Pameran Dekranasda di Makassar, Produk UMKM Premium dari 38 Provinsi Jadi Primadona

Jum'at, 10 Jul 2026 16:46
Pameran Dekranasda di Makassar, Produk UMKM Premium dari 38 Provinsi Jadi Primadona
Salah satu stan Dekranasda di Lobby Lantai Dasar Trans Studio Mall Makassar, Jumat (10/7/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Sulawesi Selatan resmi menjadi tuan rumah perhelatan akbar pameran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) seluruh Indonesia, Jumat (10/7/2026).

Agenda ini dipusatkan di Lobby Lantai Dasar Trans Studio Mall (TSM) Makassar disambut antusias oleh para pelaku UMKM dari berbagai penjuru tanah air, dari perwakilan tingkat kabupaten/kota hingga perwakilan Dekranasda dari 38 provinsi di Indonesia.

Penanggung jawab stan Dekranasda Sulsel, Suprianti, menjelaskan bahwa fokus utama stan mereka adalah menampilkan kualitas terbaik dari pengrajin daerah.

"Di dalam paviliun ini adanya cuma produk premium. Di antaranya ada emas, terus ada kain sutra, kain sutra dari berbagai bentuk, ada yang berupa kain, ada yang berupa kain baju yang lengkap, ada yang berupa sarung, ada sarung, ada juga hanya kain dan sarung saja. Selain itu juga ini ada beberapa tas yang premium yang ini sengaja dikombinasi dengan produk bahan yang ada di Sulawesi Selatan," jelasnya.

Ia menyebutkan, produk yang dipamerkan tersedia dengan harga yang sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp100.000.

"Apalagi kalau emas kan aksesoris tergantung dari cincinnya dan sebagainya. Antusiasnya biasa yang namanya orang dari luar Sulawesi karena semua mencari produk khas Sulawesi," sebutnya.

Suprianti membeberkan, produk-produk khas Sulsel menjadi komoditas yang paling banyak diminati dan laris manis di pasaran selama pameran berlangsung.

"Jadi yang paling laris adalah kami anggap bahwa itu produk khas Sulawesi Selatan ini sangat diminati oleh pengunjung yang dari luar Sulawesi. Termasuk ini kain sutra, emas dan memang menjadi keunggulan kita di Sulawesi Selatan," bebernya saat dikonfirmasi.

Sementara, Anggota Bidang Pendanaan Dekranasda Kota Makassar, Nidya Harun, menjelaskan bahwa minyak tawon dengan kemasan botol besar biasanya menjadi pilihan favorit wisatawan sebagai suvenir atau oleh-oleh khas Kota Makassar.

"Maka kami hadirkan yang tutup botol kecil, 30 mili harga Rp90 ribu dengan desain khusus Kota Makassar. Dekranasda, ada logo Dekranasda dan PKK. Ini jadi bisa jadi pilihan oleh-oleh baru. Kemarin lakunya itu hampir 100. Tiap kota biasanya ambil tas 20. Karena kan biasanya yang besar, ini kita juga siapkan. Cuman kalau besar itu kan untuk menjadi oleh-oleh berat kan. Jadi kali ini jadi alternatif baru," terangnya saat diwawancarai.

Selain produk Minyak Tawon, pihaknya juga melakukan proses menghias baju bodo langsung di lokasi stan.

"Kami juga punya Baju Bodo, jadi di sini orang bisa merasakan pengalaman langsung bagaimana orang memayet (proses menghias pakaian) Baju Bodo untuk kami jual. Jadi setelah kami payet, terus langsung dijual. Ada dari Rp500.000 sampai Rp1 juta," tuturnya.

Perwakilan Dekranasda Provinsi Papua, Dina Laura Rumbiak Arisoy, mengungkapkan kebanggaannya dapat berpartisipasi dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Dekranasda ke-46 ini.

Menurutnya, pameran ini menjadi ajang strategis untuk mempromosikan hasil kreativitas masyarakat Provinsi Papua agar dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

"Kami di sini terdiri dari 8 kabupaten, 1 kota, dan juga pihak provinsi. Kami ikut merayakan HUT Dekranasda ke-46 ini sekaligus terlibat dalam pameran. Di sini kami memamerkan dan menjual hasil-hasil karya masyarakat kami di Tanah Papua," ujarnya kepada SINDO Makassar.

Kata dia, pihaknya membawa beragam produk unggulan karya masyarakat lokal untuk memeriahkan pameran Dekranasda tahun ini.

"Banyak sekali hasil kerajinan yang kami bawa sekarang. Hari ini kami membawa produk-produk tersebut dan kami sangat senang karena ada banyak pengunjung yang datang. Kami berharap ini bisa menjadi ajang promosi untuk hasil kreativitas masyarakat kami di Tanah Papua, yang nantinya akan dijual baik di Papua (di tingkat kabupaten) maupun ke luar Papua, bahkan kalau bisa sampai ke tingkat internasional," jelas Ketua Dekranasda Kabupaten Kepulauan Yapen itu.

Provinsi Papua memamerkan deretan produk, termasuk koleksi batik khas Papua yang berkualitas tinggi.

"Produk dari Tanah Papua yang paling unggul itu banyak sekali. Ada noken, tas, dan juga dompet serta tas yang terbuat dari kulit buaya. Di daerah Papua, tepatnya di Kabupaten Mamberamo Raya, di sana memang banyak buaya, sehingga kreativitas kerajinan dari bahan tersebut sangat berkembang. Ada juga ikat pinggang dan kerajinan lainnya," papar Dina.

Selain noken dan tas, lanjut dia, stan Provinsi Papua juga menampilkan berbagai hiasan topi bertema burung cendrawasih.

"Burung cenderawasih adalah kebanggaan kami di Papua, namun saat ini keberadaannya dilindungi. Jadi, burung tersebut tidak lagi sembarang ditangkap lalu diambil bulunya untuk hiasan mahkota. Berkat kreativitas yang semakin berkembang, masyarakat kini menggunakan alternatif lain yang bisa digunakan untuk menghias. Selain itu, ada juga baju adat. Baju adat ini digunakan saat acara tertentu, misalnya untuk pengantin dalam acara perkawinan di Papua," jabarnya.

Dina mengungkapkan, Dekranasda Provinsi Papua membawa partisipan dari kabupaten/kota masing-masing.

"Saya secara pribadi belum mengetahui pasti berapa total personel dari setiap kabupaten. Tetapi kami dari Kabupaten Kepulauan Yapen sendiri membawa 5 personel. Kami menyesuaikan dengan kondisi daerah dan efisiensi anggaran. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ikut, tetapi kami tidak dapat membawa semuanya karena perjalanan dari Papua sampai ke Makassar ini memakan biaya yang cukup besar, yaitu sekitar 4 juta rupiah lebih per orang untuk tiket berangkatnya saja. Jadi, kalau ditotal dengan pulang-pergi, pasti mencapai 4 juta rupiah lebih lag," ungkapnya.

Dina mengaku terkesan dengan perkembangan pesat Kota Makassar yang dinilainya sangat cepat, diiringi dengan sambutan hangat dan ramah dari masyarakat.

Selama kami di sini, kami merasa nyaman seperti berada di Papua sendiri. Apalagi banyak juga masyarakat Makassar yang pernah atau sedang tinggal di Papua. Oleh karena itu, rasa kekeluargaannya sangat terasa sekali, seperti kami sedang berada di Papua. Terima kasih untuk seluruh masyarakat di Makassar, Sulawesi Selatan, yang terus menjaga keamanan, sehingga kami di sini merasa seperti di rumah sendiri," tutupnya.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru