Vale Perkuat Hilirisasi Nikel, Autoclave Tiba di Proyek HPAL Sambalagi

Kamis, 23 Jul 2026 07:58
Vale Perkuat Hilirisasi Nikel, Autoclave Tiba di Proyek HPAL Sambalagi
Kedatangan autoclave, peralatan utama proyek HPAL Sambalagi di Morowali menjadi penanda dimulainya fase konstruksi menuju operasional fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah dari PT Vale. Foto/IST
Comment
Share
MOROWALI - PT Vale Indonesia Tbk bersama mitranya, GEM Co. Ltd. dan EcoPro, kembali mencatat kemajuan penting dalam pengembangan industri hilirisasi nikel nasional. Kedatangan autoclave, peralatan utama pada proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Bungku Pesisir, Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi penanda dimulainya fase konstruksi yang semakin strategis menuju operasional fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah.

Proyek HPAL Sambalagi merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali sekaligus berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengembangannya dilakukan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan PT Vale, GEM Co. Ltd., dan EcoPro yang mengintegrasikan tambang Bahodopi dengan fasilitas pengolahan nikel di kawasan Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali.

Autoclave menjadi komponen paling vital dalam teknologi HPAL. Peralatan ini berfungsi mengolah bijih limonit menggunakan kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik yang mengandung nikel dan kobalt.

Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP. Bahan bakunya berasal dari sekitar 10,4 juta ton bijih limonit per tahun yang dipasok dari area pertambangan PT Vale di Bahodopi. Pabrik dibangun dalam tiga jalur produksi dan ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan kedatangan autoclave merupakan tonggak penting yang menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan hilirisasi mineral yang berkelanjutan.

"Autoclave merupakan jantung dari proses HPAL yang memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi untuk mendukung rantai pasok global kendaraan listrik. Momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra dalam membangun industri pengolahan nikel yang berdaya saing, mengedepankan keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat sekitar," ujarnya.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan rendah karbon, fasilitas HPAL Sambalagi juga mengintegrasikan sejumlah teknologi ramah lingkungan. Kebutuhan listrik operasional akan didukung oleh Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang memanfaatkan panas sisa proses produksi untuk menghasilkan energi secara lebih efisien. Selain itu, perusahaan juga merencanakan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya guna meningkatkan penggunaan energi bersih.

Tak hanya membangun fasilitas pengolahan, proyek ini juga dilengkapi berbagai infrastruktur pendukung, seperti dermaga logistik, fasilitas utilitas, kawasan hunian pekerja, hingga fasilitas sosial yang menunjang operasional jangka panjang.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menilai pembangunan HPAL Sambalagi menunjukkan arah baru hilirisasi Indonesia yang tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga mengedepankan kolaborasi internasional, keberlanjutan, dan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, proyek tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok mampu memperkuat kedaulatan sumber daya, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Hari ini kita memang menyambut kedatangan autoclave, tetapi yang sesungguhnya sedang dibangun adalah ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah maupun Indonesia," katanya.

Rosan juga mengapresiasi pembangunan kawasan industri yang tidak hanya menghadirkan fasilitas produksi, tetapi turut menyediakan sarana olahraga, ruang rekreasi, dan fasilitas sosial lainnya. Ia menilai pendekatan tersebut mencerminkan pengembangan kawasan industri yang inklusif sekaligus mendukung target Net Zero Emissions pemerintah.

Dukungan serupa disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, yang menilai pengembangan HPAL Sambalagi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial melalui pemberdayaan UMKM lokal dan penyediaan fasilitas bagi masyarakat.

Sementara itu, Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, mengatakan proyek tersebut diyakini akan memperkuat posisi Morowali sebagai pusat hilirisasi mineral nasional.

Menurutnya, investasi yang masuk akan membuka lapangan kerja baru, menggerakkan sektor usaha lokal, serta menciptakan efek berganda bagi pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Morowali pun berkomitmen menjaga iklim investasi yang kondusif dan terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Kedatangan autoclave menjadi fondasi penting menuju tahap pemasangan peralatan utama, commissioning, hingga operasional fasilitas HPAL Sambalagi. Melalui proyek ini, PT Vale bersama mitranya di PT BNSI terus memperkuat kontribusi terhadap agenda hilirisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan transisi energi.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru