Investor Kanada Jajaki Proyek EBT di Sidrap, Bidik Listrik dari Sampah & Kotoran Ayam

Minggu, 02 Agu 2026 17:31
Investor Kanada Jajaki Proyek EBT di Sidrap, Bidik Listrik dari Sampah & Kotoran Ayam
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif saat menerima rombongan investor dari Kanada di rumah jabatan bupati, belum lama ini. Foto/Istimewa
Comment
Share
SIDRAP - Perusahaan energi asal Kanada, Portage Energy Group, bersama Acacia Energy menjajaki investasi energi baru terbarukan alias EBT di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Proyek yang ditawarkan meliputi pembangkit listrik tenaga sampah (waste-to-energy), pembangkit listrik biogas berbahan baku kotoran ayam, panas bumi (geothermal), hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Penjajakan investasi tersebut dibahas dalam pertemuan antara Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif dan rombongan investor di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, belum lama ini. Delegasi dipimpin Co-Founder sekaligus Chief Commercial Officer (CCO) Portage Energy Group Stephen Akpakwu, didampingi Chief Executive Officer (CEO) Acacia Energy Jose Roy Borromeo, Chief Financial Officer (CFO) Chuckie Borromeo, serta Direktur Perwakilan Indonesia Muhammad Malik Setiawan.

Bupati Syaharuddin mengatakan kunjungan tersebut merupakan tahap awal untuk mengkaji potensi pengembangan empat sektor energi baru terbarukan di Sidrap.

"Investor datang untuk menjajaki pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah, pembangkit listrik biogas dari kotoran ayam, geothermal, dan PLTS. Semua masih dalam tahap penjajakan potensi," katanya.

Menurutnya, Sidrap memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan proyek waste-to-energy karena berada di tengah sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan. Posisi tersebut membuka peluang kerja sama antardaerah dalam penyediaan bahan baku sampah.

Ia menyebut daerah seperti Parepare, Soppeng, Wajo, Barru, Enrekang, dan Pinrang berpotensi menjadi mitra penyedia sampah. Jika proyek tersebut terealisasi, beban pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah dapat berkurang sekaligus menghasilkan energi listrik.

Selain sampah, investor juga tertarik mengembangkan pembangkit listrik biogas berbahan baku limbah peternakan ayam. Syaharuddin menilai ketersediaan bahan baku di Sidrap sangat mencukupi.

"Kebutuhan proyek sekitar 100 ton kotoran ayam per hari, sementara produksi di Sidrap mencapai sekitar 700 ton per hari. Potensi ini sangat memadai dan berkelanjutan," ujarnya.

Orang nomor satu di Sidrap itu menyambut positif rencana investasi tersebut karena dinilai mampu memberikan manfaat ganda, yakni mengurangi persoalan lingkungan, menciptakan lapangan kerja, dan menambah pasokan energi listrik.

Bupati Syaharuddin mengungkapkan telah berkomunikasi dengan sejumlah kepala daerah terkait rencana kerja sama penyediaan sampah dari enam kabupaten. Respons yang diterima disebut positif dan kini tinggal menunggu tahapan kajian lanjutan.

"Karena nilai investasinya cukup besar, kami akan melaporkan rencana ini kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan pemerintah pusat agar mendapat dukungan serta fasilitasi," katanya.

Ia menambahkan, rencana investasi tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong daerah mengembangkan energi baru terbarukan.

"Sidrap sudah memiliki pembangkit listrik tenaga bayu. Jika proyek ini terealisasi, akan bertambah pembangkit listrik dari sampah dan biogas berbahan baku kotoran ayam sehingga potensi energi terbarukan daerah semakin kuat," ujarnya.

Sementara itu, Chief Commercial Officer (CCO) Portage Energy Group, Stephen Akpakwu, mengatakan Sidrap dipilih karena dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat energi hijau di Indonesia.

"Sidrap memiliki kombinasi potensi yang sangat menarik, mulai dari energi angin, bio-organik, pengolahan sampah menjadi listrik hingga geothermal. Tugas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi proyek nyata," katanya.

Stephen menilai tidak banyak daerah di Sulawesi yang memiliki kombinasi sumber energi terbarukan seperti Sidrap. Karena itu, daerah tersebut menjadi salah satu lokasi paling potensial bagi pengembangan investasi perusahaan.

Terkait proyek waste-to-energy, ia mengungkapkan kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ton sampah per hari. Kebutuhan tersebut akan dipenuhi melalui kolaborasi dengan sejumlah pemerintah daerah di sekitar Sidrap.

"Berdasarkan pembicaraan dengan Bupati, akan dibangun kerja sama antarkabupaten untuk memastikan pasokan sampah mencukupi sehingga fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik dapat beroperasi secara berkelanjutan," ujarnya.

Stephen juga mengapresiasi sambutan Pemerintah Kabupaten Sidrap selama kunjungan berlangsung dan menyatakan optimistis penjajakan investasi dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru