Legislator Makassar Imbau Pemerintah Antisipasi Dampak Naiknya Harga BBM
Rabu, 10 Jun 2026 19:13
Ketua Komisi C DPRD Kota Makassar, Azwar Rasmin, saat ditemui di lantai 2 Kantor Sementara DPRD Kota Makassar (Ex Kantor Perumnas Regional VIl. Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan
MAKASSAR - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mendapat sorotan dari anggota DPRD Kota Makassar. Ketua Komisi C DPRD Makassar, Azwar Rasmin, meminta pemerintah kota mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul setelah penyesuaian harga tersebut.
Azwar menyesalkan kebijakan kenaikan harga Pertamax, meski memahami pertimbangan pemerintah pusat terkait besarnya beban subsidi energi.
"Tentu, sebagai wakil rakyat walaupun di tingkatan DPRD, kami sangat menyesalkan adanya kenaikan harga tersebut. Namun, mungkin hal ini sudah dihitung dan dipertimbangkan oleh pemerintah pusat mengenai dampak atau imbas dari kenaikan tersebut," ujarnya kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).
Ia meminta organisasi perangkat daerah terkait lebih sigap dalam mengantisipasi dampak yang timbul, termasuk potensi kelangkaan BBM dan antrean panjang di SPBU.
"Dinas-dinas terkait harus bisa mengantisipasi dampak yang muncul, termasuk masalah kelangkaan BBM dan terjadinya antrean panjang. Bagaimana caranya dinas-dinas terkait ini bisa membantu masyarakat. Sudah harganya naik, masyarakat masih harus mengantre lagi," kata Azwar.
Menurutnya, pemerintah kota perlu hadir langsung di lapangan. Salah satunya melalui keterlibatan Dinas Perhubungan untuk membantu mengatur arus lalu lintas di sekitar SPBU.
"Di sinilah peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Misalnya, Dinas Perhubungan dapat turun tangan membantu di setiap SPBU untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu masyarakat agar lebih tertib. Namun secara umum, kami memang menyesalkan adanya kenaikan tersebut," tandasnya.
Terkait potensi kenaikan harga bahan pokok, Azwar berharap dampak penyesuaian harga Pertamax tidak merembet ke kebutuhan sehari-hari masyarakat.
"Semoga tidak berdampak ke sana. Karena kalau kita lihat, yang mengalami kenaikan ini adalah Pertamax, yang mana merupakan bahan bakar yang segmentasi penggunanya adalah masyarakat kelas menengah ke atas," harap politisi PKS tersebut.
Ia juga menyambut positif keputusan pemerintah yang mempertahankan harga Pertalite dan Solar.
"Saya kira, mudah-mudahan kebijakan ini juga bisa membantu perekonomian kita, mengingat beban subsidi yang ditanggung pemerintah selama ini sudah cukup besar," sambungnya.
Azwar menegaskan seluruh potensi dampak pasca-kenaikan harga Pertamax harus diantisipasi sejak dini agar tidak semakin membebani masyarakat.
"Jadi, semua potensi dampak harus diantisipasi. Di situlah kita bisa melihat kehadiran pemerintah daerah yang nyata di tengah masyarakat. Jangan sampai masyarakat yang sedang susah, lalu ditambah susah lagi," terangnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan masyarakat menghadapi persoalan ganda, yakni kenaikan harga BBM dan kesulitan memperoleh pasokan di lapangan.
"Sudah harga naik, disuruh mengantre pula, lalu barangnya susah didapatkan, dan ditambah lagi tidak adanya penetrasi pasar terhadap harga bahan-bahan pokok. Hal-hal seperti itulah yang kami sesalkan jika sampai terjadi. Namun, saya percaya dan yakin Pemerintah Kota Makassar bisa mengatasi dan mengantisipasi hal tersebut," tutup Azwar.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai Rabu (10/6/2026). Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Selain itu, harga Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Sementara harga BBM bersubsidi tetap, yakni Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Azwar menyesalkan kebijakan kenaikan harga Pertamax, meski memahami pertimbangan pemerintah pusat terkait besarnya beban subsidi energi.
"Tentu, sebagai wakil rakyat walaupun di tingkatan DPRD, kami sangat menyesalkan adanya kenaikan harga tersebut. Namun, mungkin hal ini sudah dihitung dan dipertimbangkan oleh pemerintah pusat mengenai dampak atau imbas dari kenaikan tersebut," ujarnya kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).
Ia meminta organisasi perangkat daerah terkait lebih sigap dalam mengantisipasi dampak yang timbul, termasuk potensi kelangkaan BBM dan antrean panjang di SPBU.
"Dinas-dinas terkait harus bisa mengantisipasi dampak yang muncul, termasuk masalah kelangkaan BBM dan terjadinya antrean panjang. Bagaimana caranya dinas-dinas terkait ini bisa membantu masyarakat. Sudah harganya naik, masyarakat masih harus mengantre lagi," kata Azwar.
Menurutnya, pemerintah kota perlu hadir langsung di lapangan. Salah satunya melalui keterlibatan Dinas Perhubungan untuk membantu mengatur arus lalu lintas di sekitar SPBU.
"Di sinilah peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Misalnya, Dinas Perhubungan dapat turun tangan membantu di setiap SPBU untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu masyarakat agar lebih tertib. Namun secara umum, kami memang menyesalkan adanya kenaikan tersebut," tandasnya.
Terkait potensi kenaikan harga bahan pokok, Azwar berharap dampak penyesuaian harga Pertamax tidak merembet ke kebutuhan sehari-hari masyarakat.
"Semoga tidak berdampak ke sana. Karena kalau kita lihat, yang mengalami kenaikan ini adalah Pertamax, yang mana merupakan bahan bakar yang segmentasi penggunanya adalah masyarakat kelas menengah ke atas," harap politisi PKS tersebut.
Ia juga menyambut positif keputusan pemerintah yang mempertahankan harga Pertalite dan Solar.
"Saya kira, mudah-mudahan kebijakan ini juga bisa membantu perekonomian kita, mengingat beban subsidi yang ditanggung pemerintah selama ini sudah cukup besar," sambungnya.
Azwar menegaskan seluruh potensi dampak pasca-kenaikan harga Pertamax harus diantisipasi sejak dini agar tidak semakin membebani masyarakat.
"Jadi, semua potensi dampak harus diantisipasi. Di situlah kita bisa melihat kehadiran pemerintah daerah yang nyata di tengah masyarakat. Jangan sampai masyarakat yang sedang susah, lalu ditambah susah lagi," terangnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan masyarakat menghadapi persoalan ganda, yakni kenaikan harga BBM dan kesulitan memperoleh pasokan di lapangan.
"Sudah harga naik, disuruh mengantre pula, lalu barangnya susah didapatkan, dan ditambah lagi tidak adanya penetrasi pasar terhadap harga bahan-bahan pokok. Hal-hal seperti itulah yang kami sesalkan jika sampai terjadi. Namun, saya percaya dan yakin Pemerintah Kota Makassar bisa mengatasi dan mengantisipasi hal tersebut," tutup Azwar.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai Rabu (10/6/2026). Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
Selain itu, harga Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Sementara harga BBM bersubsidi tetap, yakni Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
(MAN)
Berita Terkait
News
DPRD Makassar Rekomendasikan Pencabutan Izin RSIA Paramount
Komisi D DPRD Kota Makassar merampungkan rekomendasi penutupan operasional Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Paramount.
Jum'at, 18 Sep 2026 19:45
News
Keluarga Bayi Desak RSIA Paramount Ditutup Permanen Usai RDP DPRD Makassar
Komisi D DPRD Kota Makassar menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait dugaan kelalaian di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Paramount yang menyebabkan meninggalnya bayi Al Fared Zareen Putra Ilhamsyah, Kamis (17/9/2026).
Jum'at, 18 Sep 2026 00:42
News
Antrean BBM di Gowa, Takalar & Maros Kondusif, Pertamina Tambah Penyaluran 15 Persen
Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Gowa, Takalar, dan Maros, Sulawesi Selatan, terpantau kondusif.
Rabu, 16 Sep 2026 13:33
Sulsel
Wabup Bantaeng Ikuti Monev BBM Bersubsidi Sulsel
Wakil Bupati Bantaeng H. Sahabuddin mengikuti rapat monitoring dan evaluasi (monev) pemantauan BBM bersubsidi se-Sulawesi Selatan secara virtual dari Ruang Studio Mal Pelayanan Publik Kabupaten Bantaeng, Senin (14/9/2026).
Selasa, 15 Sep 2026 07:31
Sulsel
Bupati Talenrang Sebut Ketersediaan BBM di Gowa Berangsur Lancar
Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menghadiri Rapat Monitoring dan Evaluasi Pemantauan dan Pengawasan Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) se-Sulawesi Selatan di Baruga Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Senin (14/9).
Senin, 14 Sep 2026 18:38
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dua Tim SMP Islam Athirah Makassar Wakili Sulsel di OPSI 2026
2
Meriah di 17 Kota, BAF Friends Festival Hadirkan Banyak Keseruan untuk Konsumen
3
HAR Soroti Masalah Sampah di Gowa, DPRD Bakal Panggil DLH untuk Klarifikasi
4
PPGA LP2M UNM Gelar Dialog Interaktif RRI, Dorong Remaja Putri Tekuni Bidang STEM
5
Asmo Sulsel Perkuat Sinergi Grup Astra Lewat Company Visit dan Safety Riding
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dua Tim SMP Islam Athirah Makassar Wakili Sulsel di OPSI 2026
2
Meriah di 17 Kota, BAF Friends Festival Hadirkan Banyak Keseruan untuk Konsumen
3
HAR Soroti Masalah Sampah di Gowa, DPRD Bakal Panggil DLH untuk Klarifikasi
4
PPGA LP2M UNM Gelar Dialog Interaktif RRI, Dorong Remaja Putri Tekuni Bidang STEM
5
Asmo Sulsel Perkuat Sinergi Grup Astra Lewat Company Visit dan Safety Riding