Pemkot Makassar Gandeng Bank Sampah, Tanamkan Budaya Kebersihan di SD dan SMP

Senin, 21 Sep 2026 15:01
Pemkot Makassar Gandeng Bank Sampah, Tanamkan Budaya Kebersihan di SD dan SMP
Suasana Rapat Koordinasi dan Asesemen Kepala Sekolah SD dan SMP di Sandeq Ballroom B, Claro Hotel Makassar, Senin (21/9/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar menggelar Rapat Koordinasi dan Asesmen Kepala Sekolah SD dan SMP serta Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Bank Sampah Kota Makassar, yang berlangsung di Sandeq Ballroom B, Claro Hotel Makassar, Senin (21/9/2026).

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menekankan pentingnya penyelesaian berbagai persoalan di sekolah secara bersama-sama, mengingat infrastruktur pendidikan di Kota Makassar saat ini belum sepenuhnya memadai.

"Saya berharap seluruh kepala sekolah dapat memberikan catatan-catatan penting yang dapat diserahkan kepada Ibu Kadis dan disampaikan kepada saya mengenai hal-hal yang sangat mendesak (urgent) yang terjadi di sekolah," ucap Wali Kota.

Menurutnya, langkah tersebut sangat krusial agar anak-anak dapat memperoleh pendidikan yang baik, berkualitas, dan didanai oleh pemerintah.

"Harapan kita bukanlah menyajikan pendidikan yang murah namun tidak berkualitas bagi anak-anak. Yang kita butuhkan adalah pendidikan yang berkualitas. Maka dari itu, peran serta kepala sekolah di dalamnya sangatlah krusial," sambungnya.

Munafri atau yang akrab disapa Appi itu menegaskan pentingnya pembiasaan pengelolaan sampah bagi anak sekolah sejak dini guna mengubah perilaku masyarakat secara jangka panjang.

"Setiap pagi semua anak-anak ini dibiasakan mau bawa dari rumahnya, mau pungut di pinggir jalan, mau ambil dari sekolah. Semua anak murid ini harus mampu menyimpan sampah-sampah sesuai dengan jenisnya," tegasnya.

Munafri menjelaskan bahwa setiap anak sekolah diwajibkan untuk memilah dan menyimpan sampah sesuai jenisnya, baik organik, anorganik, maupun residu, baik yang dibawa dari rumah maupun ditemukan di jalan.

"Mau bawa dari rumahnya kulit pisang, masukkan ke tempat organik. Kumpul atau datang di tengah perjalanan ke sekolah ambil botol minuman kemasan, masukkan ke sampah anorganik. Atau melihat ada popok di jalanan, masukkan di sampah residu. Ini harus! Kenapa ini tidak berjalan di masyarakat? Karena kita akan mengubah habit (kebiasaan). Untuk yang hidupnya sudah lebih dari 20 sampai 30 tahun, mengubah kebiasaan ini akan susah. Harus terus-menerus digembleng dengan sosialisasi dan sebagainya," tambahnya.

Wali Kota yakin bahwa pendidikan lingkungan yang diberikan kepada anak-anak sejak di bangku sekolah akan berjalan efektif dan berdampak positif dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menularkan kebiasaan baik tersebut secara luas.

"Jadi setiap pagi sudah disiapkan di sekolah-sekolah gentong-gentong atau tempat-tempat sampah yang ada di sekolah untuk memasukkan sampah organik, anorganik, dan sampah residu. Disiapkan! Inilah gunanya hari ini kita tanda tangan sebagai Bank Sampah Peduli. Untuk sampah-sampah anorganik ini yang akan terhubung dengan bank sampah, hasilnya bisa dijual. Hasil penjualannya bisa dipakai untuk sekolah," terangnya dalam sambutan.

Lebih lanjut, Munafri menyatakan akan mengoordinasikan sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan; Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Perikanan; serta Dinas Ketahanan Pangan, untuk memastikan seluruh rangkaian program berjalan optimal hingga tercipta stimulus perputaran ekonomi baru di sekolah.

"Sampah organiknya dipakai untuk apa? Di sekolah harus ada sistem proses sampah organik. Apakah itu biopori, apakah itu teba, apakah itu eco-enzyme, dan sebagainya. Ini nanti akan dipakai untuk membuat yang namanya urban farming di sekolah. Di kepala saya, kalau di sekolah ini, jangan berpikir yang biasa-biasa saja. Tanam tomat, tanam ini, tapi cari yang lain. Ada yang bisa dikembangkan di sekolah yang berbeda. Ini menjadi stimulus perputaran ekonomi yang baru," sebutnya.

Appi juga menekankan kepada para kepala sekolah untuk memberikan informasi dan memastikan ketersediaan tiga jenis tempat sampah di lingkungan sekolah.

"Anak-anak harus diberikan pemahaman sebelum masuk sekolah: ini sampah organik, ini anorganik. Setiap hari, setiap hari! Kalau anak-anak SD selama 6 tahun melakukan ini, ini akan menjadi kebiasaannya. Anak SMP selama 3 tahun akan begitu, sehingga pada saat mereka kembali ke masyarakat, perilaku inilah yang akan mereka bawa. Menurut saya, ini harus kita jalankan karena ini sangat penting," imbuhnya.

Munafri menjelaskan bahwa berbagai kegiatan tersebut bertujuan untuk membimbing anak-anak agar memiliki perilaku baru yang peduli lingkungan.

"Mereka nanti yang akan menyampaikan kepada orang tua yang ada di rumahnya, 'Bu, Pak, yang disimpan botol minuman kemasan di sini, plastik itu tempatnya di sini, organik itu tempatnya di sini,' dan sebagainya. Ini kita turunkan karena kita sudah mulai membenahi tempat yang paling jorok dalam sebuah rantai perputaran sampah di Kota Makassar," tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, memaparkan bahwa tujuan dari kegiatan ini untuk membangun sinergi antara sekolah dengan bank sampah dalam pengelolaan sampah.
"Meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Membiasakan peserta didik melakukan pemilahan sampah sejak dini. Mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan pengelolaan sampah. Mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, nyaman, dan berkelanjutan," paparnya.

Mantan Kepala Dinas DPPPA Kota Makassar itu berharap penandatanganan kerja sama tersebut dapat membangun komitmen bersama antara pihak bank sampah dan sekolah.

"Yang mana sekolah menjadi tempat tumbuhnya budaya peduli lingkungan. Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, khususnya kepada Ketua Dewan Lingkungan Hidup yang selalu memberikan arahan dan bimbingan, Dinas Lingkungan Hidup, serta pimpinan Bank Sampah," ucapnya.

Ia menuturkan agar sinergi yang terjalin antara pihak sekolah dan berbagai instansi yang telah memberikan kontribusi dapat terus berjalan secara berkelanjutan.

"Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah nyata untuk membangun sekolah yang bersih, sehat, peduli lingkungan, sekaligus mendidik generasi yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan," pungkasnya.

Agenda tersebut diikuti oleh 464 orang peserta, yang terdiri atas 314 kepala sekolah SD negeri, 55 kepala sekolah SMP negeri, serta 95 kepala sekolah SMP swasta. Ia juga mengungkapkan bahwa telah dicanangkan sebanyak 86 inovasi terkait lingkungan pada jenjang pendidikan SD dan SMP.

Selain itu, pihak Disdik Kota Makassar turut memaparkan perkembangan status sekolah Adiwiyata yang tersebar di 15 kecamatan di Kota Makassar.

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 203 sekolah berstatus Adiwiyata Kota, 83 sekolah Adiwiyata Provinsi, 25 sekolah Adiwiyata Nasional, dan 9 sekolah Adiwiyata Mandiri, dengan total keseluruhan mencapai 320 sekolah yang telah berhasil meraih predikat Adiwiyata.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru