UIN Alauddin Makassar Kukuhkan 3 Guru Besar

Selasa, 28 Apr 2026 16:19
UIN Alauddin Makassar Kukuhkan 3 Guru Besar
Prof Hamdan Juhannis mengukuhkan tiga guru besar dalam rapat senat terbuka di Gedung Auditorium Kampus II, Kabupaten Gowa. Foto: Istimewa
Comment
Share
GOWA - UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Auditorium Kampus II, Kabupaten Gowa, Selasa (28/4/2026). Mereka yakni Prof Dr Hj Marhaeni Saleh, Prof Drs Wahyuddin Halim, dan Prof Dr Hj Rahmi Damis.

Prof Dr Hj Marhaeni Saleh dikukuhkan dalam bidang kepakaran: Pemikiran Islam Modern pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sementara itu Prof Drs Wahyuddin Halim dikukuhkan dalam bidang kepakaran: Antropologi Agama. Terakhir, Prof Rahmi Damis M.Ag dikukuhkan dalam bidang kepakaran Tafsir Tematik.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Marhaeni Saleh menekankan bahwa pemikiran Islam modern harus hadir sebagai jawaban atas perubahan zaman yang terus bergerak cepat. Menurutnya, umat Islam tidak hidup dalam ruang sosial yang statis, melainkan berada di tengah modernitas yang ditandai oleh perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi sosial, hingga perubahan pola relasi manusia dengan agama dan otoritas.

Ia menjelaskan, pemikiran Islam modern bukanlah upaya meninggalkan tradisi, tetapi menghidupkan kembali ajaran Islam melalui pembacaan yang rasional, historis, dan kontekstual. Modernitas tidak cukup dipahami sebagai kemajuan teknologi semata, melainkan perubahan cara manusia memahami dunia, mengambil keputusan, dan menempatkan agama dalam ruang publik.

Dalam konteks itu, Prof Marhaeni menilai Islam harus mampu berdialog dengan nilai-nilai modern seperti demokrasi, keadilan sosial, pluralisme, dan hak asasi manusia. Islam, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi simbol identitas yang eksklusif, tetapi harus hadir sebagai kekuatan moral yang memperkuat kehidupan bersama, terutama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam studi Islam, termasuk dialog dengan sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya. Baginya, guru besar tidak hanya berperan sebagai produsen ilmu, tetapi juga penjaga nilai, pengarah tradisi intelektual, dan jembatan antara kampus dengan masyarakat.

Sementara itu, Prof Wahyuddin Halim menyoroti paradoks keberagamaan di Indonesia, yakni tingginya kesalehan ritual yang belum selalu berbanding lurus dengan integritas moral dan kejujuran sosial. Ia mencontohkan bagaimana masyarakat sangat disiplin menjalankan ibadah, namun praktik korupsi, ketidakadilan, dan penyimpangan sosial tetap marak terjadi.

Menurutnya, persoalan tersebut muncul karena agama sering berhenti pada level simbol, ritual, dan pengetahuan, tetapi belum benar-benar menjadi karakter hidup. Ia menyebut kondisi ini sebagai kegagalan “penubuhan” ajaran agama, yakni ketika nilai agama tidak menjelma menjadi akhlak yang otomatis bekerja dalam diri seseorang.

Dalam konteks Bugis-Makassar, Prof Wahyuddin menawarkan konsep Siri’ na Sara’ sebagai fondasi moral yang mampu menjembatani persoalan itu. Siri’ dipahami bukan sekadar rasa malu, tetapi sistem nilai yang menyangkut martabat, integritas, dan harga diri, sementara sara’ memberi kedalaman spiritual melalui syariat Islam.

Menurutnya, pendidikan agama seharusnya tidak berhenti pada hafalan dan ceramah, tetapi harus membentuk kebiasaan, keteladanan, dan komunitas moral yang hidup. Agama, kata dia, tidak cukup diajarkan, tetapi harus dihidupi bersama agar benar-benar menjadi karakter sosial.

Adapun Prof Rahmi Damis menegaskan bahwa memahami konsep nafs dalam Al-Qur’an menjadi kunci penting dalam membentuk kualitas manusia. Menurutnya, Al-Qur’an menyebut nafs sebanyak 295 kali dengan makna yang beragam, mulai dari diri manusia, hati, ruh, hingga totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki dua potensi utama, yakni fujur (kecenderungan buruk) dan taqwa (kecenderungan baik). Karena itu, kualitas seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya mengendalikan hawa nafsu dan mengembangkan potensi kebaikan dalam dirinya.

Dalam perspektif tasawuf, Prof Rahmi menguraikan tujuh tingkatan nafs, mulai dari ammarah yang dikuasai hawa nafsu hingga mencapai tingkat muthmainnah, radhiyah, mardhiyah, dan puncaknya insan kamil. Menurutnya, hanya jiwa yang tenang dan bersih yang menjadi perhatian Allah SWT.

Karena itu, ia menekankan pentingnya tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa, baik secara lahir maupun batin. Penyucian tersebut dilakukan melalui pengendalian anggota tubuh dari maksiat, pembersihan hati dari iri, dengki, riya, dan kesombongan, hingga memperkuat zikir dan kedekatan spiritual kepada Allah.

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis menyampaikan selamat kepada ketiga guru besar. Ia meminta ketiganya untuk terus belajar.

"Terus belajar, turunkan tensi, naikkan empati. Hindari sikap SMMS alias senang melihat mahasiswa susah," ucap Prof Hamdan dalam sambutannya.

Ia menitipakan pesan kepada para guru besar untuk disampaikan kepada generasi penerus. Pesan itu yakni, aturan hidup yang secara garis besar ada tiga. Di mana ketiganya jika disimpulkan dalam satu kata adalah ikhtiar.

"Bila kamu tidak mengupayakan, tidak mendapatkan apa-apa. Bila kamu tidak melangkah ke depan, kamu tetap di tempat yang sama. Terakhir, bila kami tidak pernah bertanya, maka jawabannya tidak," pungkas Prof Hamdan.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru