Program Komunitas Berdaya Nusantara di Makassar Berhasil Daur 951 Kg Sampah

Rabu, 13 Mei 2026 12:45
Program Komunitas Berdaya Nusantara di Makassar Berhasil Daur 951 Kg Sampah
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin bersama jajaran direksi dan pimpinan PT Nusantara Infrastructure Tbk melihat langsung produk hasil olahan sampah plastik. Foto: SINDO Makassar/Luqman Zainuddin
Comment
Share
MAKASSAR - Program Komunitas Berdaya Nusantara di Kota Makassar berhasil mendaur 951 kg sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Program ini berjalan selama satu tahun dengan memberdayakan perempuan di sekitar jalan tol.

Program Komunitas Berdaya Nusantara merupakan inisiatif PT Nusantara Infrastructure Tbk yang menggandeng Rappo Indonesia, salah satu social enterprise di Kota Makassar.

Program ini mendorong pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.

Sejak diluncurkan pada 2025, program ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah plastik menjadi produk fesyen ramah lingkungan, program ini juga mendorong keterlibatan aktif perempuan sebagai penggerak utama dalam kegiatan ekonomi berbasis komunitas.

Direktur Utama PT Nusantara Infrastructure Tbk, Ramdani Basri, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan dampak sosial yang inklusif di wilayahoperasional.

“Pemberdayaan perempuan menjadi kunci dalam membangun komunitas yang mandiri dan berkelanjutan. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penggerak utama dalam rantai ekonomi sirkular ini,” ujarnya.

Program ini hadir di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang semakin kompleks. Berdasarkan data KLH/BPLH tahun 2025, timbulan sampah di Kawasan Makassar Raya mencapai 1.644 ton per hari.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, masyarakat dilibatkan dalam seluruh rantai proses. Sampah rumah tangga dipilah dan disetorkan ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara di Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo.

Selanjutnya, sampah plastik dibeli oleh Rappo Indonesia untuk dibersihkan dan diolah menjadi lembar material daur ulang. Bahan ini kemudian dijahit oleh perempuan pesisir di Untia menjadi produk fesyen bernilai ekonomi seperti tas, dompet, dan aksesoris lainnya.

Selama satu tahun pelaksanaan, program ini telah mengelola lebih dari 951 kg sampah plastik yang diolah menjadi 17.298 lembar material daur ulang dan dapat digunakan untuk menghasilkan 8.649 produk yang dipasarkan di Makassar, Jakarta, dan Bali.

Dari sisi pemberdayaan, komunitas perempuan di Untia mendapatkan pelatihan pengembangan produk dan keterampilan menjahit lanjutan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan serta memperkuat kemandirian ekonomi mereka.

Lebih dari sekadar program CSR, inisiatif ini membangun ekosistem berbasis komunitas yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan sampah, proses produksi, hingga distribusi produk.

“Meskipun masih dalam skala terbatas, program ini menunjukkan bahwa solusi pengelolaan limbah dapat dimulai dari tingkat komunitas. Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas dampak ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” tutup Ramdani.

CEO dan Founder Rappo Indonesia, Akmal Idrus mengungkap, dalam program ini, 19 perempuan dilibatkan dengan meningkatkan green skill mereka. Ia menyebut, keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi kapasitas baru bagi perempuan.

Kepada tamu undangan yang hadir, termasuk Wali Kota Munafri Arifuddin, ia mengungkapkan bahwa hasil dari pendauran sampah dapat dilihat secara langsung di area kegiatan, bahkan termasuk mimbar yang dipakai hari ini, merupakan produk olahan.

"Capaian ini tidak lepas dari dukungan program pengembangan termasuk pengadaan mesin juga, mesin daur ulang yang didonasikan oleh Nusantara Infrastructure kepada masyarakat melalui Rappo Indonesia. Dan tentu mesin ini menjadi instruktur penting dalam mendukung pengelolaan sampah plastik dari Kampung Bersih Nusantara, TPS 3R Untia serta berbagai pihak lainnya di Kota Makassar," katanya.

Ia juga memaparkan, capaian produksi sebesar 17.298 lembar ini mencapai sekitar 72% ini dari kapasitas maksimal penggunaan mesin dalam satu tahun.

"Pengembangan dampak lingkungan dan ekonomi ke depannya ini masih sangat besar melalui program yang dilaksanakan berkat kolaborasi ini. Dan jika kapasitas produksi dimaksimalkan sebanyak 24.000 lembar upcycle sheet ini dapat menghasilkan sekitar 12.000 merchandise ramah lingkungan," dia mengakhiri.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengapresiasi kerja sama Nusantara Infrastructure dengan memberdayakan masyarakat di sekitar jalan tol. Kegiatan ini menurut dia harus terus diupayakan.

"Program ini tentu akan sangat membantu dalam penanganan persoalan sampah. Makassar ini memproduksi 800 ton sampah setiap hari. Tapi hanya 67 persen kapasitas angkut," ucap Appi.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru