Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean, Tradisi Teknologi Berkembang 40.000 Tahun di Sulsel

Kamis, 16 Jul 2026 14:22
Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean, Tradisi Teknologi Berkembang 40.000 Tahun di Sulsel
Aktivitas penelitian di yang dilakukan di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, menunjukkan bahwa budaya Toalean tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari tradisi teknologi
Comment
Share
MAROS - Sebuah penelitian kolaboratif di bawah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Arkeologi Sulawesi berhasil mengungkap sejarah panjang perkembangan teknologi peralatan batu di Sulawesi Selatan selama 40.000 tahun terakhir.

Penelitian telah dipublikasikan di jurnal bergengsi arkeologi "Archaeological and Anthropological Science" dengan judul "Evolution of stone flaking technology at Leang Panninge (South Sulawesi, Indonesia) from the Late Pleistocene to the 'Toalean' technocomplex".

Penelitian yang dilakukan di situs prasejarah Leang Panninge, Kabupaten Maros, menunjukkan bahwa budaya Toalean tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari tradisi teknologi lokal yang telah berakar sejak masa Pleistosen Akhir.

Penelitian ini melibatkan para peneliti dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Sulawesi Selatan, Bumi Toala Indonesia, NALAR, dan IAAI SULAMPAPUA.

Budaya Toalean dikenal sebagai salah satu tradisi prasejarah paling khas di Indonesia, terutama melalui artefak batu ikonik yang dikenal sebagai Maros Point. Selama beberapa dekade, para arkeolog masih memperdebatkan asal-usul budaya ini dan bagaimana hubungannya dengan tradisi yang lebih tua di Sulawesi Selatan.

Melalui analisis teknologi artefak batu dari lapisan berumur sekitar 40.000 hingga 3.500 tahun lalu di Leang Panninge, para peneliti menemukan bahwa perkembangan teknologi berlangsung secara bertahap. Pada masa awal, masyarakat memproduksi serpih-serpih batu sederhana yang praktis dan banyak digunakan secara langsung tanpa modifikasi lanjutan.

Meski demikian, mereka telah mengenal berbagai strategi pereduksian batu, termasuk teknik bipolar, mungkin terkait dengan kebutuhan dalam mengolah sumber oker sebagai bahan membuat lukisan.

Dalam perjalanan waktu, teknologi tersebut terus berkembang dan menghasilkan berbagai inovasi khas Toalean. Sekitar 8.000 tahun lalu, muncul Maros Point sebagai salah satu penanda budaya Toalean. Pada periode-periode berikutnya, strategi produksi alat batu menjadi semakin terorganisasi hingga mencapai puncaknya pada Toalean Akhir, ketika masyarakat mulai menghasilkan artefak yang lebih kecil, lebih seragam, dan memanfaatkan teknologi backing.

Kesinambungan dan Inovasi

Suryatman, penulis utama penelitian dari Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai asal-usul budaya Toalean.

"Yang menarik dari penelitian ini adalah adanya kesinambungan teknologi yang sangat panjang. Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong. Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun," jelasnya.

Menurut Prof Akin Duli, Guru Besar Arkeologi Universitas Hasanuddin, pentingnya Leang Panninge tidak hanya terletak pada artefak batu yang ditemukan di situs tersebut, tetapi juga pada berbagai bukti lain yang membantu merekonstruksi sejarah manusia di Sulawesi.

"Leang Panninge merupakan salah satu situs paling penting di Indonesia karena menyimpan bukti mengenai manusia dan budayanya sekaligus. Penemuan Bessé' sebelumnya telah membuka jendela baru tentang sejarah populasi manusia di Sulawesi. Penelitian terbaru ini melengkapi gambaran tersebut dengan menunjukkan bahwa tradisi teknologi lokal memiliki sejarah perkembangan yang panjang, dari sekitar 40.000 tahun lalu hingga masa Toalean. Bersama-sama, kedua penelitian ini memperlihatkan betapa pentingnya Sulawesi dalam memahami sejarah manusia di kawasan Wallacea," ungkapnya.

Profesor Adam Brumm dari Griffith University menilai penelitian tersebut memberikan kontribusi penting bagi pemahaman tentang evolusi budaya manusia di Kepulauan Asia Tenggara. "Studi ini menyajikan bukti penting bahwa inovasi teknologi di Wallacea dibangun di atas tradisi lokal yang mengakar kuat. Alih-alih muncul secara tiba-tiba, ciri khas budaya Toalean terbentuk melalui proses panjang adaptasi, eksperimen, dan perkembangan budaya yang telah berlangsung selama puluhan ribu tahun," katanya.

Sulawesi Sebagai Pusat Kreativitas Manusia Prasejarah

Sementara itu, Budianto Hakim, perwakilan Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi, menekankan bahwa temuan ini perlu dilihat dalam konteks perkembangan budaya yang lebih luas di kawasan karst Maros-Pangkep.

"Ketika kita berbicara tentang Sulawesi Selatan 40.000 tahun lalu, kita tidak hanya berbicara tentang alat batu. Pada periode yang sama, kawasan karst Maros-Pangkep juga menjadi tempat berkembangnya tradisi seni cadas tertua di dunia. Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat yang menghuni kawasan tersebut memiliki kemampuan adaptasi dan kreativitas yang tinggi, yang tercermin baik dalam perkembangan teknologi maupun dalam ekspresi simbolik mereka," jelas dia.

Adhi Agus Oktaviana, perwakilan dari BRIN yang telah meneliti terkait lukisan dinding karst Maros-Pangkep mengungkapkan bahwa sejak 40.000 tahun lalu, inovasi teknologi masyarakat prasejarah Sulawesi Selatan tidak hanya didorong oleh kebutuhan bertahan hidup, tetapi juga oleh dedikasi teknis untuk memfasilitasi ekspresi artistik dan budaya yang sangat maju pada masanya.

"Jejak teknologi alat batu, khususnya strategi bipolar yang digunakan untuk memproses oker pada lapisan Pleistosen Akhir, memberikan bukti arkeologis yang sangat krusial. Temuan ini menjadi benang merah yang secara langsung menghubungkan teknologi perkakas sehari-hari dengan mahakarya gambar cadas di kawasan Maros-Pangkep," ungkap Adhi.

Kombinasi antara bukti teknologi, seni lukis, dan temuan manusia prasejarah dari kawasan yang sama menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah terpenting untuk memahami sejarah awal manusia di Asia Tenggara.

Memahami Inovasi Budaya Masa Lalu

Menurut Zubair Mas'ud dari BRIN, penelitian ini memperlihatkan bahwa perubahan budaya sering kali berlangsung melalui proses yang panjang dan bertahap.
"Temuan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu muncul melalui perubahan yang drastis. Dalam banyak kasus, inovasi berkembang dari pengetahuan dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah yang tampak pada perkembangan teknologi masyarakat Toalean," katanya.

Hasil penelitian ini memperkuat gagasan bahwa sejarah budaya manusia di Sulawesi Selatan merupakan kisah panjang tentang kesinambungan dan inovasi. Dari teknologi serpih sederhana pada masa Pleistosen Akhir hingga berkembangnya Maros Point dan mikrolit berpunggung pada masa Toalean, masyarakat prasejarah Sulawesi Selatan menunjukkan kemampuan adaptasi dan kreativitas yang berkembang selama puluhan ribu tahun.

Temuan ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang asal-usul budaya Toalean, tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi kajian evolusi budaya manusia di kawasan Wallacea yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah kunci dalam sejarah manusia modern.
(GUS)
Berita Terkait
Perkuat Akses Pendanaan Riset BRIN, Riset Jangan Hanya Selesai Diteliti Harus Dimanfaatkan
News
Perkuat Akses Pendanaan Riset BRIN, Riset Jangan Hanya Selesai Diteliti Harus Dimanfaatkan
Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus memperkuat kapasitas dosen dan penelitinya dalam memperoleh pendanaan riset nasional. Salah satunya melalui Sosialisasi Skema Pendanaan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tahun 2026
Jum'at, 11 Sep 2026 20:53
Output Riset Tumbuh 12 Persen, UNM Pimpin Akselerasi PTN Kawasan Timur
News
Output Riset Tumbuh 12 Persen, UNM Pimpin Akselerasi PTN Kawasan Timur
Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatat pertumbuhan output riset sebesar 12 persen pada periode Januari–Juni 2026. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam pemetaan 11 perguruan tinggi negeri kawasan Timur Indonesia yang ditampilkan berdasarkan data Elsevier.
Rabu, 19 Agu 2026 15:25
Dari Biji Kedelai Jadi Peluang Usaha: Upaya UMI Gerakkan Ekonomi Desa Leang-leang
News
Dari Biji Kedelai Jadi Peluang Usaha: Upaya UMI Gerakkan Ekonomi Desa Leang-leang
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Kamis (16/7/2026).
Senin, 17 Agu 2026 09:14
Dari Sawah ke Meja Makan, UMI Dorong Inovasi Pangan Lokal Untuk Cegah Stunting
News
Dari Sawah ke Meja Makan, UMI Dorong Inovasi Pangan Lokal Untuk Cegah Stunting
Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB)
Minggu, 16 Agu 2026 13:21
Studi Doktor UIKA: Wakaf Uang Dorong Kebahagiaan hingga Rasa Hidup Bermakna
News
Studi Doktor UIKA: Wakaf Uang Dorong Kebahagiaan hingga Rasa Hidup Bermakna
Temuan dalam sebuah disertasi doktor di UIKA Bogor menunjukkan gambaran yang berbeda: wakaf uang, yang manfaatnya tidak langsung diterima secara instan, justru tetap memiliki keterkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan para wakif.
Rabu, 10 Jun 2026 14:44
Berita Terbaru