RMS Hengkang ke PSI, Pengamat Soroti Status di DPR Masih Menggantung
Selasa, 21 Apr 2026 11:43
Pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin, Dr Hasrullah. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Dinamika politik pasca Pemilu 2024 kembali menjadi sorotan, khususnya terkait belum diprosesnya pemberhentian Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari keanggotaan Partai NasDem di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin, Dr Hasrullah menilai, sikap NasDem yang belum menyampaikan surat resmi pemberhentian kepada pimpinan DPR menciptakan kesan keputusan politik yang tegas di ruang publik.
Padahal, RMS diketahui telah mengundurkan diri dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Ini bukan sekadar keterlambatan administratif. Ada implikasi serius terhadap kredibilitas partai. Publik melihat fakta politik sudah berubah, tetapi status formal di parlemen masih belum diperbarui,” ujar Hasrullah saat dimintai tanggapannya (20/4/2026).
Menurutnya, dalam sistem demokrasi modern, kejelasan sikap partai terhadap kader yang berpindah haluan merupakan bentuk akuntabilitas politik. Ketika hal tersebut tidak segera ditindaklanjuti, maka yang muncul adalah persepsi bahwa partai tidak tegas dalam mengelola internalnya.
“Partai politik seharusnya memiliki mekanisme disiplin yang cepat dan jelas. Kalau seorang anggota DPR sudah secara terbuka pindah ke partai lain, maka konsekuensi organisasinya juga harus segera ditegakkan, termasuk proses PAW,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan distorsi representasi politik. Pasalnya, secara administratif RMS masih tercatat sebagai anggota Fraksi NasDem di DPR, sementara secara politik telah berafiliasi dengan PSI.
“Ini menciptakan situasi yang janggal. Rakyat memilih melalui NasDem, tetapi wakilnya sudah berada di partai lain. Kalau dibiarkan, ini bisa merusak prinsip representasi dalam demokrasi,” lanjutnya.
Lebih jauh, lambannya respons NasDem juga dinilai membuka ruang spekulasi politik. Sejumlah pihak menduga adanya pertimbangan strategis atau kalkulasi politik tertentu di balik belum diprosesnya pemberhentian tersebut.
“Dalam politik, kekosongan sikap akan diisi oleh spekulasi. Apakah ini bagian dari kompromi politik, atau ada agenda lain, publik tidak tahu. Yang jelas, situasi ini merugikan citra partai itu sendiri,” katanya.
Padahal, jika merujuk pada hasil Pemilu 2024, NasDem justru mencatatkan tren positif dengan peningkatan jumlah kursi di DPR RI. Kondisi tersebut, menurut pengamat, seharusnya menjadi modal kuat untuk menunjukkan konsolidasi internal yang solid dan kepemimpinan yang tegas.
“Dengan capaian elektoral yang meningkat, publik berharap NasDem tampil lebih percaya diri dan konsisten. Ketegasan dalam mengambil keputusan, termasuk terhadap kader yang keluar, menjadi kunci menjaga kepercayaan tersebut,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dalam politik modern, kecepatan dan ketegasan dalam merespons dinamika internal merupakan bagian dari kredibilitas partai.
“Menunda keputusan dalam situasi seperti ini justru memperbesar beban politik. Jika tidak segera diselesaikan, ini bisa menjadi preseden buruk bagi tata kelola partai ke depan,” tutupnya.
Pakar Ilmu Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin, Dr Hasrullah menilai, sikap NasDem yang belum menyampaikan surat resmi pemberhentian kepada pimpinan DPR menciptakan kesan keputusan politik yang tegas di ruang publik.
Padahal, RMS diketahui telah mengundurkan diri dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Ini bukan sekadar keterlambatan administratif. Ada implikasi serius terhadap kredibilitas partai. Publik melihat fakta politik sudah berubah, tetapi status formal di parlemen masih belum diperbarui,” ujar Hasrullah saat dimintai tanggapannya (20/4/2026).
Menurutnya, dalam sistem demokrasi modern, kejelasan sikap partai terhadap kader yang berpindah haluan merupakan bentuk akuntabilitas politik. Ketika hal tersebut tidak segera ditindaklanjuti, maka yang muncul adalah persepsi bahwa partai tidak tegas dalam mengelola internalnya.
“Partai politik seharusnya memiliki mekanisme disiplin yang cepat dan jelas. Kalau seorang anggota DPR sudah secara terbuka pindah ke partai lain, maka konsekuensi organisasinya juga harus segera ditegakkan, termasuk proses PAW,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan distorsi representasi politik. Pasalnya, secara administratif RMS masih tercatat sebagai anggota Fraksi NasDem di DPR, sementara secara politik telah berafiliasi dengan PSI.
“Ini menciptakan situasi yang janggal. Rakyat memilih melalui NasDem, tetapi wakilnya sudah berada di partai lain. Kalau dibiarkan, ini bisa merusak prinsip representasi dalam demokrasi,” lanjutnya.
Lebih jauh, lambannya respons NasDem juga dinilai membuka ruang spekulasi politik. Sejumlah pihak menduga adanya pertimbangan strategis atau kalkulasi politik tertentu di balik belum diprosesnya pemberhentian tersebut.
“Dalam politik, kekosongan sikap akan diisi oleh spekulasi. Apakah ini bagian dari kompromi politik, atau ada agenda lain, publik tidak tahu. Yang jelas, situasi ini merugikan citra partai itu sendiri,” katanya.
Padahal, jika merujuk pada hasil Pemilu 2024, NasDem justru mencatatkan tren positif dengan peningkatan jumlah kursi di DPR RI. Kondisi tersebut, menurut pengamat, seharusnya menjadi modal kuat untuk menunjukkan konsolidasi internal yang solid dan kepemimpinan yang tegas.
“Dengan capaian elektoral yang meningkat, publik berharap NasDem tampil lebih percaya diri dan konsisten. Ketegasan dalam mengambil keputusan, termasuk terhadap kader yang keluar, menjadi kunci menjaga kepercayaan tersebut,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa dalam politik modern, kecepatan dan ketegasan dalam merespons dinamika internal merupakan bagian dari kredibilitas partai.
“Menunda keputusan dalam situasi seperti ini justru memperbesar beban politik. Jika tidak segera diselesaikan, ini bisa menjadi preseden buruk bagi tata kelola partai ke depan,” tutupnya.
(UMI)
Berita Terkait
News
357 Tahun Sulsel, Andi Muzakkir Aqil Dorong Potensi Daerah Berdampak Nyata
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) II Sulawesi Selatan, Andi Muzakkir Aqil, berharap pemerintah terus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan kesejahteraan rakyat semakin meningkat.
Senin, 19 Okt 2026 14:03
Ekbis
OJK dan Komisi XI DPR RI Perkuat Literasi Keuangan Warga Soppeng
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama Komisi XI DPR RI memperkuat edukasi keuangan bagi masyarakat di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Senin (19/10).
Senin, 19 Okt 2026 12:47
Sulsel
Nasdem Sulsel Usung Spirit Konsistensi Perjuangan untuk Rakyat di HUT ke-15
Partai Nasdem Sulawesi Selatan bakal merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-15 pada November 2026. Mereka mengusung spirit komitmen kebersamaan menuju Pemilu 2029.
Rabu, 14 Okt 2026 08:13
Sulsel
PAN Sulsel Target 5 Kursi DPR RI dan 10 Kursi DPRD Provinsi di Pileg 2029
Ketua DPW PAN Sulsel, Ashabul Kahfi mematok target tinggi usai dilantik untuk periode kelimanya memimpin partai ini. Ia dikukuhkan langsung oleh Ketum DPP Zulkifli Hasan di Makassar pada Rabu (7/10/2026).
Rabu, 07 Okt 2026 18:16
News
BHS Ingatkan Kemenhub: Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau karena Kebijakan Panik
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), meminta Kementerian Perhubungan tidak membatasi jumlah penumpang kapal hanya berdasarkan kapasitas sekoci.
Rabu, 07 Okt 2026 09:41
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Prof JJ Lantik Pimpinan RS Unhas Periode 2026–2030
2
BEM Polbangtan Gowa Kumpulkan 109 Pendonor Darah
3
Muslimah Millionaire Hadir di Makassar, Dorong Pengusaha Kembangkan Bisnis Islami
4
OJK dan Komisi XI DPR RI Perkuat Literasi Keuangan Warga Soppeng
5
Realisasi PAD Maros Capai 82,23 Persen, Tersisa Rp61,5 Miliar dari Target
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Prof JJ Lantik Pimpinan RS Unhas Periode 2026–2030
2
BEM Polbangtan Gowa Kumpulkan 109 Pendonor Darah
3
Muslimah Millionaire Hadir di Makassar, Dorong Pengusaha Kembangkan Bisnis Islami
4
OJK dan Komisi XI DPR RI Perkuat Literasi Keuangan Warga Soppeng
5
Realisasi PAD Maros Capai 82,23 Persen, Tersisa Rp61,5 Miliar dari Target