Komisi XII DPR Apresiasi Proyek HPAL PT Vale, Dorong Hilirisasi Nikel

Jum'at, 17 Apr 2026 14:21
Komisi XII DPR Apresiasi Proyek HPAL PT Vale, Dorong Hilirisasi Nikel
Komisi XII DPR RI mengapresiasi PT Vale Indonesia yang melakukan percepatan pembangunan proyek High-Pressure Acid Leaching (HPAL). Foto/Istimewa
Comment
Share
KENDARI - Komisi XII DPR RI mengapresiasi PT Vale Indonesia yang melakukan percepatan pembangunan proyek High-Pressure Acid Leaching (HPAL). Hal itu dinilai merupakan langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi nikel nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi pemain penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Pattijaya, mengatakan proyek HPAL yang dikembangkan PT Vale bersama mitra internasional menunjukkan komitmen investasi jangka panjang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia.

"Tadi sudah dilaporkan pada kami bahwa PT Vale sedang merampungkan pembangunan pabrik HPAL tadi antara Vale dengan Huayou Cobalt Co. (Huayou), dan Ford sebagai offtaker," ucapnya usai Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI ke Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, Rabu (15/4/2026).

Menurut Bambang, kolaborasi PT Vale, Huayou Cobalt Co., dan Ford menjadi bukti bahwa investasi di sektor hilirisasi nikel Indonesia semakin mendapat kepercayaan dari pelaku industri global. Kehadiran fasilitas HPAL juga dinilai akan memperkuat daya saing industri nikel nasional melalui produksi bahan baku baterai kendaraan listrik.

Bambang, yang akrab disapa BPJ, menegaskan nikel Indonesia tidak boleh lagi hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, pembangunan fasilitas HPAL menjadi bagian penting dalam mewujudkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri.

"Mudah-mudahan ini segera terealisasi dengan demikian Indonesia segera menjadi salah satu pemain EV mungkin di hulunya di baterainya dulu. Tentu kami memberikan apresiasi dan dorongan," kata dia.

Meski memberikan dukungan terhadap proyek tersebut, Komisi XII DPR RI mengingatkan PT Vale agar tetap menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan. Bambang menyoroti penurunan peringkat Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) yang sempat dialami perusahaan.

"Kepada Vale tadi kami sudah exercise juga dan kami mendapat laporan terkait dengan operasinya memang beberapa waktu lalu terjadi persoalan teknis di bidang lingkungan sehingga di bidang proper lingkungannya pun jadi turun dari sebelumnya proper emas menjadi merah. Tetapi kami mendapat laporan terkait dengan upaya-upaya bagaimana Vale melakukan perbaikan untuk segera recovery," tutup Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

PT Vale Indonesia diketahui menargetkan dua proyek smelter HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Morowali, Sulawesi Tengah, dapat selesai pada akhir 2026. Apabila belum rampung sesuai target, penyelesaian proyek dipastikan paling lambat pada 2027.

Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan kedua proyek tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) yang dikembangkan sejak 2022.

IGP Pomalaa memiliki nilai investasi sebesar US$4,43 miliar dan dikembangkan bersama Huayou serta Ford. Hingga kini progres konstruksi proyek telah mencapai 65,76 persen. Sementara itu, proyek IGP Morowali dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar telah mencapai progres pembangunan 98,85 persen.

Menurut Endra, setelah fasilitas HPAL Pomalaa beroperasi, PT Vale akan memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Selain memperkuat hilirisasi nikel nasional, proyek tersebut diharapkan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru