Cahaya Ramadan: Ma'rifatullah Inti Ibadah
Sabtu, 25 Mar 2023 09:51

Dr Syamril. Foto: Dokumentasi pribadi
Dr Syamril S.T M.Pd
Rektor Institut Teknologi & Bisnis Kalla (ITB Kalla)
KEISLAMAN kita dapat dilihat dari dua sisi yaitu fisik dan ruhaniah. Dari sisi fisik bisa tampak pada pakaian. Jika ada perempuan memakai hijab atau cadar maka dapat dipastikan dia adalah muslimah. Jika ada laki laki yang memakai gamis, peci atau sorban maka dapat dipastikan itu adalah muslimin.
Selain dari sisi fisik bisa juga tampak pada perilaku ritual ibadahnya. Jika ada orang yang pergi ke masjid shalat berjamaah, ikut pengajian, membaca Al Qur'an, melaksanakan umroh dan haji, membayar zakat dan infak maka dapat dipastikan dia adalah orang Islam.
Apakah keislaman hanya cukup sampai pada fisik dan perilaku ritual? Ternyata tidak cukup. Harus juga tampak pada perilaku sosial. Bagaimana perlakuan dia pada keluarga, teman, tetangga, anak yatim, fakir miskin bahkan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah aspek akhlakul karimah.
Pendusta agama bukan hanya yang menyekutukan Allah serta mendustakan Rasulullah. Tapi juga orang yang memiliki perilaku anti sosial seperti tergambar di dalam Al Qur'an surat Al Ma'un ayat 1-3:
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
Jadi pakaian dan ritual belum cukup sebagai gambaran keislaman. Harus nampak pada perilaku sosial. Bahkan lebih lanjut lagi pada ayat 4 - 7 :
"Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan".
Orang yang shalat pun masih celaka karena lalai, riya' dan pelit.
Pada ayat ini tampak ciri keislaman yang bersifat ruhaniah yaitu ikhlas sebagai lawan dari riya'. Ikhlas berbasis tauhid bahwa segala perbuatannya semata-mata karena Allah. Penampilan fisik islami, ritual ibadah yang dijalankan, perilaku sosial kedermawanan yang dilakukan semua ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin dilihat (riya') dan dipuji oleh orang lain. Bukan karena pencitraan.
Dia lakukan itu semua karena pengenalannya kepada Allah (ma'rifatullah). Dia tahu bahwa menutup aurat, beribadah ritual dan menolong sesama adalah perintah Allah. Maka dijalankannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Dia tak peduli dengan komentar dan penilaian manusia. Yang dia kejar adalah penilaian dan keridhaan Allah.
Ma'rifatullahnya membuat dia tahu bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka dikasihi dan disayanginya makhluk Allah yang ada di bumi. Itu semua sebagai wujud cintanya kepada Allah. Semoga dengan itu dia berharap Allah pun juga Mencintainya.
Itulah esensi ibadah dan keberislaman. Tidak hanya aspek lahiriah dengan penampilan dan perbuatan fisik yang tampak. Tapi juga aspek batiniah perbuatan hati yang rahasia hamba dan Allah yaitu keikhlasan.
Seluruh amaliah ibadah di bulan Ramadhan yang banyak dilakukan seperti puasa, shalat dan tadarus Al Qur'an melatih kita mengenal Allah (ma'rifatullah). Puasa tanpa pengawasan manusia dan hanya Allah yang Maha Mengawasi. Shalat menghadap Allah dan berdialog dengan-Nya. Tadarus Al Qur'an membaca kalamullah (perkataan Allah). Semoga itu semua membuat kita meyakini kehadiran Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya sebagaimana firman Allah di rangkaian ayat puasa Al Baqarah 186 :
"Dan apabiila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.
Rektor Institut Teknologi & Bisnis Kalla (ITB Kalla)
KEISLAMAN kita dapat dilihat dari dua sisi yaitu fisik dan ruhaniah. Dari sisi fisik bisa tampak pada pakaian. Jika ada perempuan memakai hijab atau cadar maka dapat dipastikan dia adalah muslimah. Jika ada laki laki yang memakai gamis, peci atau sorban maka dapat dipastikan itu adalah muslimin.
Selain dari sisi fisik bisa juga tampak pada perilaku ritual ibadahnya. Jika ada orang yang pergi ke masjid shalat berjamaah, ikut pengajian, membaca Al Qur'an, melaksanakan umroh dan haji, membayar zakat dan infak maka dapat dipastikan dia adalah orang Islam.
Apakah keislaman hanya cukup sampai pada fisik dan perilaku ritual? Ternyata tidak cukup. Harus juga tampak pada perilaku sosial. Bagaimana perlakuan dia pada keluarga, teman, tetangga, anak yatim, fakir miskin bahkan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan. Inilah aspek akhlakul karimah.
Pendusta agama bukan hanya yang menyekutukan Allah serta mendustakan Rasulullah. Tapi juga orang yang memiliki perilaku anti sosial seperti tergambar di dalam Al Qur'an surat Al Ma'un ayat 1-3:
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin."
Jadi pakaian dan ritual belum cukup sebagai gambaran keislaman. Harus nampak pada perilaku sosial. Bahkan lebih lanjut lagi pada ayat 4 - 7 :
"Maka celakalah orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan".
Orang yang shalat pun masih celaka karena lalai, riya' dan pelit.
Pada ayat ini tampak ciri keislaman yang bersifat ruhaniah yaitu ikhlas sebagai lawan dari riya'. Ikhlas berbasis tauhid bahwa segala perbuatannya semata-mata karena Allah. Penampilan fisik islami, ritual ibadah yang dijalankan, perilaku sosial kedermawanan yang dilakukan semua ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin dilihat (riya') dan dipuji oleh orang lain. Bukan karena pencitraan.
Dia lakukan itu semua karena pengenalannya kepada Allah (ma'rifatullah). Dia tahu bahwa menutup aurat, beribadah ritual dan menolong sesama adalah perintah Allah. Maka dijalankannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Dia tak peduli dengan komentar dan penilaian manusia. Yang dia kejar adalah penilaian dan keridhaan Allah.
Ma'rifatullahnya membuat dia tahu bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka dikasihi dan disayanginya makhluk Allah yang ada di bumi. Itu semua sebagai wujud cintanya kepada Allah. Semoga dengan itu dia berharap Allah pun juga Mencintainya.
Itulah esensi ibadah dan keberislaman. Tidak hanya aspek lahiriah dengan penampilan dan perbuatan fisik yang tampak. Tapi juga aspek batiniah perbuatan hati yang rahasia hamba dan Allah yaitu keikhlasan.
Seluruh amaliah ibadah di bulan Ramadhan yang banyak dilakukan seperti puasa, shalat dan tadarus Al Qur'an melatih kita mengenal Allah (ma'rifatullah). Puasa tanpa pengawasan manusia dan hanya Allah yang Maha Mengawasi. Shalat menghadap Allah dan berdialog dengan-Nya. Tadarus Al Qur'an membaca kalamullah (perkataan Allah). Semoga itu semua membuat kita meyakini kehadiran Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya sebagaimana firman Allah di rangkaian ayat puasa Al Baqarah 186 :
"Dan apabiila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.
(MAN)
Berita Terkait

Ekbis
Telkom Berbagi di Makassar: Santuni Anak Yatim-Dhuafa hingga Fasilitas Internet ke Sekolah
Telkom Group menggelar acara Telkom Berbagi kepada masyarakat di Makassar pada momen bulan suci Ramadan 1446 H. Bantuan yang disalurkan capai miliaran Rupiah.
Selasa, 25 Mar 2025 12:59

News
Satgas RAFI Pertamina Sulawesi Siaga Penuh untuk Jamin Kenyamanan Mudik & Lebaran
Pertamina telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) 2025 yang bertugas mulai 17 Maret hingga 13 April 2025 guna mengawal kelancaran distribusi BBM dan LPG.
Senin, 24 Mar 2025 15:57

News
BRI RO Makassar Berbagi Bahagia di Bulan Ramadan dengan Aksi Sosial
BRI Regional Office Makassar turut serta dalam berbagi kebahagiaan di bulan Ramadan kali ini, dengan menggelar berbagai aksi sosial untuk masyarakat sekitar.
Minggu, 23 Mar 2025 19:04

News
Kunjungan Dirut Pelindo ke Pelabuhan Semayang: Pastikan Operasional Lancar & Berbagi Kebahagiaan Ramadan
Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono, bersama Executive Director 4 Pelindo Regional 4 Abdul Azis, melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Semayang, Balikpapan.
Minggu, 23 Mar 2025 03:28

News
PLN Berbagi Kebahagiaan Ramadan dengan Purnabakti di Makassar
PLN UIP Sulawesi melalui YBM PLN memberikan kebahagiaan kepada para purnabakti PLN UIP Sulawesi di Kota Makassar.
Sabtu, 22 Mar 2025 15:57
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Idrus Marham: Mentan Amran Sulaiman Paling Cocok jadi Nakhoda KKSS
2

Kebakaran di Pulau Barrang Lompo Hanguskan Satu Rumah Milik Warga
3

Ada Oknum Diduga Ingin Ambil Alih Yayasan Atma Jaya Makassar Secara Paksa
4

Kemenkum Sulsel Komitmen Beri Pelayanan Terbaik, Maksimalkan Survei Kepuasan Masyarakat
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Idrus Marham: Mentan Amran Sulaiman Paling Cocok jadi Nakhoda KKSS
2

Kebakaran di Pulau Barrang Lompo Hanguskan Satu Rumah Milik Warga
3

Ada Oknum Diduga Ingin Ambil Alih Yayasan Atma Jaya Makassar Secara Paksa
4

Kemenkum Sulsel Komitmen Beri Pelayanan Terbaik, Maksimalkan Survei Kepuasan Masyarakat