Suka Duka Mutmainnah, Mahasiswi Unhas yang Jadi Garda Terdepan Sensus BPS

Rabu, 01 Jul 2026 19:58
Suka Duka Mutmainnah, Mahasiswi Unhas yang Jadi Garda Terdepan Sensus BPS
Petugas sensus ekonomi BPS, Mutmainna di RW 002 NTI, Jalan Bhayangkara, Kelurahan Kapasa, Makassar, Rabu (1/7/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Menjadi garda terdepan dalam pengumpulan data sensus nasional bukanlah tugas yang mudah. Hal itu dirasakan Mutmainnah (22), mahasiswi Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin (Unhas), yang saat ini bertugas sebagai petugas sensus ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS).

"BPS meminta mahasiswa Unhas untuk menjadi mitranya dan menjadi bagian dari pelaksanaan Sensus Ekonomi itu sendiri," ucap Mutmainnah kepada SINDO Makassar, Rabu (1/7/2026).

Mutmainnah, yang akrab disapa Inna, merupakan satu dari sekitar 150 mahasiswa Unhas yang direkrut melalui kerja sama antara universitas dan BPS.

"Sebenarnya tidak ada kuota khusus per fakultas atau per jurusan. Namun, seingat saya, BPS meminta sekitar 150-an mahasiswa," katanya.

Kesempatan menjadi petugas sensus berawal dari informasi yang diterimanya dari pihak kampus.

"Kebetulan saya mendapatkan informasi ini dari pak Wakil Dekan II. Jadi, ternyata pihak BPS yang bermitra dengan Universitas Hasanuddin," bebernya saat diwawancarai.

Sebelum turun ke lapangan, Inna bersama mahasiswa lainnya mengikuti pelatihan selama tiga hari yang digelar di Hotel Almadera.

"Pesannya itu, kami benar-benar diwanti-wanti untuk menyiapkan mental. Karena pihak BPS pun tahu bahwa di lapangan nanti pasti akan ada penolakan atau kendala-kendala lainnya. Jadi, mental kami memang harus siap," tegas Mutmainnah.

Dalam menjalankan tugasnya, mahasiswi asal Bulukumba tersebut ditargetkan mendata 600 hingga 700 kepala keluarga (KK) hingga 31 Agustus 2026.

"Selama ini, kalau berdasarkan aplikasi dan data dari saya pribadi, memang belum cukup 200. Masih sekitar 180-an. Tapi, itu tidak semuanya berupa keluarga. Ada beberapa yang bangunannya kosong atau bangunan yang tidak ditinggali. Sebenarnya kami ditargetkan sekitar 600 sampai 700 KK per orang (per anggota sensus ekonomi BPS)," sebutnya saat dikonfirmasi.

Mutmainnah bertanggung jawab melakukan pendataan di 14 RT yang berada di kawasan Nusa Tamalanrea Indah (NTI), Makassar.

"Kalau saya sendiri, cakupannya ada 14 RT. Yaitu RT 4, RT 5, RT 6 di RW 1; kemudian RT 1 sampai 8 di RW 2; serta RT 1 sampai 3 di RW 3. Jadi, sejauh ini saya sudah mendata sekitar 150 KK yang tersebar di 3 RT, yaitu RT 4 RW 1, RT 6 RW 1, dan RT 6 RW 2," sambungnya.

Di balik tugas tersebut, Inna mengaku kerap mengalami kesulitan saat menemui responden. Tingginya aktivitas warga di kawasan perumahan NTI membuat proses pendataan tidak selalu berjalan mudah.

"Jadi kendala utamanya adalah banyak responden yang susah ditemui. Mau didatangi pagi, siang, atau sore, itu rasanya sulit sekali bertemu mereka. Sementara kalau kita mau wawancara malam hari, ada rasa takut juga karena khawatir mengganggu waktu istirahat mereka. Jadi, itu duka yang paling terasa," ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai penolakan dari sebagian warga bukan hambatan yang berarti dan merupakan bagian dari risiko pekerjaan yang harus dihadapi.

"Kalau sukanya, mungkin karena banyak juga responden yang menyambut dengan ramah. Responden yang ramah-ramah seperti itu yang bikin senang," bebernya.

Ia berharap masyarakat dapat terus mendukung proses pendataan hingga seluruh tahapan sensus selesai dilaksanakan.

"Harapan saya, semoga ke depannya para responden selalu menerima kami dengan baik, serta mau menjawab semua pertanyaan dengan sejujur-jujurnya," harap Mutmainnah.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru