Barantin Kawal Ekspor, Karding Optimistis Indonesia Bisa Rajai Pasar Udang Dunia

Sabtu, 08 Agu 2026 14:49
Barantin Kawal Ekspor, Karding Optimistis Indonesia Bisa Rajai Pasar Udang Dunia
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding berfoto bersama pimpinan dan manajemen PT Bomar seusai kunjungan kerja. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan utama industri udang dunia. Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengatakan peluang tersebut dapat diwujudkan jika ekosistem udang dari budidaya, pengolahan, hingga sistem jaminan mutu dan karantina dibangun secara terintegrasi sesuai standar internasional.

Optimisme itu disampaikan Karding saat meninjau PT Bogatama Marinusa (Bomar), perusahaan pengolahan dan eksportir udang di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8) kemarin.

Menurut Karding, Bomar menunjukkan bahwa industri udang Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing di pasar global melalui penerapan standar produksi dan pengolahan yang tinggi.

"Bomar merupakan salah satu perusahaan yang menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya bisa menjadi pemain udang nomor satu di dunia. Kalau udang ini dikelola dengan tepat, seperti ekosistem yang dibangun Bomar dengan standar yang sangat tinggi, saya optimistis potensi itu bisa kita wujudkan," ujar Karding.

Dalam kunjungan tersebut, Karding meninjau rantai produksi udang ekspor, mulai dari proses pengolahan (breaded process), pengemasan, hingga pemeriksaan karantina sebelum produk dikirim ke negara tujuan.

Ia mengatakan daya saing komoditas perikanan Indonesia di pasar global tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh sistem karantina yang mampu menjamin kesehatan, keamanan pangan, mutu, dan ketertelusuran sesuai persyaratan negara tujuan.

"Standar yang diterapkan Bomar sudah memenuhi standar ekspor dunia. Tugas kami memastikan setiap komoditas perikanan yang keluar maupun masuk, baik antarwilayah maupun antarnegara, benar-benar sehat, mutunya terjaga, dan kualitasnya sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan," kata Karding.

Karantina Jadi Penopang Ekspor
CEO PT Bogatama Marinusa Tigor Chendarma mengatakan layanan karantina menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran ekspor perusahaan. Kepastian layanan yang cepat dan kredibel, menurutnya, membantu perusahaan memenuhi standar perdagangan internasional sekaligus menjaga kepercayaan mitra dagang.

"Layanan karantina bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi menjadi bagian penting dalam memastikan setiap produk yang kami kirim telah memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang dipersyaratkan negara tujuan. Kepastian layanan yang cepat dan kredibel sangat membantu kami menjaga kelancaran ekspor serta mempertahankan kepercayaan mitra dagang di luar negeri," ujar Tigor.

Kepala Karantina Sulawesi Selatan Sitti Chadidjah mengatakan setiap komoditas yang akan diekspor harus memenuhi persyaratan kesehatan dan teknis sebelum sertifikat karantina diterbitkan.

"Komitmen kami adalah memastikan setiap komoditas yang diekspor telah memenuhi seluruh persyaratan karantina sehingga dapat diterima negara tujuan tanpa hambatan. Di sisi lain, kami terus meningkatkan kualitas layanan agar proses sertifikasi berlangsung cepat, akurat, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha," katanya.

Sepanjang Semester I 2026, PT Bomar tercatat mengekspor 859,4 ton udang senilai Rp148,2 miliar. Komoditas tersebut terdiri atas 765,1 ton udang vaname senilai Rp122,5 miliar dan 94,3 ton udang windu senilai Rp25,7 miliar.

Seluruh komoditas telah melalui tindakan karantina dan diterbitkan 69 sertifikat karantina untuk memenuhi persyaratan ekspor ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Vietnam, dan Tiongkok.

Kunjungan kerja tersebut turut didampingi Tenaga Ahli Utama dan Inspektur Barantin. Barantin menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pelaku usaha untuk menjaga kelancaran ekspor sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perikanan Indonesia di pasar internasional.

Bagi Barantin, sertifikat karantina bukan sekadar dokumen administrasi, melainkan jaminan bahwa produk perikanan Indonesia telah memenuhi standar kesehatan dan keamanan yang dipersyaratkan negara tujuan.

Dorong Hilirisasi Udang
PT Bogatama Marinusa merupakan perusahaan perikanan yang berdiri sejak 1988 dan mengembangkan bisnis udang dari hulu hingga hilir.

General Manager PT Bomar Rirhy Jumeri mengatakan perusahaan mulai mengembangkan produk olahan bernilai tambah sejak 2021, termasuk produk siap saji yang sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor.

Sekitar 80 persen produk Bomar dipasarkan ke Jepang, terutama produk tempura udang. Sisanya diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Perusahaan juga mulai memperluas pasar ke sejumlah negara Asia, seperti China, Vietnam, dan India.

Saat ini Bomar mengekspor rata-rata 15 kontainer produk setiap bulan dan mengklaim belum pernah mengalami penolakan produk (return) dari negara tujuan.

Di sektor hulu, perusahaan memiliki fasilitas pembenihan udang di Kabupaten Barru serta tengah mengembangkan tambak modern berbentuk kolam bundar di Barru dan Takalar. Sekitar 300 kolam direncanakan dibangun untuk mendukung pengembangan budidaya dengan konsep ramah lingkungan.

Namun, pertumbuhan ekspor masih menghadapi kendala pasokan bahan baku. Bomar membutuhkan 30 hingga 50 ton udang per hari, tetapi kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi.

"Kebutuhan kami mencapai 30 sampai 50 ton udang per hari, tetapi sampai sekarang belum bisa terpenuhi. Bahkan pesanan sejak Desember 2025 masih kami cicil karena keterbatasan pasokan," kata Rirhy.

Perusahaan yang mempekerjakan sekitar 1.500 orang itu menilai industri udang Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Peningkatan produktivitas budidaya melalui teknologi, biosekuriti, dan penerapan standar budidaya yang konsisten dinilai menjadi kunci untuk memperkuat pasokan sekaligus meningkatkan daya saing udang Indonesia di pasar global.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru