Kopi Rumbia Jeneponto Tembus Pasar Eropa Republik Ceko
Senin, 29 Jun 2026 20:50
Pelepasan ekspor perdana Kopi Rumbia ke Ceko dihadiri Bupati Jeneponto Paris Yasir, Kanwil Kemenkum Sulsel yang diwakili Kabid Pelayanan KI Andi Haris. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Sebuah tonggak bersejarah terukir di Kabupaten Jeneponto melalui Kopi Rumbia, kopi lokal berstatus Indikasi Geografis kebanggaan Sulawesi Selatan, untuk pertama kalinya menapaki pasar Eropa dengan dikirimnya 300 kilogram kopi sebagai ekspor perdana ke Republik Ceko.
Pelepasan ekspor perdana ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur Pemerintah Kabupaten Jeneponto oleh Bupati Paris Yasir, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan (Kanwil Kemenkum Sulsel) yang diwakili Kabid Pelayanan KI Andi Haris, Balai Standardisasi Nasional (BSN) Makassar, Bank Sulselbar, Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG), eksportir, hingga para pelaku UMKM.
Ketua MPIG Kopi Rumbia, Haji Nasrum, mengakui bahwa 300 kilogram yang dikirim Senin, (29/06/2026) baru sebatas sampel yang merupakan langkah awal untuk memperkenalkan Kopi Rumbia kepada pasar Eropa.
"Ini ekspor perdana dan memang baru dalam jumlah kecil. Tapi kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi," ujar Haji Nasrum penuh optimisme.
Direktur PT Arsyam Nusantara Sejahtera, Renaldi, yang menjadi eksportir dalam pengiriman perdana ini, menyampaikan bahwa perusahaannya telah berpengalaman mengekspor produk ke delapan negara termasuk Australia. Namun Kopi Rumbia ke Republik Ceko adalah yang pertama dan dia berharap ini menjadi pintu masuk menuju pasar Eropa yang lebih luas.
"Kopi Rumbia punya kualitas yang layak bersaing di pasar global. Yang kami butuhkan adalah dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar produk ini bisa terus hadir dan bersaing dengan kopi-kopi berkualitas dari daerah lain," ujar Renaldi.
Kepala Bidang Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Sulsel, Andi Haris, menyampaikan bahwa Kopi Rumbia bukan satu-satunya potensi kekayaan intelektual yang dimiliki Jeneponto. Dari hasil inventarisasi yang telah dilakukan, Kanwil mencatat sejumlah produk lokal lain yang berpotensi mendapatkan pelindungan serupa mulai dari Tenun Tope, gula aren/lontara hingga jagung khas Jeneponto. Ia juga menyampaikan apresiasi Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sulsel, Andi Basmal atas capaian luar biasa ini, dengan harapan Jeneponto terus mendorong dalam pengembangan dan pelindungan kekayaan intelektual berbasis potensi lokal.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Demson Marihot mengatakan, kopi rumbia sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis pada tahun 2023 karena memiliki kualitas, karakteristik, dan reputasi yang khas. Saat ini di Sulawesi Selatan sudah ada 15 produk Indikasi Geografis yang terdaftar, dan Jeneponto adalah salah satu yang patut menjadi contoh. Kami akan terus mendorong potensi KI lain di Jeneponto agar mendapat pelindungan hukum yang layak.
Perwakilan BSN Makassar turut menekankan pentingnya penerapan standar mutu yang konsisten dalam proses produksi Kopi Rumbia. Tanpa standardisasi yang ketat, reputasi yang sudah terbangun bisa mudah goyah di mata pembeli internasional yang memiliki standar yang sangat tinggi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jeneponto, Sapa Muji, menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan UMKM melalui berbagai program pemberdayaan dan peningkatan daya saing produk lokal. Sementara itu, Bupati Jeneponto, Paris Yasir menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mengupayakan mendorong pembangunan sarana peningkatan kualitas pascapanen yang diyakini akan mendongkrak kualitas Kopi Rumbia ke level yang lebih tinggi lagi.
"Kami ingin petani kopi di Jeneponto bangga dengan produknya sendiri. Dan kami ingin dunia tahu bahwa kopi terbaik bukan hanya dari tempat-tempat yang sudah terkenal, Kopi Rumbia Jeneponto membuktikan itu hari ini," ujar Bupati Jeneponto.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap momentum bersejarah ini, Bank Sulselbar turut menyerahkan cindera mata kepada para pelaku yang terlibat, sebuah gestur kecil yang bermakna besar sebagai pengakuan atas perjuangan panjang di balik secangkir kopi yang kini siap menembus dunia internasional
Terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sulsel, Andi Basmal, yang diwakili dalam kegiatan ini, menyampaikan bahwa momen pelepasan ekspor perdana Kopi Rumbia adalah bukti konkret bahwa pelindungan Indikasi Geografis merupakan instrumen nyata peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Ketika sebuah produk lokal berhasil menembus pasar internasional dengan identitas dan pelindungan hukum yang kuat, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh eksportir. Petani, kelompok usaha, dan seluruh ekosistem di sekitarnya ikut terangkat. Inilah alasan mengapa kami terus mendorong pelindungan kekayaan intelektual di seluruh Sulawesi Selatan," tegas Andi Basmal
Pelepasan ekspor perdana ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur Pemerintah Kabupaten Jeneponto oleh Bupati Paris Yasir, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan (Kanwil Kemenkum Sulsel) yang diwakili Kabid Pelayanan KI Andi Haris, Balai Standardisasi Nasional (BSN) Makassar, Bank Sulselbar, Masyarakat Pelindung Indikasi Geografis (MPIG), eksportir, hingga para pelaku UMKM.
Ketua MPIG Kopi Rumbia, Haji Nasrum, mengakui bahwa 300 kilogram yang dikirim Senin, (29/06/2026) baru sebatas sampel yang merupakan langkah awal untuk memperkenalkan Kopi Rumbia kepada pasar Eropa.
"Ini ekspor perdana dan memang baru dalam jumlah kecil. Tapi kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi," ujar Haji Nasrum penuh optimisme.
Direktur PT Arsyam Nusantara Sejahtera, Renaldi, yang menjadi eksportir dalam pengiriman perdana ini, menyampaikan bahwa perusahaannya telah berpengalaman mengekspor produk ke delapan negara termasuk Australia. Namun Kopi Rumbia ke Republik Ceko adalah yang pertama dan dia berharap ini menjadi pintu masuk menuju pasar Eropa yang lebih luas.
"Kopi Rumbia punya kualitas yang layak bersaing di pasar global. Yang kami butuhkan adalah dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar produk ini bisa terus hadir dan bersaing dengan kopi-kopi berkualitas dari daerah lain," ujar Renaldi.
Kepala Bidang Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Sulsel, Andi Haris, menyampaikan bahwa Kopi Rumbia bukan satu-satunya potensi kekayaan intelektual yang dimiliki Jeneponto. Dari hasil inventarisasi yang telah dilakukan, Kanwil mencatat sejumlah produk lokal lain yang berpotensi mendapatkan pelindungan serupa mulai dari Tenun Tope, gula aren/lontara hingga jagung khas Jeneponto. Ia juga menyampaikan apresiasi Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sulsel, Andi Basmal atas capaian luar biasa ini, dengan harapan Jeneponto terus mendorong dalam pengembangan dan pelindungan kekayaan intelektual berbasis potensi lokal.
Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Demson Marihot mengatakan, kopi rumbia sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis pada tahun 2023 karena memiliki kualitas, karakteristik, dan reputasi yang khas. Saat ini di Sulawesi Selatan sudah ada 15 produk Indikasi Geografis yang terdaftar, dan Jeneponto adalah salah satu yang patut menjadi contoh. Kami akan terus mendorong potensi KI lain di Jeneponto agar mendapat pelindungan hukum yang layak.
Perwakilan BSN Makassar turut menekankan pentingnya penerapan standar mutu yang konsisten dalam proses produksi Kopi Rumbia. Tanpa standardisasi yang ketat, reputasi yang sudah terbangun bisa mudah goyah di mata pembeli internasional yang memiliki standar yang sangat tinggi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Jeneponto, Sapa Muji, menegaskan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan UMKM melalui berbagai program pemberdayaan dan peningkatan daya saing produk lokal. Sementara itu, Bupati Jeneponto, Paris Yasir menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mengupayakan mendorong pembangunan sarana peningkatan kualitas pascapanen yang diyakini akan mendongkrak kualitas Kopi Rumbia ke level yang lebih tinggi lagi.
"Kami ingin petani kopi di Jeneponto bangga dengan produknya sendiri. Dan kami ingin dunia tahu bahwa kopi terbaik bukan hanya dari tempat-tempat yang sudah terkenal, Kopi Rumbia Jeneponto membuktikan itu hari ini," ujar Bupati Jeneponto.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap momentum bersejarah ini, Bank Sulselbar turut menyerahkan cindera mata kepada para pelaku yang terlibat, sebuah gestur kecil yang bermakna besar sebagai pengakuan atas perjuangan panjang di balik secangkir kopi yang kini siap menembus dunia internasional
Terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sulsel, Andi Basmal, yang diwakili dalam kegiatan ini, menyampaikan bahwa momen pelepasan ekspor perdana Kopi Rumbia adalah bukti konkret bahwa pelindungan Indikasi Geografis merupakan instrumen nyata peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Ketika sebuah produk lokal berhasil menembus pasar internasional dengan identitas dan pelindungan hukum yang kuat, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh eksportir. Petani, kelompok usaha, dan seluruh ekosistem di sekitarnya ikut terangkat. Inilah alasan mengapa kami terus mendorong pelindungan kekayaan intelektual di seluruh Sulawesi Selatan," tegas Andi Basmal
(GUS)
Berita Terkait
News
Asmo Sulsel Edukasi Mahasiswa tentang Bahaya Berkendara Saat Mengantuk
Kopi kerap menjadi pilihan anak muda untuk menahan rasa kantuk. Namun, mengandalkan kafein agar tetap terjaga saat berkendara bukan solusi untuk menggantikan kebutuhan tubuh beristirahat.
Kamis, 01 Okt 2026 16:04
Ekbis
NIPAH PARK Gelar Makassar Coffee Fest 2026, Dukung Industri Kopi Lokal
Penyelenggaraan Makassar Coffee Fest 2026 merupakan bagian dari upaya NIPAH PARK mendukung kegiatan UMKM sekaligus memperkuat ekosistem industri kopi di daerah.
Rabu, 16 Sep 2026 19:21
News
Mengenal Kopi Arabika Kahayya, Cita Rasa Dataran Tinggi Kindang dengan Status Indikasi Geografis
Di ketinggian 900 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, di lereng pegunungan Lompobattang Bawakaraeng, tumbuh pohon kopi yang menyimpan cerita panjang. Namanya Kopi Arabika Kahayya, dipetik dari kebun-kebun warga Desa Kahayya
Kamis, 10 Sep 2026 10:07
News
Kopi Arabika Kahayya Sulsel Diperkenalkan di Kantor Paten Denmark
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Selatan (Kanwil Kemenkum Sulsel), Andi Basmal, memperkenalkan Kopi Arabika Kahayya, produk Indikasi Geografis kebanggaan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dalam kunjungan lapangan ke Danish Patent and Trademark Office (
Selasa, 08 Sep 2026 06:36
News
Kopi Indigeo Sulsel Diminati di Festival Dieng 2026
Tiga kopi terdaftar Indikasi Geografis (Indigeo) kebanggaan Sulawesi Selatan turut mewarnai gelaran Festival Kopi Dieng 2026 yang berlangsung 27–30 Agustus 2026.
Senin, 31 Agu 2026 19:33
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Semen Tonasa Ungkap Keunggulan Bata Interlock Presisi untuk Bangun Rumah
2
Kebakaran Lahan 3 Hektare di Lutim Padam Setelah Tiga Jam Pemadaman
3
Tekuk Kaltim 1-0, Superco Superteam Juara dan Siap Lahirkan Talenta Timnas
4
SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bentuk Karakter Siswa Lewat Perkemahan Pramuka
5
Musdalub DPD SP PLN UIP Sulawesi Teguhkan Regenerasi & Soliditas Serikat Pekerja
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Semen Tonasa Ungkap Keunggulan Bata Interlock Presisi untuk Bangun Rumah
2
Kebakaran Lahan 3 Hektare di Lutim Padam Setelah Tiga Jam Pemadaman
3
Tekuk Kaltim 1-0, Superco Superteam Juara dan Siap Lahirkan Talenta Timnas
4
SMA Islam Athirah Bukit Baruga Bentuk Karakter Siswa Lewat Perkemahan Pramuka
5
Musdalub DPD SP PLN UIP Sulawesi Teguhkan Regenerasi & Soliditas Serikat Pekerja