PLN UID Sulselrabar Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Electrifying Agriculture
Senin, 08 Jun 2026 22:08
Petani memanfaatkan pompa air berbasis listrik untuk mengairi persawahan di Sidrap. Hal itu merupakan bagian dari program Electrifying Agriculture dari PLN. Foto/Istimewa
SIDRAP - PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) terus memperkuat dukungannya terhadap program ketahanan pangan nasional melalui Electrifying Agriculture (EA). Program ini mendorong pemanfaatan energi listrik pada sektor pertanian dan peternakan guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kesejahteraan masyarakat.
Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat telah mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 206.312 kiloVolt Ampere (kVA).
Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan listrik sebagai pendukung modernisasi sektor agrikultur.Salah satu implementasi program tersebut berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Di daerah ini, PLN mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang digagas Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Pemanfaatan listrik terlihat di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti. Kawasan seluas sekitar 1.750 hektare tersebut kini memanfaatkan listrik untuk mengoperasikan pompa irigasi. Sebanyak 11 titik pompa telah beroperasi menggunakan listrik sejak April 2026.
Sebelum beralih ke listrik, petani mengandalkan gas dan diesel untuk mengoperasikan pompa air. Dalam sehari, kebutuhan operasional mencapai sekitar tiga tabung LPG 3 kilogram dengan biaya sekitar Rp75 ribu atau setara Rp2,25 juta per bulan. Setelah menggunakan listrik, konsumsi energi rata-rata hanya sekitar 250 kWh per bulan dengan biaya sekitar Rp270 ribu.
Selain memberikan penghematan yang signifikan, penggunaan pompa listrik juga membuat operasional irigasi menjadi lebih praktis. Petani tidak lagi bergantung pada ketersediaan bahan bakar yang terkadang sulit diperoleh. Pompa juga dapat dioperasikan tanpa kebisingan dan emisi yang biasanya dihasilkan mesin berbahan bakar fosil.
Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengaku merasakan langsung manfaat penggunaan listrik dalam kegiatan usaha tani.
“Kami merasa sangat terbantu sejak menggunakan listrik untuk pompa air. Sebelumnya kami harus membeli dan mengangkut gas setiap hari. Sekarang jauh lebih mudah dan biaya produksi bisa ditekan hingga tiga sampai empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya. Selain itu, pengoperasian pompa juga lebih nyaman karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan,” ujar Ruslan.

Dukungan PLN melalui Electrifying Agriculture tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga sektor peternakan. Salah satu contohnya adalah peternakan ayam petelur CV Cahaya Tiga Putri di Kabupaten Sidenreng Rappang yang saat ini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk mendukung pengembangan kandang modern.
Sebelum menggunakan listrik PLN, kebutuhan energi peternakan dipenuhi oleh pembangkit diesel dengan biaya produksi listrik mencapai sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya energi turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh. Dengan demikian, biaya operasional dapat ditekan hingga empat kali lebih hemat. Jika sebelumnya biaya energi mencapai sekitar Rp240 juta per bulan, kini hanya sekitar Rp60 juta per bulan.
Ketersediaan pasokan listrik yang andal juga memungkinkan penerapan teknologi peternakan modern. Sistem pemberian pakan, pengaturan suhu kandang, ventilasi, hingga pencahayaan dapat dijalankan secara otomatis sehingga meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas ternak.
Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, mengatakan pemanfaatan listrik PLN telah membantu pengembangan usaha peternakan yang dikelolanya.
“Dengan listrik PLN, kegiatan operasional peternakan menjadi jauh lebih hemat, mudah, dan efisien. Seluruh sistem kandang dapat berjalan secara otomatis sehingga pengelolaan ternak menjadi lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan dan mengelola stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar untuk kebutuhan harian. Hal ini sangat membantu peningkatan produktivitas sekaligus pengembangan usaha kami,” kata Usman.
Ia turut mengapresiasi komitmen PLN dalam menyediakan pasokan listrik yang andal untuk mendukung sektor agrikultur di Kabupaten Sidenreng Rappang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang terus menghadirkan layanan listrik yang andal. Dukungan ini menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kemajuan sektor peternakan,” tambahnya.
Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, juga menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan PLN dalam menghadirkan pompanisasi listrik bagi petani.
