Opini
Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029
Sabtu, 18 Jul 2026 14:16
Ketua DPD II Golkar Pinrang, Usman Marham. Foto: Istimewa
Oleh: Usman Marham,
Ketua DPD II Partai Golkar Pinrang
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan seharusnya tidak berhenti sebagai agenda lima tahunan untuk memilih ketua. Jika Musda hanya menghasilkan pergantian figur tanpa perubahan cara berpikir dan cara mengelola organisasi, maka Golkar hanya sedang mengganti nakhoda di kapal yang berlayar dengan arah yang sama.
Yang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan refresh organisasi secara menyeluruh.
Pemilu 2029 mungkin masih tiga tahun lagi. Namun, kemenangan tidak dibangun menjelang masa kampanye. Kemenangan lahir dari kerja politik yang konsisten, organisasi yang sehat, serta kader yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat.
Sudah saatnya kita berani melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Kita tidak boleh menutup mata bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semangat kaderisasi mulai terkikis oleh kepentingan kelompok. Jabatan organisasi terlalu sering dipersepsikan sebagai ruang mempertahankan pengaruh, bukan sebagai amanah membesarkan partai.
Politik kekerabatan dan dinasti harus dihentikan. Golkar tidak boleh menjadi milik segelintir orang atau keluarga tertentu. Partai Golkar adalah partai inklusif milik seluruh rakyat yang tidak boleh dikuasai oleh satu kelompok atau keluarga tertentu.
Partai ini dibangun oleh jutaan kader yang bekerja dari desa, kecamatan, hingga kabupaten dan kota. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil memimpin tanpa harus memiliki hubungan darah atau kedekatan dengan elite.
Semangat Golkar harus dijaga yang selalu menjunjung tinggi demokrasi. Semua kader memiliki kesempatan bersuara. Ideologi Golkar berakar kuat pada Pancasila yang mengarah pada nilai-nilai sosialis dengan berpihak pada kesejahteraan rakyat. DPD II kabupaten dan kota adalah akar rumput yang paling memahami karakter politik, kebutuhan masyarakat, serta tantangan di daerahnya masing-masing. Karena itu, diskursus setiap kebijakan strategis lahir melalui rasionalisasi dari bawah.
Saya memahami betul bagaimana beratnya perjuangan kader di lapangan. Saya pernah menjadi ujung tombak partai di DPD II, mengetuk pintu rumah warga hingga pelosok dusun di Kabupaten Pinrang untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa masyarakat tidak memilih karena baliho yang besar atau pidato yang panjang. Mereka memilih karena mengenal sosok yang hadir ketika mereka membutuhkan.
Inilah yang harus dikembalikan di Partai Golkar. Golkar dengan ideologi Karya kekaryaan menjadi napas identitasnya. Kerja-kerja kekaryaan merupakan penegasan bahwa politik bukan hanya tentang mimpi besar dan janji-janji, tetapi kerja nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Kader dan pengurus Golkar jangan hanya datang saat musim pemilu. Pengurus harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap hari. Membantu persoalan sosial, menggerakkan kegiatan kemasyarakatan, membangun komunikasi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, petani, nelayan, hingga pelaku UMKM.
Saya ingin melihat kembali kader-kader Golkar yang bangga memasang bendera partai di depan rumahnya, bukan karena diperintah, melainkan karena memiliki rasa terhadap organisasi. Kebanggaan itu tidak lahir dari baliho atau seremoni, tetapi dari kepemimpinan yang adil, terbuka, dan mampu merangkul semua kader.
Semangat kekaryaan tidak hanya menjadi warisan sejarah, melainkan prinsip hidup kader Golkar yang diterjemahkan kerja-kerja politik yang berpihak ke rakyat.
Musda Sulsel harus menjadi titik rekonsiliasi. Perbedaan pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi internal, tetapi setelah Musda selesai, tidak boleh ada lagi kubu-kubuan. Tidak ada lagi istilah pendukung A atau pendukung B.
Yang ada hanyalah kader Golkar yang bekerja bersama mengembalikan kejayaan partai. Golkar hadir dengan semangat politik sebagai pertarungan gagasan dan nilai, bukan hanya arena distribusi kekuasaan.
Golkar Sulawesi Selatan pernah menjadi kekuatan politik yang disegani karena memiliki mesin partai yang hidup hingga tingkat dusun. Sejarah itu tidak akan terulang hanya dengan mengandalkan popularitas figur. Sejarah hanya akan kembali jika organisasi berani memperbaiki dirinya sendiri.
Musda XI harus menjadi momentum perubahan. Bukan sekadar memilih ketua baru, tetapi melahirkan budaya politik baru yang lebih demokratis, lebih terbuka, lebih menghargai kader, dan lebih dekat dengan rakyat.
Sebab, pada akhirnya rakyat tidak akan bertanya siapa yang menang di Musda. Rakyat hanya akan menilai apakah setelah Musda, Golkar benar-benar berubah atau justru tetap berjalan di tempat. GOLKAR SULSEL, selamat ber-MUSDA.
Ketua DPD II Partai Golkar Pinrang
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan seharusnya tidak berhenti sebagai agenda lima tahunan untuk memilih ketua. Jika Musda hanya menghasilkan pergantian figur tanpa perubahan cara berpikir dan cara mengelola organisasi, maka Golkar hanya sedang mengganti nakhoda di kapal yang berlayar dengan arah yang sama.
Yang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan refresh organisasi secara menyeluruh.
Pemilu 2029 mungkin masih tiga tahun lagi. Namun, kemenangan tidak dibangun menjelang masa kampanye. Kemenangan lahir dari kerja politik yang konsisten, organisasi yang sehat, serta kader yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat.
Sudah saatnya kita berani melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Kita tidak boleh menutup mata bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semangat kaderisasi mulai terkikis oleh kepentingan kelompok. Jabatan organisasi terlalu sering dipersepsikan sebagai ruang mempertahankan pengaruh, bukan sebagai amanah membesarkan partai.
Politik kekerabatan dan dinasti harus dihentikan. Golkar tidak boleh menjadi milik segelintir orang atau keluarga tertentu. Partai Golkar adalah partai inklusif milik seluruh rakyat yang tidak boleh dikuasai oleh satu kelompok atau keluarga tertentu.
Partai ini dibangun oleh jutaan kader yang bekerja dari desa, kecamatan, hingga kabupaten dan kota. Mereka berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil memimpin tanpa harus memiliki hubungan darah atau kedekatan dengan elite.
Semangat Golkar harus dijaga yang selalu menjunjung tinggi demokrasi. Semua kader memiliki kesempatan bersuara. Ideologi Golkar berakar kuat pada Pancasila yang mengarah pada nilai-nilai sosialis dengan berpihak pada kesejahteraan rakyat. DPD II kabupaten dan kota adalah akar rumput yang paling memahami karakter politik, kebutuhan masyarakat, serta tantangan di daerahnya masing-masing. Karena itu, diskursus setiap kebijakan strategis lahir melalui rasionalisasi dari bawah.
Saya memahami betul bagaimana beratnya perjuangan kader di lapangan. Saya pernah menjadi ujung tombak partai di DPD II, mengetuk pintu rumah warga hingga pelosok dusun di Kabupaten Pinrang untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa masyarakat tidak memilih karena baliho yang besar atau pidato yang panjang. Mereka memilih karena mengenal sosok yang hadir ketika mereka membutuhkan.
Inilah yang harus dikembalikan di Partai Golkar. Golkar dengan ideologi Karya kekaryaan menjadi napas identitasnya. Kerja-kerja kekaryaan merupakan penegasan bahwa politik bukan hanya tentang mimpi besar dan janji-janji, tetapi kerja nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Kader dan pengurus Golkar jangan hanya datang saat musim pemilu. Pengurus harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap hari. Membantu persoalan sosial, menggerakkan kegiatan kemasyarakatan, membangun komunikasi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, petani, nelayan, hingga pelaku UMKM.
Saya ingin melihat kembali kader-kader Golkar yang bangga memasang bendera partai di depan rumahnya, bukan karena diperintah, melainkan karena memiliki rasa terhadap organisasi. Kebanggaan itu tidak lahir dari baliho atau seremoni, tetapi dari kepemimpinan yang adil, terbuka, dan mampu merangkul semua kader.
Semangat kekaryaan tidak hanya menjadi warisan sejarah, melainkan prinsip hidup kader Golkar yang diterjemahkan kerja-kerja politik yang berpihak ke rakyat.
Musda Sulsel harus menjadi titik rekonsiliasi. Perbedaan pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi internal, tetapi setelah Musda selesai, tidak boleh ada lagi kubu-kubuan. Tidak ada lagi istilah pendukung A atau pendukung B.
Yang ada hanyalah kader Golkar yang bekerja bersama mengembalikan kejayaan partai. Golkar hadir dengan semangat politik sebagai pertarungan gagasan dan nilai, bukan hanya arena distribusi kekuasaan.
Golkar Sulawesi Selatan pernah menjadi kekuatan politik yang disegani karena memiliki mesin partai yang hidup hingga tingkat dusun. Sejarah itu tidak akan terulang hanya dengan mengandalkan popularitas figur. Sejarah hanya akan kembali jika organisasi berani memperbaiki dirinya sendiri.
Musda XI harus menjadi momentum perubahan. Bukan sekadar memilih ketua baru, tetapi melahirkan budaya politik baru yang lebih demokratis, lebih terbuka, lebih menghargai kader, dan lebih dekat dengan rakyat.
Sebab, pada akhirnya rakyat tidak akan bertanya siapa yang menang di Musda. Rakyat hanya akan menilai apakah setelah Musda, Golkar benar-benar berubah atau justru tetap berjalan di tempat. GOLKAR SULSEL, selamat ber-MUSDA.
(UMI)
Berita Terkait
News
Mulawarman: Tidak Ada Gunanya Appi Bertahan di Golkar
Mulawarman jurnalis senior di daerah ini, menyarankan Appi atau Munafri Arifuddin Ketua Golkar Makassar untuk segera hengkang dari Golkar, sebelum Appi diusir keluar dari Golkar dengan cara klasik, dibuat tidak nyaman berada di dalam partai.
Rabu, 26 Agu 2026 13:47
Sulsel
Respon Bupati Barru Andi Ina soal Isu Gabung Gerindra
Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari dikabarkan turut akan bergabung ke Partai Gerindra. Namanya menguat sebagai salah satu kepala daerah yang digadang-gadang bakal merapat.
Selasa, 25 Agu 2026 19:55
Sulsel
Patarai Amir Diusulkan Jadi Plt Ketua Golkar Maros
Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mengusulkan nama Andi Patarai Amir sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD II Golkar Maros.
Selasa, 25 Agu 2026 19:20
Sulsel
IAS Pacu Konsolidasi Golkar Maros, Target Bidik Kejayaan di Pileg 2029
Sekira 250 kader memenuhi Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Maros dalam agenda konsolidasi dan roadshow DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Selasa, 25 Agu 2026 19:14
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Di Tengah Kemarau, Ribuan Peserta Kemah Pramuka Madrasah Sulsel Gelar Salat Istisqa
2
Kejari Lutim Tegaskan Penguatan Integritas dan Tata Kelola Pemerintahan
3
Tantangan Kepulauan Tak Jadi Penghalang, BKKBN Sulsel Perkuat Pelayanan Bangga Kencana di Selayar
4
Dua Pencuri Besi Ulir Bahan Bangunan di Malili Berhasil Diringkus Polisi
5
WA Wabup Luwu Timur Dibajak, Pelaku Minta Pinjaman Rp2 Juta
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Di Tengah Kemarau, Ribuan Peserta Kemah Pramuka Madrasah Sulsel Gelar Salat Istisqa
2
Kejari Lutim Tegaskan Penguatan Integritas dan Tata Kelola Pemerintahan
3
Tantangan Kepulauan Tak Jadi Penghalang, BKKBN Sulsel Perkuat Pelayanan Bangga Kencana di Selayar
4
Dua Pencuri Besi Ulir Bahan Bangunan di Malili Berhasil Diringkus Polisi
5
WA Wabup Luwu Timur Dibajak, Pelaku Minta Pinjaman Rp2 Juta