Legislator Makassar Mengeluh Air Tak Mengalir 4 Bulan, Tapi Tetap Dapat Tagihan
Kamis, 16 Apr 2026 22:03
Anggota Komisi A DPRD Kota Makassar, RTQ saat ditemui di Kantor Balai Kota Makassar. Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Anggota DPRD Kota Makassar, Rahmat Taqwa Quraisy (RTQ), mengkritik kinerja PDAM terkait krisis air bersih yang terus berulang setiap tahun, Kamis (16/4/2026).
Ia menyoroti kondisi warga, khususnya di wilayah Utara Makassar, yang tetap dibebani biaya bulanan meski pasokan air tidak mengalir. Banyak warga bahkan terpaksa beralih menggunakan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kekeringan ini yang menjadi kendala dari tahun ke tahun. Tentunya ini menjadi catatan untuk pemerintah kota, dalam hal ini Pak Wali bersama PDAM. Kami di (wilayah) Utara rata-rata memakai sumur bor, tapi ditagih uang beban," keluhnya.
RTQ mengaku mengalami langsung kondisi tersebut. Ia menyebut sudah empat bulan tidak menerima aliran air PDAM, namun tetap dikenakan biaya beban.
"Kalau misalkan air tidak ada, anggaplah kita mengukur dari 1.000 rumah, ada 10 yang mengalir airnya tidak berhenti. Nah, ini kan tentunya apa yang terjadi? Masa dia dapat air dari tempat lain, sedangkan semuanya kan satu di PDAM," tukasnya.
Ia meminta Pemerintah Kota Makassar segera mengambil langkah sebelum puncak musim kemarau yang ia sebut sebagai “musim Godzilla” hingga Oktober. Menurutnya, warga di wilayah Utara harus mengeluarkan biaya besar untuk membuat sumur bor hingga kedalaman 30–40 meter agar terhindar dari air payau.
"Jadi ini harus jadi PR untuk Pemerintah Kota, karena kenapa? Mengingat ini 'musim Godzilla' sampai dengan Oktober. Mungkin bisa di—apalagi di Utara kan kalau kita gali sumur bor itu payau, sehingga harus 30 sampai 40 meter baru kita dapat air bersih," jelasnya.
RTQ juga mempertanyakan efektivitas proyek penggantian pipa yang rutin dilakukan setiap tahun. Ia menilai langkah tersebut belum berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat.
"Kalau kita analogikan begini, itu pipa kalau biar 10 tahun mungkin ulat-ulat apa yang bisa gigit ini pipa besi sampai bocor dan diganti terus? Kan itu yang menjadi kendala, kenapa masalahnya pipa penyambungan pipa, disambung, diganti, disambung, diganti," tandasnya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya mulai fokus pada pencarian sumber air baru, bukan hanya perbaikan jaringan pipa.
"Ini menjadi dampak (tapi) tetap tidak ada air juga. Artinya bukan pipanya yang diganti, memang kita harus cari apakah kalau misalkan sumber airnya yang kurang kita harus berinovasi. Kan seperti itu," paparnya.
Sebagai solusi jangka pendek, RTQ mengusulkan pembangunan penampungan air bersih di setiap kelurahan, khususnya di wilayah Utara dan Sudiang, untuk memudahkan distribusi air ke warga.
"Kalau dalam waktu dekat, tentunya kita harus buat penampungan di setiap mungkin setiap kelurahan yang ada di Utara dan di daerah-daerah Sudiang ya, kira-kira seperti itu," katanya.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi penyulingan dan filtrasi air bor sebagai alternatif saat suplai PDAM menurun.
"Sehingga ketika suplai air menurun, itu bisa kita gunakan air bor yang memang sudah disuling. Itu kan ada filter, sekarang kan sudah canggih ini, kenapa tidak digunakan teknologi-teknologi seperti itu," terangnya.
RTQ menegaskan, krisis air bersih ini bukan sekadar laporan masyarakat, melainkan juga dialaminya secara langsung.
"Bukan laporan warga, saya sendiri yang rasakan," pungkasnya.
Ia menyoroti kondisi warga, khususnya di wilayah Utara Makassar, yang tetap dibebani biaya bulanan meski pasokan air tidak mengalir. Banyak warga bahkan terpaksa beralih menggunakan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kekeringan ini yang menjadi kendala dari tahun ke tahun. Tentunya ini menjadi catatan untuk pemerintah kota, dalam hal ini Pak Wali bersama PDAM. Kami di (wilayah) Utara rata-rata memakai sumur bor, tapi ditagih uang beban," keluhnya.
RTQ mengaku mengalami langsung kondisi tersebut. Ia menyebut sudah empat bulan tidak menerima aliran air PDAM, namun tetap dikenakan biaya beban.
"Kalau misalkan air tidak ada, anggaplah kita mengukur dari 1.000 rumah, ada 10 yang mengalir airnya tidak berhenti. Nah, ini kan tentunya apa yang terjadi? Masa dia dapat air dari tempat lain, sedangkan semuanya kan satu di PDAM," tukasnya.
Ia meminta Pemerintah Kota Makassar segera mengambil langkah sebelum puncak musim kemarau yang ia sebut sebagai “musim Godzilla” hingga Oktober. Menurutnya, warga di wilayah Utara harus mengeluarkan biaya besar untuk membuat sumur bor hingga kedalaman 30–40 meter agar terhindar dari air payau.
"Jadi ini harus jadi PR untuk Pemerintah Kota, karena kenapa? Mengingat ini 'musim Godzilla' sampai dengan Oktober. Mungkin bisa di—apalagi di Utara kan kalau kita gali sumur bor itu payau, sehingga harus 30 sampai 40 meter baru kita dapat air bersih," jelasnya.
RTQ juga mempertanyakan efektivitas proyek penggantian pipa yang rutin dilakukan setiap tahun. Ia menilai langkah tersebut belum berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat.
"Kalau kita analogikan begini, itu pipa kalau biar 10 tahun mungkin ulat-ulat apa yang bisa gigit ini pipa besi sampai bocor dan diganti terus? Kan itu yang menjadi kendala, kenapa masalahnya pipa penyambungan pipa, disambung, diganti, disambung, diganti," tandasnya.
Menurutnya, pemerintah seharusnya mulai fokus pada pencarian sumber air baru, bukan hanya perbaikan jaringan pipa.
"Ini menjadi dampak (tapi) tetap tidak ada air juga. Artinya bukan pipanya yang diganti, memang kita harus cari apakah kalau misalkan sumber airnya yang kurang kita harus berinovasi. Kan seperti itu," paparnya.
Sebagai solusi jangka pendek, RTQ mengusulkan pembangunan penampungan air bersih di setiap kelurahan, khususnya di wilayah Utara dan Sudiang, untuk memudahkan distribusi air ke warga.
"Kalau dalam waktu dekat, tentunya kita harus buat penampungan di setiap mungkin setiap kelurahan yang ada di Utara dan di daerah-daerah Sudiang ya, kira-kira seperti itu," katanya.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi penyulingan dan filtrasi air bor sebagai alternatif saat suplai PDAM menurun.
"Sehingga ketika suplai air menurun, itu bisa kita gunakan air bor yang memang sudah disuling. Itu kan ada filter, sekarang kan sudah canggih ini, kenapa tidak digunakan teknologi-teknologi seperti itu," terangnya.
RTQ menegaskan, krisis air bersih ini bukan sekadar laporan masyarakat, melainkan juga dialaminya secara langsung.
"Bukan laporan warga, saya sendiri yang rasakan," pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Appi Siap Tindaklanjuti Rekomendasi DPRD untuk Perbaikan Kinerja Pemkot Makassar
DPRD Kota Makassar menggelar Rapat Paripurna Pengumuman Masa Persidangan Ketiga Tahun Sidang 2025/2026 di Ruang Sipakatau Lantai 2 Balai Kota Makassar, Rabu (13/5/2026).
Kamis, 14 Mei 2026 06:56
Makassar City
Legislator Makassar Usul Anggota Geng Motor Dikenai Sanksi Administratif
Sejumlah legislator menilai penanganan persoalan tersebut perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya aparat kepolisian.
Kamis, 14 Mei 2026 06:32
Makassar City
DPRD Makassar Desak BPJS Kesehatan Lanjutkan Kerja Sama dengan RS Bahagia
Komisi D DPRD Kota Makassar menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BPJS Kesehatan di Ruang Rapat Paripurna Kantor Sementara DPRD Kota Makassar, eks Kantor Perumnas Regional VII, Jalan Hertasning, Rabu (13/5/2026).
Rabu, 13 Mei 2026 19:52
News
Minta Transparansi, Penghuni Vida View Siap Bawa Kisruh IPL dan P3SRS ke DPRD Makassar
Perwakilan warga pemilik unit di apartemen vida view bersitegang dengan pihak building manajemen (BM). Keributan sempat terjadi di ruang building manajemen lantai 1 apartemen vida view, Panakukang. Rabu (13/05/2026).
Rabu, 13 Mei 2026 18:23
Makassar City
Ketua DPRD Makassar Jempol Langkah Tegas Polisi terhadap Geng Motor
Ketua DPRD Kota Makassar, Supratman, mengapresiasi langkah Polrestabes Makassar dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya dalam penanganan aksi geng motor yang meresahkan warga.
Rabu, 13 Mei 2026 06:14
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Silaturahmi, Begini Keakraban Fadil Imran dan Ashabul Kahfi di Jakarta
2
Open House SDIT Darul Fikri Makassar Hadirkan 10 Zona Edukatif untuk Calon Siswa
3
Anggaran Makan Minum Reses DPRD Wajo Tahun 2023 Bakal Diselidiki Polisi
4
Membludak, Karyawan hingga Warga Ikut Donor Darah HUT ke-37 FIFGROUP di Makassar
5
Perdana & Bersejarah! Petani Rongkong Akhirnya Bisa Tebus Pupuk Subsidi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Silaturahmi, Begini Keakraban Fadil Imran dan Ashabul Kahfi di Jakarta
2
Open House SDIT Darul Fikri Makassar Hadirkan 10 Zona Edukatif untuk Calon Siswa
3
Anggaran Makan Minum Reses DPRD Wajo Tahun 2023 Bakal Diselidiki Polisi
4
Membludak, Karyawan hingga Warga Ikut Donor Darah HUT ke-37 FIFGROUP di Makassar
5
Perdana & Bersejarah! Petani Rongkong Akhirnya Bisa Tebus Pupuk Subsidi