“Kami mewakili masyarakat dan petani mengucapkan terima kasih atas upaya PLN menghadirkan pompanisasi listrik. Kami optimistis kehadiran listrik akan meningkatkan produktivitas hasil panen petani di daerah ini,” ujarnya.
Menurut Syaharuddin, pemanfaatan pompanisasi listrik berpotensi meningkatkan intensitas tanam dan memungkinkan petani memperoleh hasil panen hingga tiga kali dalam setahun.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan bahwa Electrifying Agriculture merupakan salah satu program strategis PLN untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik yang efisien, andal, dan produktif.
“PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi sekaligus menekan biaya operasional. Program ini juga menjadi bentuk dukungan PLN terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Edyansyah.
Melalui Electrifying Agriculture, PLN UID Sulselrabar terus memperluas pemanfaatan energi listrik di sektor agrikultur. Upaya ini diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, mendorong modernisasi pertanian dan peternakan, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat telah mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 206.312 kiloVolt Ampere (kVA).
Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan listrik sebagai pendukung modernisasi sektor agrikultur.Salah satu implementasi program tersebut berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Di daerah ini, PLN mendukung Program Optimalisasi Lahan dan Listrik Masuk Sawah yang digagas Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Pemanfaatan listrik terlihat di kawasan persawahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua, Desa Baranti. Kawasan seluas sekitar 1.750 hektare tersebut kini memanfaatkan listrik untuk mengoperasikan pompa irigasi. Sebanyak 11 titik pompa telah beroperasi menggunakan listrik sejak April 2026.
Sebelum beralih ke listrik, petani mengandalkan gas dan diesel untuk mengoperasikan pompa air. Dalam sehari, kebutuhan operasional mencapai sekitar tiga tabung LPG 3 kilogram dengan biaya sekitar Rp75 ribu atau setara Rp2,25 juta per bulan. Setelah menggunakan listrik, konsumsi energi rata-rata hanya sekitar 250 kWh per bulan dengan biaya sekitar Rp270 ribu.
Selain memberikan penghematan yang signifikan, penggunaan pompa listrik juga membuat operasional irigasi menjadi lebih praktis. Petani tidak lagi bergantung pada ketersediaan bahan bakar yang terkadang sulit diperoleh. Pompa juga dapat dioperasikan tanpa kebisingan dan emisi yang biasanya dihasilkan mesin berbahan bakar fosil.
Ketua Gapoktan Duampanua, Ruslan, mengaku merasakan langsung manfaat penggunaan listrik dalam kegiatan usaha tani.
“Kami merasa sangat terbantu sejak menggunakan listrik untuk pompa air. Sebelumnya kami harus membeli dan mengangkut gas setiap hari. Sekarang jauh lebih mudah dan biaya produksi bisa ditekan hingga tiga sampai empat kali lebih hemat dibanding sebelumnya. Selain itu, pengoperasian pompa juga lebih nyaman karena tidak bising dan lebih ramah lingkungan,” ujar Ruslan.

Dukungan PLN melalui Electrifying Agriculture tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga sektor peternakan. Salah satu contohnya adalah peternakan ayam petelur CV Cahaya Tiga Putri di Kabupaten Sidenreng Rappang yang saat ini menggunakan daya listrik sebesar 555 kVA dengan tambahan daya 197 kVA untuk mendukung pengembangan kandang modern.
Sebelum menggunakan listrik PLN, kebutuhan energi peternakan dipenuhi oleh pembangkit diesel dengan biaya produksi listrik mencapai sekitar Rp4.500 per kWh. Setelah beralih ke listrik PLN, biaya energi turun menjadi sekitar Rp1.100 per kWh. Dengan demikian, biaya operasional dapat ditekan hingga empat kali lebih hemat. Jika sebelumnya biaya energi mencapai sekitar Rp240 juta per bulan, kini hanya sekitar Rp60 juta per bulan.
Ketersediaan pasokan listrik yang andal juga memungkinkan penerapan teknologi peternakan modern. Sistem pemberian pakan, pengaturan suhu kandang, ventilasi, hingga pencahayaan dapat dijalankan secara otomatis sehingga meningkatkan efisiensi kerja dan produktivitas ternak.
Direktur CV Cahaya Tiga Putri, Usman Appas, mengatakan pemanfaatan listrik PLN telah membantu pengembangan usaha peternakan yang dikelolanya.
“Dengan listrik PLN, kegiatan operasional peternakan menjadi jauh lebih hemat, mudah, dan efisien. Seluruh sistem kandang dapat berjalan secara otomatis sehingga pengelolaan ternak menjadi lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan dan mengelola stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar untuk kebutuhan harian. Hal ini sangat membantu peningkatan produktivitas sekaligus pengembangan usaha kami,” kata Usman.
Ia turut mengapresiasi komitmen PLN dalam menyediakan pasokan listrik yang andal untuk mendukung sektor agrikultur di Kabupaten Sidenreng Rappang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN yang terus menghadirkan layanan listrik yang andal. Dukungan ini menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kemajuan sektor peternakan,” tambahnya.
Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, juga menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan PLN dalam menghadirkan pompanisasi listrik bagi petani.
“Kami mewakili masyarakat dan petani mengucapkan terima kasih atas upaya PLN menghadirkan pompanisasi listrik. Kami optimistis kehadiran listrik akan meningkatkan produktivitas hasil panen petani di daerah ini,” ujarnya.
Menurut Syaharuddin, pemanfaatan pompanisasi listrik berpotensi meningkatkan intensitas tanam dan memungkinkan petani memperoleh hasil panen hingga tiga kali dalam setahun.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan bahwa Electrifying Agriculture merupakan salah satu program strategis PLN untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik yang efisien, andal, dan produktif.
“PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas. Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi sekaligus menekan biaya operasional. Program ini juga menjadi bentuk dukungan PLN terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Edyansyah.
Melalui Electrifying Agriculture, PLN UID Sulselrabar terus memperluas pemanfaatan energi listrik di sektor agrikultur. Upaya ini diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, mendorong modernisasi pertanian dan peternakan, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
(TRI)
Berita Terkait
News
Kelangkaan BBM dan Gas Mulai Ganggu Aktivitas Pertanian di Gowa
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji selama beberapa waktu terakhir mulai mengganggu aktivitas pertanian dan perkebunan di Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Sabtu, 12 Sep 2026 19:19
News
PLN Siapkan PLTMG Selayar 10 MW untuk Perkuat Listrik Kepulauan
PLN menyiapkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Selayar berkapasitas 10 megawatt (MW) untuk memperkuat sistem kelistrikan di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Sabtu, 12 Sep 2026 07:15
Sulsel
Sawah Mengering, Masmindo Bantu Petani Luwu Cegah Ancaman Gagal Panen
Secara keseluruhan, bantuan tersebut menjangkau sekitar 70 hektare lahan pertanian yang tersebar di Tampumia Radda, Balo-Balo, Kurusumanga, dan Senga Selatan.
Jum'at, 11 Sep 2026 09:24
News
Pangdivif 3 Kostrad Pimpin 200 Prajurit Latihan Terjun Payung di Sidrap, Ribuan Warga Antusias
Aksi para prajurit yang mendarat dari udara itu menarik perhatian masyarakat. Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan langsung latihan terjun payung itu.
Jum'at, 11 Sep 2026 08:52
News
PLN UID Sulselrabar Perkuat Ikhtiar Hadapi Cuaca Lewat Salat Istisqa
PLN UID Sulselrabar menggelar Shalat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan yang membawa rahmat dan keberkahan.
Kamis, 10 Sep 2026 19:08
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tuntaskan Rakortas di Makassar, Partai Gema Bangsa Kunci Strategi Pemenangan Pemilu 2029
2
Penjualan Low MPV Toyota Naik 40 Persen, Veloz Hybrid Jadi Pendorong
3
Kuasa Hukum Pertanyakan Pencarian Tiga DPO Kasus Penyiraman Air Cabai di Jeneponto
4
Keluarga Bayi Meninggal di RSIA Paramount Makassar Siapkan Langkah Hukum
5
PLN Siapkan PLTMG Selayar 10 MW untuk Perkuat Listrik Kepulauan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tuntaskan Rakortas di Makassar, Partai Gema Bangsa Kunci Strategi Pemenangan Pemilu 2029
2
Penjualan Low MPV Toyota Naik 40 Persen, Veloz Hybrid Jadi Pendorong
3
Kuasa Hukum Pertanyakan Pencarian Tiga DPO Kasus Penyiraman Air Cabai di Jeneponto
4
Keluarga Bayi Meninggal di RSIA Paramount Makassar Siapkan Langkah Hukum
5
PLN Siapkan PLTMG Selayar 10 MW untuk Perkuat Listrik Kepulauan