Wali Kota Makassar Sebut Ada 134 Kasus Kekerasan Seksual Dalam 10 Bulan
Minggu, 26 Okt 2025 21:23
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menghadiri Workshop Ruang Publik Ramah Anak, di Baruga Anging Mamiri, Minggu (26/10/2025). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memperkuat langkah preventif dan responsif dalam mencegah kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual yang masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat.
Data Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, terdapat 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Makassar. Dari jumlah tersebut, 112 korban merupakan anak perempuan dan 22 anak laki-laki.
Seluruh korban telah memperoleh layanan pendampingan komprehensif, mulai dari asesmen psikologis, bantuan hukum, perlindungan sementara, hingga pemulihan sosial.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa angka tersebut menjadi peringatan penting bagi semua pihak agar perlindungan anak tidak hanya menjadi wacana, tetapi diterjemahkan dalam aksi nyata di tingkat keluarga dan komunitas.
“Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, orang tua, sekolah, organisasi masyarakat, tokoh agama, hingga media harus bergerak serentak,” tegas Munafri.
Itu ia sampaikan saat menjadi narasumber pada Workshop Ruang Publik Ramah Anak: Upaya Preventif dan Responsif Terhadap Kekerasan Seksual yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Makassar di Baruga Anging Mammiri, kemarin.
Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Pemkot Makassar menjalankan berbagai program perlindungan secara terpadu.
Layanan cepat tersedia melalui UPTD PPA 24 jam, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), serta unit pendampingan psikologis, hukum, dan medis. Selain itu, masyarakat dapat melakukan pelaporan secara daring melalui aplikasi Lontara Plus maupun call center darurat 112.
Langkah-langkah preventif juga terus diperluas melalui edukasi perlindungan anak di 15 kecamatan, sosialisasi Ruang Publik Ramah Anak (RPRA) di tingkat kelurahan dan sekolah, pelatihan keamanan bagi pengelola fasilitas publik, serta program parenting bagi keluarga.
Menurut Munafri, strategi tersebut dijalankan secara simultan agar pencegahan kekerasan tidak berhenti pada kegiatan seremoni semata.
“Yang kami dorong bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi perubahan perilaku di masyarakat. Anak harus merasa aman di rumah, di sekolah, dan di ruang publik,” ujarnya.
Salah satu upaya konkret yang kini diperkuat adalah pengembangan Ruang Publik Ramah Anak (RPRA) sebagai instrumen pencegahan di tingkat permukiman. Konsep RPRA menjamin hak anak untuk bermain dan berekspresi secara aman, dengan pengawasan yang memadai, aksesibilitas yang ramah, dan fasilitas pendukung seperti lorong ramah anak, taman tematik edukatif, ruang laktasi publik, car free day lorong, serta lorong bebas asap rokok. Program ini terintegrasi dengan kegiatan edukatif, sosial, kesehatan, dan penguatan karakter.
Munafri juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat perlindungan anak. Pemkot Makassar mendorong keterlibatan aktif organisasi perempuan, lembaga pendidikan, tokoh agama, media, serta dunia usaha dalam mengampanyekan perlindungan anak dan mendukung pendanaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Pemerintah hadir dengan kebijakan dan layanan perlindungan, tetapi kekuatan utama tetap ada di keluarga dan lingkungan yang peduli. Ini bukan tugas satu lembaga saja,” ujar Munafri.
Ia menegaskan, Kota Makassar harus menjadi kota yang tidak hanya maju dari sisi infrastruktur, tetapi juga unggul dalam perlindungan moral dan keselamatan anak. Karena itu, seluruh program perlindungan akan diarahkan agar edukasi pencegahan kekerasan seksual dapat menjangkau hingga ke tingkat kelurahan.
“Perlindungan anak tidak boleh berhenti pada seremoni. Kita ingin gerakan yang berkelanjutan, yang memastikan setiap anak Makassar tumbuh aman, berdaya, dan terlindungi,” pungkas Wali Kota Makassar, yang akrab disapa Appi.
Data Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, terdapat 134 kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Makassar. Dari jumlah tersebut, 112 korban merupakan anak perempuan dan 22 anak laki-laki.
Seluruh korban telah memperoleh layanan pendampingan komprehensif, mulai dari asesmen psikologis, bantuan hukum, perlindungan sementara, hingga pemulihan sosial.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa angka tersebut menjadi peringatan penting bagi semua pihak agar perlindungan anak tidak hanya menjadi wacana, tetapi diterjemahkan dalam aksi nyata di tingkat keluarga dan komunitas.
“Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, orang tua, sekolah, organisasi masyarakat, tokoh agama, hingga media harus bergerak serentak,” tegas Munafri.
Itu ia sampaikan saat menjadi narasumber pada Workshop Ruang Publik Ramah Anak: Upaya Preventif dan Responsif Terhadap Kekerasan Seksual yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Makassar di Baruga Anging Mammiri, kemarin.
Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Pemkot Makassar menjalankan berbagai program perlindungan secara terpadu.
Layanan cepat tersedia melalui UPTD PPA 24 jam, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), serta unit pendampingan psikologis, hukum, dan medis. Selain itu, masyarakat dapat melakukan pelaporan secara daring melalui aplikasi Lontara Plus maupun call center darurat 112.
Langkah-langkah preventif juga terus diperluas melalui edukasi perlindungan anak di 15 kecamatan, sosialisasi Ruang Publik Ramah Anak (RPRA) di tingkat kelurahan dan sekolah, pelatihan keamanan bagi pengelola fasilitas publik, serta program parenting bagi keluarga.
Menurut Munafri, strategi tersebut dijalankan secara simultan agar pencegahan kekerasan tidak berhenti pada kegiatan seremoni semata.
“Yang kami dorong bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi perubahan perilaku di masyarakat. Anak harus merasa aman di rumah, di sekolah, dan di ruang publik,” ujarnya.
Salah satu upaya konkret yang kini diperkuat adalah pengembangan Ruang Publik Ramah Anak (RPRA) sebagai instrumen pencegahan di tingkat permukiman. Konsep RPRA menjamin hak anak untuk bermain dan berekspresi secara aman, dengan pengawasan yang memadai, aksesibilitas yang ramah, dan fasilitas pendukung seperti lorong ramah anak, taman tematik edukatif, ruang laktasi publik, car free day lorong, serta lorong bebas asap rokok. Program ini terintegrasi dengan kegiatan edukatif, sosial, kesehatan, dan penguatan karakter.
Munafri juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat perlindungan anak. Pemkot Makassar mendorong keterlibatan aktif organisasi perempuan, lembaga pendidikan, tokoh agama, media, serta dunia usaha dalam mengampanyekan perlindungan anak dan mendukung pendanaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Pemerintah hadir dengan kebijakan dan layanan perlindungan, tetapi kekuatan utama tetap ada di keluarga dan lingkungan yang peduli. Ini bukan tugas satu lembaga saja,” ujar Munafri.
Ia menegaskan, Kota Makassar harus menjadi kota yang tidak hanya maju dari sisi infrastruktur, tetapi juga unggul dalam perlindungan moral dan keselamatan anak. Karena itu, seluruh program perlindungan akan diarahkan agar edukasi pencegahan kekerasan seksual dapat menjangkau hingga ke tingkat kelurahan.
“Perlindungan anak tidak boleh berhenti pada seremoni. Kita ingin gerakan yang berkelanjutan, yang memastikan setiap anak Makassar tumbuh aman, berdaya, dan terlindungi,” pungkas Wali Kota Makassar, yang akrab disapa Appi.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Lantik 153 Imam Kelurahan, Wali Kota Makassar Tekankan Peran Sosial Masjid
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengukuhkan dan melantik 153 imam kelurahan di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Jalan Masjid Raya, Makassar, Kamis (25/6/2026).
Jum'at, 26 Jun 2026 05:27
Makassar City
Forum B2B IGS 2026 Hubungkan Pelaku Usaha Lokal dengan Delegasi 28 Negara
Forum B2B dalam rangkaian IGS 2026 menjadi ruang strategis bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas jejaring bisnis sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah ke pasar internasional.
Kamis, 25 Jun 2026 14:49
Sulsel
Pemkot Makassar Tertibkan 19 PKL Kelapa di Area Benteng Rotterdam
Pendekatan humanis dan persuasif yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar membuahkan hasil positif dalam upaya penataan kawasan Benteng Fort Rotterdam dan sekitarnya.
Kamis, 25 Jun 2026 14:30
Makassar City
Legislator DPRD Makassar Dukung Penuh IGS 2026, Dongkrak Ekonomi dan Investasi
Pelaksanaan Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Kota Makassar mendapat sambutan positif dari pihak DPRD Kota Makassar, Rabu (24/6/2026).
Rabu, 24 Jun 2026 15:16
News
Investment Forum IGS 2026, Buka Peluang Kerja Sama Sektor Perikanan hingga Pariwisata
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar terus berkomiten dalam persiapan menjaring investasi internasional melalui ajang Business Forum Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 yang berlangsung di The Rinra Hotel, Makassar, Rabu (24/6/2026).
Rabu, 24 Jun 2026 14:19
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PAN Maros Ditarget Raih 24 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
2
GMTD Bekali Kader Posyandu, Dorong Layanan Kesehatan Berkualitas di Makassar
3
Maros Bidik Lima Besar Porprov, Jumlah Cabor Lolos Meningkat Jadi 34
4
Bupati Jeneponto Lepas Kontingen Porsenijar PGRI 2026 ke Tingkat Sulsel
5
Rayakan HUT ke-58, BPJS Kesehatan Kampanyekan Budaya Hidup Sehat
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PAN Maros Ditarget Raih 24 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
2
GMTD Bekali Kader Posyandu, Dorong Layanan Kesehatan Berkualitas di Makassar
3
Maros Bidik Lima Besar Porprov, Jumlah Cabor Lolos Meningkat Jadi 34
4
Bupati Jeneponto Lepas Kontingen Porsenijar PGRI 2026 ke Tingkat Sulsel
5
Rayakan HUT ke-58, BPJS Kesehatan Kampanyekan Budaya Hidup Sehat