan stabilitas operasional dan peningkatan efisiensi produksi, pengiriman nikel matte Perseroan juga meningkat secara moderat menjadi 73.093 t pada 2025, dibandingkan 72.625 t pada 2024.
Capaian tersebut mendukung Perseroan mempertahankan EBITDA sebesar AS$228,2 juta sepanjang tahun, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun secara triwulanan, EBITDA tercatat AS$61,9 juta atau turun 17% dari triwulan sebelumnya, seiring penurunan volume produksi.
Di sisi harga, rata-rata harga realisasi nikel matte pada 2025 tercatat AS$12.157 per ton, turun 7% dibandingkan AS$13.086 per ton pada 2024. Meskipun menghadapi kondisi harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang berlaku sejak Juli tahun lalu serta kenaikan volume pengiriman mendorong total pendapatan Perseroan naik menjadi AS$990,2 juta, meningkat 4% dari AS$950,4 juta pada 2024.
Secara triwulanan, pendapatan mencapai AS$284,8 juta atau naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel secara moderat. Kinerja ini menunjukkan komitmen Perseroan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang sekaligus mempertahankan optimisme terhadap prospek jangka panjang industri.
Dari sisi biaya, meskipun Perseroan melakukan pemeliharaan besar pada salah satu furnace, unit biaya kas penjualan tetap terjaga kompetitif pada level AS$9.339 per ton sepanjang 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan AS$9.374 per ton pada tahun sebelumnya.
Pencapaian ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat dan menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar AS$11.201 per ton pada 2022.
Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Perseroan tetap stabil pada kisaran AS$17–AS$19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran. Angka tersebut mencerminkan bijih yang sepenuhnya berasal dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada 2026.
Sepanjang 2025, PT Vale membukukan laba bersih sebesar AS$76,1 juta, meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan operasional yang konsisten, tingkat produksi yang lebih tinggi, serta pengelolaan biaya yang disiplin.
Pada triwulan keempat 2025, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun seiring turunnya volume produksi. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sebagai bagian dari upaya menjaga kapasitas produksi di masa depan sekaligus memastikan keselamatan operasional.
Pada periode tersebut, harga HSFO turun sekitar 4%, sementara harga diesel dan batu bara masing-masing naik moderat sebesar 6% dan 1%.
Sepanjang tahun, Perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar AS$485,9 juta, meningkat 46% dibandingkan AS$332,1 juta pada 2024. Peningkatan ini terutama mencerminkan investasi untuk proyek pengembangan serta kebutuhan sustaining capital.
Per 31 Desember 2025, saldo kas Perseroan tercatat sebesar AS$376,3 juta, mencerminkan posisi keuangan yang solid untuk mendukung pelaksanaan berbagai proyek pertumbuhan.
Sekilas 2025 dan Prospek 2026
Semester pertama 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi PT Vale, dengan sejumlah gangguan operasional yang sempat memengaruhi stabilitas produksi. Meski demikian, tahun tersebut juga diwarnai sejumlah pencapaian penting.
Pada Juli, Perseroan mulai melakukan penjualan bijih nikel dari Bahodopi yang menjadi sumber pendapatan baru selain produksi nikel matte. Di saat yang sama, PT Vale juga mencatat kemajuan dalam negosiasi peningkatan tingkat payability nikel matte serta berhasil mengamankan premi penjualan bijih.
Inisiatif tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi yang mulai menunjukkan dampak positif, sekaligus mencerminkan ketangguhan Perseroan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Tahun 2025 juga menjadi salah satu periode paling menantang bagi perusahaan menyusul insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus. Peristiwa ini tidak hanya menjadi tantangan teknis dan operasional, tetapi juga menguji integritas serta tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, komitmen Perseroan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab terus diperkuat, termasuk melalui pelaksanaan site audit IRMA pada triwulan keempat yang menegaskan kesiapan perusahaan untuk menjalani evaluasi independen dan mendorong perbaikan berkelanjutan.
PT Vale juga mencatat kemajuan dalam aspek ESG. Hal ini tercermin dari pembaruan peringkat risiko Sustainalytics sebesar 23,7 pada November 2025 yang menempatkan PT Vale sebagai perusahaan pertambangan dengan peringkat terbaik di Indonesia dan termasuk di antara pelaku terdepan secara global.
Pada November, Perseroan memulai pembangunan kembali Furnace 3—pekerjaan teknis kompleks yang membutuhkan koordinasi intensif serta komitmen tinggi terhadap keselamatan kerja.
Di tengah berbagai tantangan eksternal, termasuk tekanan akibat melemahnya harga nikel global, PT Vale tetap menjaga disiplin operasional dengan pengelolaan biaya yang pruden, sembari memprioritaskan keselamatan dan keandalan operasi.
Ke depan, Perseroan memperkuat fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan.
Untuk proyek di Pomalaa, pengembangan tambang telah mencapai kemajuan sekitar 60%. Sejumlah fasilitas pendukung tahap awal operasi juga telah diselesaikan.
Sementara itu, proyek HPAL telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi, termasuk tonggak penting berupa kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga 2026.
Seluruh inisiatif strategis tersebut dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen berkelanjutan terhadap keberlanjutan jangka panjang.
Sepanjang tahun 2025, PT Vale mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 metrik ton (“t”). Angka ini meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 71.311 t.
Secara triwulanan, produksi pada triwulan keempat 2025 (4T25) tercatat 17.052 t atau sekitar 12% lebih rendah dibandingkan 19.391 t pada triwulan ketiga. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, produksi 4T25 juga sedikit lebih rendah dari 18.528 t pada 4T24. Meski demikian, total produksi sepanjang 2025 tetap lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan upaya Perseroan dalam menjaga keandalan operasional sekaligus mengelola produksi secara efisien.
Selain produksi nikel matte, PT Vale juga terus memperluas portofolio komersialnya melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Sepanjang 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (“wmt”), dengan volume bulanan tertinggi terjadi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Secara keseluruhan, Blok Bahodopi menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.
Sejalan dengan stabilitas operasional dan peningkatan efisiensi produksi, pengiriman nikel matte Perseroan juga meningkat secara moderat menjadi 73.093 t pada 2025, dibandingkan 72.625 t pada 2024.
Capaian tersebut mendukung Perseroan mempertahankan EBITDA sebesar AS$228,2 juta sepanjang tahun, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun secara triwulanan, EBITDA tercatat AS$61,9 juta atau turun 17% dari triwulan sebelumnya, seiring penurunan volume produksi.
Di sisi harga, rata-rata harga realisasi nikel matte pada 2025 tercatat AS$12.157 per ton, turun 7% dibandingkan AS$13.086 per ton pada 2024. Meskipun menghadapi kondisi harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang berlaku sejak Juli tahun lalu serta kenaikan volume pengiriman mendorong total pendapatan Perseroan naik menjadi AS$990,2 juta, meningkat 4% dari AS$950,4 juta pada 2024.
Secara triwulanan, pendapatan mencapai AS$284,8 juta atau naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel secara moderat. Kinerja ini menunjukkan komitmen Perseroan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang sekaligus mempertahankan optimisme terhadap prospek jangka panjang industri.
Dari sisi biaya, meskipun Perseroan melakukan pemeliharaan besar pada salah satu furnace, unit biaya kas penjualan tetap terjaga kompetitif pada level AS$9.339 per ton sepanjang 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan AS$9.374 per ton pada tahun sebelumnya.
Pencapaian ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat dan menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar AS$11.201 per ton pada 2022.
Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Perseroan tetap stabil pada kisaran AS$17–AS$19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran. Angka tersebut mencerminkan bijih yang sepenuhnya berasal dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada 2026.
Sepanjang 2025, PT Vale membukukan laba bersih sebesar AS$76,1 juta, meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan operasional yang konsisten, tingkat produksi yang lebih tinggi, serta pengelolaan biaya yang disiplin.
Pada triwulan keempat 2025, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun seiring turunnya volume produksi. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sebagai bagian dari upaya menjaga kapasitas produksi di masa depan sekaligus memastikan keselamatan operasional.
Pada periode tersebut, harga HSFO turun sekitar 4%, sementara harga diesel dan batu bara masing-masing naik moderat sebesar 6% dan 1%.
Sepanjang tahun, Perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar AS$485,9 juta, meningkat 46% dibandingkan AS$332,1 juta pada 2024. Peningkatan ini terutama mencerminkan investasi untuk proyek pengembangan serta kebutuhan sustaining capital.
Per 31 Desember 2025, saldo kas Perseroan tercatat sebesar AS$376,3 juta, mencerminkan posisi keuangan yang solid untuk mendukung pelaksanaan berbagai proyek pertumbuhan.
Sekilas 2025 dan Prospek 2026
Semester pertama 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi PT Vale, dengan sejumlah gangguan operasional yang sempat memengaruhi stabilitas produksi. Meski demikian, tahun tersebut juga diwarnai sejumlah pencapaian penting.
Pada Juli, Perseroan mulai melakukan penjualan bijih nikel dari Bahodopi yang menjadi sumber pendapatan baru selain produksi nikel matte. Di saat yang sama, PT Vale juga mencatat kemajuan dalam negosiasi peningkatan tingkat payability nikel matte serta berhasil mengamankan premi penjualan bijih.
Inisiatif tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi yang mulai menunjukkan dampak positif, sekaligus mencerminkan ketangguhan Perseroan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Tahun 2025 juga menjadi salah satu periode paling menantang bagi perusahaan menyusul insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus. Peristiwa ini tidak hanya menjadi tantangan teknis dan operasional, tetapi juga menguji integritas serta tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, komitmen Perseroan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab terus diperkuat, termasuk melalui pelaksanaan site audit IRMA pada triwulan keempat yang menegaskan kesiapan perusahaan untuk menjalani evaluasi independen dan mendorong perbaikan berkelanjutan.
PT Vale juga mencatat kemajuan dalam aspek ESG. Hal ini tercermin dari pembaruan peringkat risiko Sustainalytics sebesar 23,7 pada November 2025 yang menempatkan PT Vale sebagai perusahaan pertambangan dengan peringkat terbaik di Indonesia dan termasuk di antara pelaku terdepan secara global.
Pada November, Perseroan memulai pembangunan kembali Furnace 3—pekerjaan teknis kompleks yang membutuhkan koordinasi intensif serta komitmen tinggi terhadap keselamatan kerja.
Di tengah berbagai tantangan eksternal, termasuk tekanan akibat melemahnya harga nikel global, PT Vale tetap menjaga disiplin operasional dengan pengelolaan biaya yang pruden, sembari memprioritaskan keselamatan dan keandalan operasi.
Ke depan, Perseroan memperkuat fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan.
Untuk proyek di Pomalaa, pengembangan tambang telah mencapai kemajuan sekitar 60%. Sejumlah fasilitas pendukung tahap awal operasi juga telah diselesaikan.
Sementara itu, proyek HPAL telah mencapai sekitar 50% tahap konstruksi, termasuk tonggak penting berupa kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga 2026.
Seluruh inisiatif strategis tersebut dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen berkelanjutan terhadap keberlanjutan jangka panjang.
(TRI)
Berita Terkait
Sulsel
PT Vale dan Pemkab Luwu Timur Sepakati Penyelesaian Lahan Old Camp
Komitmen menghadirkan kepastian bagi masyarakat sekaligus memperkuat stabilitas pembangunan daerah kembali ditegaskan melalui kolaborasi antara PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari MIND ID, bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Timur
Jum'at, 13 Mar 2026 10:21
Ekbis
Kinerja Solid 2025, Adira Finance Hadirkan Program Ramadan untuk Masyarakat
Menyambut momentum tersebut, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menghadirkan rangkaian program bertajuk “Jalani Ramadan dengan Tenang Bersama Adira.”
Kamis, 12 Mar 2026 13:20
News
PT Vale Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Panen Demplot Padi Berkelanjutan di Kolaka
Program ini merupakan kelanjutan dari penanaman perdana yang dilakukan pada November 2025 di tiga desa binaan PT Vale, yakni Desa Puubunga dan Desa Pubenua di Kecamatan Baula, serta Desa Lemedai di Kecamatan Tanggetada.
Senin, 09 Mar 2026 22:14
News
Di Tengah Tekanan Harga Nikel Global, PT Vale Tegaskan Industri Harus Jadi Solusi untuk Indonesia
Di tengah fluktuasi harga nikel dunia dan sorotan publik terhadap dampak industri tambang, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari grup MIND ID, memilih berdiri dengan satu pesan yang jelas: industri harus menjadi solusi, bukan beban
Selasa, 03 Mar 2026 11:49
Ekbis
Hari Jadi Kolaka, Dua Milestone Strategis PT Vale Jadi Tonggak Pertumbuhan Berkelanjutan
Momentum Hari Jadi Kabupaten Kolaka ke-66 menjadi refleksi penting perjalanan pembangunan daerah yang semakin maju dan berdaya saing.
Minggu, 01 Mar 2026 15:25
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Membludak, 200 Casis Ikuti Seleksi Gelombang Pertama Masuk Madrasah Arifah Gowa
2
SPJM Berangkatkan 360 Pemudik Gratis dari Makassar ke Palopo dan Sorowako
3
Mudik Aman Bersama PLN, 500 Pemudik dari Makassar Berlayar ke Surabaya dan Baubau
4
Warga Selayar Temukan Lagi Plastik "Bugatti" Diduga Kokain di Pesisir Pantai, Total jadi 30 Paket
5
Kementerian ESDM Tinjau Kesiapan Infrastruktur Energi di Sulsel Jelang Idulfitri
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Membludak, 200 Casis Ikuti Seleksi Gelombang Pertama Masuk Madrasah Arifah Gowa
2
SPJM Berangkatkan 360 Pemudik Gratis dari Makassar ke Palopo dan Sorowako
3
Mudik Aman Bersama PLN, 500 Pemudik dari Makassar Berlayar ke Surabaya dan Baubau
4
Warga Selayar Temukan Lagi Plastik "Bugatti" Diduga Kokain di Pesisir Pantai, Total jadi 30 Paket
5
Kementerian ESDM Tinjau Kesiapan Infrastruktur Energi di Sulsel Jelang Idulfitri