Siswa Athirah Belajar Sains Maritim dari Proses Pembuatan Kapal Phinisi di Tana Beru

Rabu, 29 Apr 2026 12:05
Siswa Athirah Belajar Sains Maritim dari Proses Pembuatan Kapal Phinisi di Tana Beru
Kunjungan ke pusat pembuatan kapal Phinisi di Tana Beru menjadi bagian dari hari kedua kegiatan Field Trip Sains, Sosial, dan Religius yang berlangsung pada Selasa (28/4/2026). Foto: Istimewa
Comment
Share
BULUKUMBA - Deretan rangka kapal kayu berdiri di sepanjang pesisir Tana Beru, Kabupaten Bulukumba. Sebagian masih berupa susunan balok kayu, sementara lainnya telah menjulang tinggi menyerupai kapal utuh.

Di lokasi inilah siswa kelas XI SMAS Islam Athirah Makassar menyaksikan langsung proses pembuatan kapal Phinisi, kapal layar tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Kunjungan ke pusat pembuatan kapal Phinisi di Tana Beru menjadi bagian dari hari kedua kegiatan Field Trip Sains, Sosial, dan Religius yang berlangsung pada Selasa (28/4/2026).

Sebanyak 151 siswa hadir untuk melihat lebih dekat bagaimana kapal Phinisi dibuat secara tradisional oleh para panrita lopi, pengrajin yang menjaga warisan budaya maritim tersebut dari generasi ke generasi.

Setibanya di lokasi, perhatian para siswa langsung tertuju pada kerangka kapal berukuran besar yang sedang dibangun. Salah satunya bahkan menjulang hingga sekitar 30 meter. Pemandangan itu memberi pengalaman berbeda bagi para siswa yang sebelumnya hanya mengenal proses pembuatan kapal melalui video pembelajaran.

Arjuna, siswa kelas XI.2, mengaku antusias bisa melihat langsung proses pembuatan kapal Phinisi dari dekat.

“Ini menjadi sangat seru karena sebelumnya kami diberi pengantar melalui video di YouTube, dan hari ini kami bisa menyaksikan langsung bagaimana proses pembuatannya,” ujarnya.

Didampingi para panrita lopi, siswa diajak memahami setiap tahap pembuatan kapal, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses perakitan badan kapal.

Salah satu pengrajin, Muhammad Asri Araf, yang telah bekerja selama 30 tahun, menjelaskan bahwa kapal Phinisi dibuat dari kayu pilihan agar mampu bertahan menghadapi gelombang laut.

“Phinisi dibuat dari kayu ulin, jati, dan merbau. Bentuk lambungnya dirancang untuk menghadapi ombak besar,” jelas Asri.

Bagi para siswa, kunjungan ini bukan sekadar melihat proses pembuatan kapal, tetapi juga memahami bagaimana pengetahuan tradisional tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi.

Saat sesi tanya jawab, siswa mencari tahu bagaimana para pengrajin menyesuaikan kebutuhan zaman modern tanpa meninggalkan cara kerja yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kami tetap membuat kapal secara tradisional, tetapi sekarang sudah menggunakan GPS dan mesin diesel untuk kebutuhan perdagangan global,” tambah Asri.

Melalui pengamatan langsung, siswa belajar bahwa kapal Phinisi bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi juga menyimpan berbagai konsep pembelajaran. Dari proses pembuatannya, mereka melihat penerapan prinsip daya apung, mengenal jenis material yang digunakan, hingga memahami kaitan industri kapal dengan kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.

Kepala SMAS Islam Athirah Makassar, Tawakkal Kahar, mengatakan kegiatan lapangan seperti ini dirancang untuk menghubungkan pembelajaran di kelas dengan kondisi nyata di lapangan.

“Siswa membaca dan mengamati apa yang mereka lihat di tempat ini, kemudian melakukan wawancara kepada para pengrajin. Itu menunjukkan nalar kritis mereka aktif, dan itu menjadi salah satu tujuan dari kegiatan ini,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman langsung seperti ini membantu siswa memahami bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dapat ditemukan melalui interaksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Kunjungan ke Tana Beru ditutup dengan sesi foto bersama di depan kapal yang masih dalam tahap pembangunan. Setelah itu, rangkaian field trip dilanjutkan ke Kantor DPRD Bulukumba dan Pabrik Karet Lonsum.

Melalui kunjungan ini, siswa tidak hanya mengenal proses pembuatan kapal Phinisi, tetapi juga belajar melihat hubungan antara sains, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Di Tana Beru, mereka menyaksikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pengetahuan yang terus hidup dan berkembang bersama zaman.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru