Atasi Overload TPA Antang, Kelurahan Kapasa Gencarkan Pemilahan Sampah dari Sumber
Selasa, 07 Apr 2026 15:07
Lurah Kapasa, Norman Edyanto, memimpin rapat bersama Satgas Kebersihan, RT, dan RW di Kantor Kelurahan Kapasa, Jl. Biring Romang Lorong 7, Selasa (7/4/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan
MAKASSAR - Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, memperkuat sistem pengelolaan sampah sebagai respons atas kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang yang mengalami kelebihan kapasitas.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA Antang mencapai hampir 800 ton per hari. Kondisi tersebut mendorong pemerintah kelurahan untuk mengambil langkah konkret, salah satunya dengan mengoptimalkan pemilahan sampah dari sumbernya.
Lurah Kapasa, Norman Edyanto, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Wali Kota Makassar terkait penguatan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.
"Kemarin (Senin 6/4) kami melakukan rapat bersama seluruh Lurah dan seluruh Camat, dipimpin langsung oleh Bapak Walikota, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, bersama Dewan Lingkungan, kemudian ada beberapa tim ahli berkaitan dengan lingkungan," katanya.
Menurut Norman, hasil rapat tersebut langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan bersama Satgas Kebersihan, Ketua RT, dan RW. Dalam pertemuan itu, pihaknya menekankan pentingnya sosialisasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
"Tentunya dari pertemuan kemarin itu, hari ini kita tindaklanjuti. Kita bertemu sama semua Ketua RT, Ketua RW, dan seluruh Satgas. Kami menyampaikan betul-betul melakukan sosialisasi kepada warga untuk melakukan proses pemilahan sampah," jelasnya.
Ia menegaskan, pemilahan sampah bertujuan agar sampah yang dikirim ke TPA hanya berupa residu yang tidak dapat diolah kembali.
Selain itu, Kelurahan Kapasa juga mengembangkan penggunaan Teba Modern (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu berbasis lingkungan) sebagai bagian dari program Urban Farming.
"Di Kelurahan Kapasa itu Teba Modern-nya sudah ada enam itu terbagi di RW 1, RW 2, 3, 4, 5, dan 7. Ke depannya mungkin RW 6 kami akan lengkapi juga. Ini stimulan awal bagaimana caranya kita melakukan representasi kepada masyarakat untuk memberikan gambaran-gambaran kepada masyarakat terkait pemilahan sampah ini. Sampah organik ini bisa dibuang di Teba Modern," tambahnya.
Ke depan, pemerintah kelurahan menargetkan keberadaan Teba Modern di setiap RT. Selain itu, Bank Sampah juga akan diaktifkan kembali untuk menampung dan membeli sampah anorganik seperti plastik dan karton dari masyarakat.
"Kemudian untuk berkaitan dengan Teba Modern ini, kami upayakan kalau bisa ke depan di setiap RT sudah harus ada. Untuk saat ini masih ada enam RW, sisa satu lagi," paparnya.
Norman menjelaskan, program ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.
"Tentunya nilai ekonomisnya dari segi penguraian-penguraian atau pemilahan-pemilahan sampah. Nilai ekonomisnya mungkin bisa menjadi inilah program Urban Farming yang dilaksanakan oleh Walikota yang betul-betul dapat bermanfaat dan bernilai ekonomis di warga," jelasnya.
Ia menyebut, sampah organik seperti sisa buah dapat diolah menjadi ekoenzim yang bermanfaat sebagai cairan disinfektan dan pembersih. Selain itu, hasil pengolahan di Teba juga dapat menjadi pupuk bernilai ekonomis.
"Kemudian dari sampah organik ini, yang dibuang ke dalam Teba, bisa menghasilkan pupuk-pupuk yang dapat bernilai ekonomis juga. Dan sampah-sampah plastik ini bisa dikumpulkan dan ditimbang kepada pengepul-pengepul yang kiranya dapat bernilai ekonomis. Seperti itu, target kami ke depan," sebutnya.
Meski demikian, pemerintah kelurahan belum menerapkan sanksi bagi warga. Fokus saat ini adalah penyediaan sarana dan edukasi kepada masyarakat.
"Dengan cara apa? Pertama, mungkin memberikan contoh; RT/RW-nya sendiri yang pertama membuang ke situ. Melakukan dokumentasi, mengirim di grup-grup warga. Sehingga itu adalah upaya bagaimana caranya membantu melakukan sosialisasi sehingga warga tahu," lanjutnya.
Norman berharap, melalui pengelolaan sampah berbasis reduce dan recycle hingga menuju zero waste, jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
"Tentu itu akan berdampak kepada masyarakat, akan menghilangkan yang namanya retribusi sampahnya. Tentunya ini kan berproses tahap demi tahap kita Insyaallah maksimalkan. Seperti itu," harapnya.
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa Wali Kota Makassar telah menginstruksikan penataan ulang jadwal pembuangan dan pengangkutan sampah agar lebih sinkron.
"Artinya begini, tidak ada range (jarak) waktu misalnya kalau orang membuang sampah jam 7 pagi, nanti diambilnya jam 5 sore, itu kan ada range waktu. Maunya Bapak Walikota kita, mungkin range waktunya tidak terlalu lama dari pembuangan ke pengangkutan," tegas Norman.
Kebijakan tersebut rencananya akan diperkuat melalui surat edaran resmi pemerintah kota yang akan diteruskan hingga ke tingkat kelurahan.
"Karena sudah diatur jadwal pembuangan dan jadwal pengangkutannya. Nah, itu nanti juga kita akan tindak lanjuti berdasarkan surat edaran nanti. Kami upayakan semoga di rapat di kecamatan nanti ini ada surat semacam surat edaran dari Pak Camat untuk kami sampaikan ke warga atau masyarakat," pungkasnya.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA Antang mencapai hampir 800 ton per hari. Kondisi tersebut mendorong pemerintah kelurahan untuk mengambil langkah konkret, salah satunya dengan mengoptimalkan pemilahan sampah dari sumbernya.
Lurah Kapasa, Norman Edyanto, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Wali Kota Makassar terkait penguatan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.
"Kemarin (Senin 6/4) kami melakukan rapat bersama seluruh Lurah dan seluruh Camat, dipimpin langsung oleh Bapak Walikota, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, bersama Dewan Lingkungan, kemudian ada beberapa tim ahli berkaitan dengan lingkungan," katanya.
Menurut Norman, hasil rapat tersebut langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan bersama Satgas Kebersihan, Ketua RT, dan RW. Dalam pertemuan itu, pihaknya menekankan pentingnya sosialisasi pemilahan sampah kepada masyarakat.
"Tentunya dari pertemuan kemarin itu, hari ini kita tindaklanjuti. Kita bertemu sama semua Ketua RT, Ketua RW, dan seluruh Satgas. Kami menyampaikan betul-betul melakukan sosialisasi kepada warga untuk melakukan proses pemilahan sampah," jelasnya.
Ia menegaskan, pemilahan sampah bertujuan agar sampah yang dikirim ke TPA hanya berupa residu yang tidak dapat diolah kembali.
Selain itu, Kelurahan Kapasa juga mengembangkan penggunaan Teba Modern (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu berbasis lingkungan) sebagai bagian dari program Urban Farming.
"Di Kelurahan Kapasa itu Teba Modern-nya sudah ada enam itu terbagi di RW 1, RW 2, 3, 4, 5, dan 7. Ke depannya mungkin RW 6 kami akan lengkapi juga. Ini stimulan awal bagaimana caranya kita melakukan representasi kepada masyarakat untuk memberikan gambaran-gambaran kepada masyarakat terkait pemilahan sampah ini. Sampah organik ini bisa dibuang di Teba Modern," tambahnya.
Ke depan, pemerintah kelurahan menargetkan keberadaan Teba Modern di setiap RT. Selain itu, Bank Sampah juga akan diaktifkan kembali untuk menampung dan membeli sampah anorganik seperti plastik dan karton dari masyarakat.
"Kemudian untuk berkaitan dengan Teba Modern ini, kami upayakan kalau bisa ke depan di setiap RT sudah harus ada. Untuk saat ini masih ada enam RW, sisa satu lagi," paparnya.
Norman menjelaskan, program ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.
"Tentunya nilai ekonomisnya dari segi penguraian-penguraian atau pemilahan-pemilahan sampah. Nilai ekonomisnya mungkin bisa menjadi inilah program Urban Farming yang dilaksanakan oleh Walikota yang betul-betul dapat bermanfaat dan bernilai ekonomis di warga," jelasnya.
Ia menyebut, sampah organik seperti sisa buah dapat diolah menjadi ekoenzim yang bermanfaat sebagai cairan disinfektan dan pembersih. Selain itu, hasil pengolahan di Teba juga dapat menjadi pupuk bernilai ekonomis.
"Kemudian dari sampah organik ini, yang dibuang ke dalam Teba, bisa menghasilkan pupuk-pupuk yang dapat bernilai ekonomis juga. Dan sampah-sampah plastik ini bisa dikumpulkan dan ditimbang kepada pengepul-pengepul yang kiranya dapat bernilai ekonomis. Seperti itu, target kami ke depan," sebutnya.
Meski demikian, pemerintah kelurahan belum menerapkan sanksi bagi warga. Fokus saat ini adalah penyediaan sarana dan edukasi kepada masyarakat.
"Dengan cara apa? Pertama, mungkin memberikan contoh; RT/RW-nya sendiri yang pertama membuang ke situ. Melakukan dokumentasi, mengirim di grup-grup warga. Sehingga itu adalah upaya bagaimana caranya membantu melakukan sosialisasi sehingga warga tahu," lanjutnya.
Norman berharap, melalui pengelolaan sampah berbasis reduce dan recycle hingga menuju zero waste, jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
"Tentu itu akan berdampak kepada masyarakat, akan menghilangkan yang namanya retribusi sampahnya. Tentunya ini kan berproses tahap demi tahap kita Insyaallah maksimalkan. Seperti itu," harapnya.
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa Wali Kota Makassar telah menginstruksikan penataan ulang jadwal pembuangan dan pengangkutan sampah agar lebih sinkron.
"Artinya begini, tidak ada range (jarak) waktu misalnya kalau orang membuang sampah jam 7 pagi, nanti diambilnya jam 5 sore, itu kan ada range waktu. Maunya Bapak Walikota kita, mungkin range waktunya tidak terlalu lama dari pembuangan ke pengangkutan," tegas Norman.
Kebijakan tersebut rencananya akan diperkuat melalui surat edaran resmi pemerintah kota yang akan diteruskan hingga ke tingkat kelurahan.
"Karena sudah diatur jadwal pembuangan dan jadwal pengangkutannya. Nah, itu nanti juga kita akan tindak lanjuti berdasarkan surat edaran nanti. Kami upayakan semoga di rapat di kecamatan nanti ini ada surat semacam surat edaran dari Pak Camat untuk kami sampaikan ke warga atau masyarakat," pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Honda MCN 2026 Padukan Kuliner, Budaya, dan Kepedulian Lingkungan
Honda Makassar Culinary Night (MCN) dijadwalkan berlangsung pada 17–19 April 2026 di Benteng Fort Rotterdam, dengan mengusung tema Green Culture Festival.
Selasa, 14 Apr 2026 16:13
Makassar City
Wali Kota Makassar Kukuhkan 60 Anggota KSB Tamalanrea
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengukuhkan Tim KSB Kecamatan Tamalanrea dalam apel pengukuhan yang dirangkaikan dengan uji simulasi SOP di Anjungan Tugu MNEK, CPI.
Selasa, 14 Apr 2026 11:04
Makassar City
DLH Makassar Usulkan Tambahan Rp60 Miliar untuk Optimalisasi TPA Antang
Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendorong peningkatan anggaran sektor persampahan hingga mencapai 3 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Senin, 13 Apr 2026 15:32
Makassar City
Wali Kota Makassar Ajak Muhammadiyah Kolaborasi di Berbagai Sektor Strategis
Wali Kota Makassar mendorong penguatan kolaborasi antara bersama Muhammadiyah di berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pengelolaan sampah, hingga urban farming.
Minggu, 12 Apr 2026 17:34
Makassar City
Pemkot Makassar Percepat Pengangkatan Kepala Puskesmas Definitif
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mempercepat penetapan kepala Puskesmas definitif melalui proses seleksi terbuka yang kini memasuki tahap akhir.
Sabtu, 11 Apr 2026 10:44
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KPU Bantaeng Gandeng Kejari, Perkuat Dukungan Hukum Jelang Tahapan Pemilu 2027
2
Butuh Biaya Operasi Istri, Akademisi Unhas Keluhkan Dana di Bank BUMN Sulit Dicairkan
3
93% Anak Indonesia Alami Karies, Orang Tua Diminta Lebih Cermat Pilih Susu Formula
4
Asmo Sulsel Edukasi Safety Riding untuk Siswa SMP di Gowa
5
Sekwan DPRD Makassar Andi Rahmat Mappatoba Jadi Sekretaris Asdeksi Sulselbar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KPU Bantaeng Gandeng Kejari, Perkuat Dukungan Hukum Jelang Tahapan Pemilu 2027
2
Butuh Biaya Operasi Istri, Akademisi Unhas Keluhkan Dana di Bank BUMN Sulit Dicairkan
3
93% Anak Indonesia Alami Karies, Orang Tua Diminta Lebih Cermat Pilih Susu Formula
4
Asmo Sulsel Edukasi Safety Riding untuk Siswa SMP di Gowa
5
Sekwan DPRD Makassar Andi Rahmat Mappatoba Jadi Sekretaris Asdeksi Sulselbar