Pilar Kepemimpinan Inklusif
Rabu, 28 Okt 2026 11:07
Tawakkal Kahar. Foto: Dokumentasi pribadi
Oleh: Tawakkal Kahar
Kepala SMA Islam Athirah Makassar
Dalam kepemimpinan inklusif, terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi, yaitu keamanan psikologis, keadilan struktural, keberagaman kognitif, dan keteladanan empatis. Menurut Amy Edmondson dari Harvard Business School (2018), keamanan psikologis menuntut terciptanya ruang aman bagi tim untuk mengemukakan gagasan tanpa ketakutan dan tanpa merasa dipermalukan. Jika pemimpin mampu menciptakan kondisi ini, engagement tim dalam bekerja, baik terhadap organisasi maupun perusahaan, akan semakin kuat.
Selanjutnya, keadilan struktural menurut standar ILO (2020) menegaskan bahwa akses talenta harus setara tanpa bias subjektivitas di lingkaran pimpinan. Poin ini menarik karena menyangkut impian semua orang di dalam tim. Keadilan di sini bukan lagi soal apakah pimpinannya “baik” atau “tidak baik”, melainkan apakah struktur yang ada memberikan kesempatan yang sama bagi semua anggota untuk maju. Sejalan dengan hal tersebut, akses yang setara berarti setiap anggota tim, mulai dari office boy hingga pimpinan puncak, harus memiliki jalan yang sama untuk dilihat, diperhatikan, dinilai secara objektif, bahkan untuk naik level.
Mengenai keberagaman kognitif, Reynolds & Lewis (2017) menyatakan bahwa kondisi ini dicirikan oleh adanya integrasi perspektif majemuk dalam menavigasi risiko yang kompleks. Keberagaman kognitif bukan sekadar perbedaan usia, gender, atau latar belakang suku, melainkan perbedaan cara berpikir, memproses informasi, memecahkan masalah, dan melihat sesuatu dengan sudut pandang baru. Benang merahnya, keberagaman kognitif adalah kemampuan pemimpin memanfaatkan berbagai cara berpikir agar organisasi selamat saat melintasi situasi yang rumit dan penuh ketidakpastian.
Pilar terakhir adalah keteladanan empatis. Terinspirasi dari konsep kecerdasan emosional Daniel Goleman (2013), empati dalam kepemimpinan termanifestasi lewat keberanian mendengar kritik konstruktif serta mengakui batas wawasan diri. Poin ini mengajak para pemimpin untuk berjiwa besar dan rendah hati. Ada kesadaran bahwa dirinya bukanlah sosok yang paling mahatahu, sehingga ia terbuka kepada tim mengenai keterbatasan yang dimilikinya. Pemimpin yang empatis akan mendengarkan masukan secara dewasa, tanpa membela diri, apalagi marah ketika bawahan menyampaikan kritik yang berbeda dari cara berpikirnya. Melalui pendekatan ini, kepercayaan diri tim akan terbangun karena mereka merasa dihargai. Anggota tim tidak akan takut berpendapat, jujur saat menghadapi kendala pekerjaan, dan pada akhirnya menciptakan budaya saling melengkapi atas kekurangan satu sama lain.
(Catatan Kaki dari Paparan Heriyanto AP di MLS 2026)
Kepala SMA Islam Athirah Makassar
Dalam kepemimpinan inklusif, terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi, yaitu keamanan psikologis, keadilan struktural, keberagaman kognitif, dan keteladanan empatis. Menurut Amy Edmondson dari Harvard Business School (2018), keamanan psikologis menuntut terciptanya ruang aman bagi tim untuk mengemukakan gagasan tanpa ketakutan dan tanpa merasa dipermalukan. Jika pemimpin mampu menciptakan kondisi ini, engagement tim dalam bekerja, baik terhadap organisasi maupun perusahaan, akan semakin kuat.
Selanjutnya, keadilan struktural menurut standar ILO (2020) menegaskan bahwa akses talenta harus setara tanpa bias subjektivitas di lingkaran pimpinan. Poin ini menarik karena menyangkut impian semua orang di dalam tim. Keadilan di sini bukan lagi soal apakah pimpinannya “baik” atau “tidak baik”, melainkan apakah struktur yang ada memberikan kesempatan yang sama bagi semua anggota untuk maju. Sejalan dengan hal tersebut, akses yang setara berarti setiap anggota tim, mulai dari office boy hingga pimpinan puncak, harus memiliki jalan yang sama untuk dilihat, diperhatikan, dinilai secara objektif, bahkan untuk naik level.
Mengenai keberagaman kognitif, Reynolds & Lewis (2017) menyatakan bahwa kondisi ini dicirikan oleh adanya integrasi perspektif majemuk dalam menavigasi risiko yang kompleks. Keberagaman kognitif bukan sekadar perbedaan usia, gender, atau latar belakang suku, melainkan perbedaan cara berpikir, memproses informasi, memecahkan masalah, dan melihat sesuatu dengan sudut pandang baru. Benang merahnya, keberagaman kognitif adalah kemampuan pemimpin memanfaatkan berbagai cara berpikir agar organisasi selamat saat melintasi situasi yang rumit dan penuh ketidakpastian.
Pilar terakhir adalah keteladanan empatis. Terinspirasi dari konsep kecerdasan emosional Daniel Goleman (2013), empati dalam kepemimpinan termanifestasi lewat keberanian mendengar kritik konstruktif serta mengakui batas wawasan diri. Poin ini mengajak para pemimpin untuk berjiwa besar dan rendah hati. Ada kesadaran bahwa dirinya bukanlah sosok yang paling mahatahu, sehingga ia terbuka kepada tim mengenai keterbatasan yang dimilikinya. Pemimpin yang empatis akan mendengarkan masukan secara dewasa, tanpa membela diri, apalagi marah ketika bawahan menyampaikan kritik yang berbeda dari cara berpikirnya. Melalui pendekatan ini, kepercayaan diri tim akan terbangun karena mereka merasa dihargai. Anggota tim tidak akan takut berpendapat, jujur saat menghadapi kendala pekerjaan, dan pada akhirnya menciptakan budaya saling melengkapi atas kekurangan satu sama lain.
(Catatan Kaki dari Paparan Heriyanto AP di MLS 2026)
(MAN)
Berita Terkait
News
Mencari Nasionalisme Pemuda
ADA hari-hari dalam kalender bangsa yang bukan sekadar peringatan masa lalu, melainkan cermin yang menampar kesadaran kita saat ini. Bulan Oktober mempersembahkan dua ikon penting: Sumpah Pemuda, lahir pada 1928 sebagai pernyataan politik dan budaya satu bangsa; dan Hari Santri, diperingati setiap 22 Oktober, lahir dari kesadaran bahwa keimanan dan tanah air tak terpisahkan.
Rabu, 28 Okt 2026 09:14
News
500+ Pemimpin Lintas Sektor Bahas Masa Depan Kepemimpinan di Makassar
Lebih dari 500 pemimpin dan profesional dari berbagai sektor berkumpul di Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 untuk membahas tantangan dan masa depan kepemimpinan Indonesia.
Jum'at, 09 Okt 2026 22:17
News
Vale Indonesia Berbagi Inspirasi Kepemimpinan Berdampak di MLS 2026
Kepemimpinan yang berdampak tidak cukup diukur dari pencapaian bisnis, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jum'at, 09 Okt 2026 14:03
News
Menakar Keadilan Substantif Putusan MK: Ijazah, Kekuasaan, dan Konstitusi
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai persoalan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar persoalan ijazah: apakah keadilan substantif telah benar-benar menemukan tempatnya
Rabu, 07 Okt 2026 12:42
News
Linieritas Penting, tetapi Guru Bukan Garis Lurus
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana: linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Senin, 05 Okt 2026 21:49
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Jelang GIIAS Makassar 2026, Suzuki Ungkap Penjualan Tumbuh 39% di Sulsel
2
Unhas Boyong 40 Mahasiswa Internasional Belajar di Kepulauan Sangkarrang
3
Mencari Nasionalisme Pemuda
4
Asa Baru Sepak Bola, Appi Resmi Pimpin Asprov PSSI Sulsel Periode 2026–2030
5
AMI Awards 2026, Wujud Komitmen Majukan Musik Nusantara hingga ke Kancah Internasional
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Jelang GIIAS Makassar 2026, Suzuki Ungkap Penjualan Tumbuh 39% di Sulsel
2
Unhas Boyong 40 Mahasiswa Internasional Belajar di Kepulauan Sangkarrang
3
Mencari Nasionalisme Pemuda
4
Asa Baru Sepak Bola, Appi Resmi Pimpin Asprov PSSI Sulsel Periode 2026–2030
5
AMI Awards 2026, Wujud Komitmen Majukan Musik Nusantara hingga ke Kancah Internasional