Strategi PT Vale Tekan Emisi: Dari Boiler Listrik hingga Teknologi HPAL

Senin, 02 Mar 2026 13:21
Strategi PT Vale Tekan Emisi: Dari Boiler Listrik hingga Teknologi HPAL
PT Vale Indonesia Tbk terus memperkuat langkah dekarbonisasi operasinya melalui berbagai strategi efisiensi energi, pemanfaatan energi bersih, dan penerapan teknologi rendah karbon. Foto/Dok PT Vale
Comment
Share
MAKASSAR - PT Vale Indonesia Tbk terus memperkuat langkah dekarbonisasi operasinya melalui berbagai strategi efisiensi energi, pemanfaatan energi bersih, dan penerapan teknologi rendah karbon. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 33 persen pada 2030 dan emisi nol bersih pada 2050.

Chief Executive Officer (CEO) PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan strategi pengurangan emisi perusahaan berfokus pada tiga aspek utama, yakni efisiensi energi, transisi menuju bahan bakar yang lebih bersih, serta integrasi teknologi rendah karbon dalam proses produksi.

Dikutip dari laman resmi PT Vale Indonesia, salah satu langkah yang telah dijalankan adalah elektrifikasi boiler yang digunakan dalam rantai produksi nikel. Sebelumnya, boiler menggunakan bahan bakar High Sulfur Fuel Oil (HSFO), sementara saat ini telah beralih ke electric boiler yang sumber energinya berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) milik perusahaan.

Selain menekan penggunaan bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon, penggunaan boiler listrik juga meningkatkan efisiensi operasional. Jika sebelumnya diperlukan waktu beberapa jam untuk menghasilkan uap kerja, kini proses tersebut dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar 10 menit.

PT Vale juga mengoptimalkan pemanfaatan energi bersih melalui peningkatan efisiensi tiga PLTA yang menjadi sumber utama pasokan listrik perusahaan. Langkah tersebut diperkuat dengan berbagai program penghematan energi, seperti pemasangan sun switch di kawasan perumahan karyawan yang memungkinkan lampu padam secara otomatis saat kondisi terang, serta penggantian lampu High Pressure Sodium (HPS) menjadi lampu LED yang lebih hemat energi.

Dalam jangka menengah, perusahaan tengah merencanakan optimalisasi pengelolaan bahan baku di wet ore stockpile melalui redesain area penyimpanan bijih. Langkah ini bertujuan menurunkan kadar air bijih sebelum memasuki proses pengeringan sehingga konsumsi energi pada tanur pengering dapat ditekan.

Selain itu, PT Vale juga melakukan peralihan bahan bakar dari batu bara menuju biokarbon dan biofuel pada proses pengeringan dan reduksi. Di sisi hilir, perusahaan memanfaatkan panas limbah yang berasal dari gas buang dan slag pada electric furnace untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi.

"Melalui strategi ini, PT Vale Indonesia tidak hanya mengurangi kebutuhan energi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mempercepat transisi menuju operasi pertambangan yang lebih ramah lingkungan," kata Bernardus.

Komitmen dekarbonisasi juga diwujudkan melalui pengembangan fasilitas pengolahan nikel berbasis teknologi rendah karbon. Bersama mitra strategis, PT Vale mengembangkan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Bahodopi dan Pomalaa dengan kapasitas produksi mencapai 300.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Menurut Bernardus, teknologi HPAL memiliki intensitas energi yang lebih rendah dibandingkan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang saat ini digunakan di Sorowako. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung produksi nikel yang lebih berkelanjutan sekaligus menekan emisi karbon dari sektor pengolahan mineral. Pembangunan smelter HPAL di Bahodopi direncanakan dimulai pada kuartal IV 2025.

Untuk memastikan target pengurangan emisi berjalan sesuai rencana, PT Vale juga melakukan inventarisasi dan pemantauan emisi secara berkala. Kinerja perusahaan dibandingkan dengan standar industri di tingkat nasional, Asia, hingga global sebagai tolok ukur efektivitas program dekarbonisasi yang dijalankan.

Selain emisi GRK, perusahaan juga terus mengendalikan emisi konvensional seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), volatile organic compounds (VOC), partikulat, merkuri, dan timbal. Berbagai inisiatif dilakukan, mulai dari stabilisasi proses tungku reduksi, penggunaan bahan bakar dengan kandungan sulfur lebih rendah, hingga pemasangan electrostatic precipitator (ESP) untuk menekan emisi partikulat.

Perusahaan juga mengembangkan proyek aglomerasi debu sebagai bagian dari upaya daur ulang material sekaligus pengurangan emisi. Transformasi tersebut dilakukan melalui pembangunan fasilitas aglomerasi yang akan mengolah debu hasil proses produksi agar dapat dimanfaatkan kembali.

Melalui peta jalan dekarbonisasi yang mulai diimplementasikan sejak 2019, PT Vale menargetkan pengurangan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 33 persen pada 2030. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung transisi energi bersih sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel rendah karbon global.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru