500+ Pemimpin Lintas Sektor Bahas Masa Depan Kepemimpinan di Makassar

Jum'at, 09 Okt 2026 22:17
500+ Pemimpin Lintas Sektor Bahas Masa Depan Kepemimpinan di Makassar
Lebih dari 500 pemimpin dan profesional dari berbagai sektor berkumpul di Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 untuk membahas tantangan dan masa depan kepemimpinan Indonesia. Foto/IST
Comment
Share
MAKASSAR - Lebih dari 500 pemimpin dan profesional dari berbagai sektor berkumpul di Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 untuk membahas tantangan dan masa depan kepemimpinan Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, serta tuntutan keberlanjutan.

Digelar di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar, Kamis (8/10), forum bertema The Future of Leadership Starts Here ini mempertemukan 18 pembicara dari kalangan pemerintahan, dunia usaha, praktisi sumber daya manusia, pemimpin teknologi, profesional, hingga pengembang kepemimpinan.

Diselenggarakan oleh PMSM, GNIK, dan APINDO, MLS 2026 dirancang sebagai ruang dialog lintas sektor untuk mempertemukan beragam perspektif dalam menghadapi tantangan kepemimpinan yang semakin kompleks.

Dengan melibatkan perwakilan lebih dari sembilan sektor industri, forum ini mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari kepemimpinan yang inklusif dan berkelanjutan, transformasi organisasi, pengembangan manusia, hingga kesiapan pemimpin menghadapi era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Empat Nilai Kepemimpinan Bugis
Rangkaian MLS 2026 dibuka dengan keynote Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, H.M. Jusuf Kalla, bertajuk Leading from the East. Sesi ini mengangkat perspektif Indonesia Timur sebagai bagian penting dalam percakapan mengenai kepemimpinan nasional, dengan menempatkan nilai budaya sebagai salah satu fondasi dalam mengambil keputusan dan membangun kepercayaan.

Jusuf Kalla menyoroti empat nilai kepemimpinan yang dikenal dalam budaya Bugis, yakni macca (cerdas membaca keadaan dan melihat peluang), warani (berani mengambil keputusan dan menghadapi risiko), getteng (teguh dalam menjalankan keputusan), serta malempu (menjunjung kejujuran).

“Indonesia Timur memiliki kekayaan nilai kepemimpinan yang tumbuh dari budayanya. Dari tanah Bugis, kita belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin, tetapi tentang nilai yang menjadi pegangan. Macca, cerdas dalam membaca keadaan dan melihat peluang. Warani, berani mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Getteng, tegas dan teguh dalam menjalankan keputusan. Dan Malempu, menjunjung kejujuran untuk membangun serta menjaga kepercayaan,” ujarnya.

Pembahasan mengenai nilai kepemimpinan berlanjut ke isu pembangunan berkelanjutan melalui sesi Inclusive & Sustainable Leadership: People, Planet and Long-Term Values. Sesi ini menghadirkan Heriyanto Agung Putra, Chief Human Capital Officer PT Vale Indonesia, bersama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.

Keduanya membawa perspektif dunia usaha dan pemerintahan tentang pentingnya menyeimbangkan kepentingan manusia, lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan nilai jangka panjang dalam setiap keputusan kepemimpinan.

Munafri menekankan bahwa keberhasilan pemimpin tidak cukup diukur dari pencapaian jangka pendek, tetapi juga dari dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat.

“Pemimpin tidak boleh hanya berpikir tentang apa yang baik untuk hari ini. Setiap keputusan perlu dipikirkan dampaknya dalam jangka panjang. Karena itu, kepemimpinan membutuhkan kemampuan untuk mendengar, memahami kebutuhan yang beragam, dan membangun kolaborasi. Pertumbuhan dan kemajuan harus berjalan bersama kualitas hidup dan keberlanjutan, karena legacy seorang pemimpin bukan hanya tentang apa yang dicapai hari ini, tetapi tentang nilai dan dampak yang dapat terus tumbuh setelahnya,” ujarnya.

Kepemimpinan Humanis di Tengah Perubahan
Selain nilai dan keberlanjutan, MLS 2026 menyoroti pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam memimpin organisasi. Isu ini dibahas dalam sesi Human-Centered Leadership: Empathy, Authenticity & Vulnerability yang menghadirkan Isdar Andre M, Presiden Direktur Mercer Indonesia; Ivan Ahda, Director of Strategic and Advisory KTM Solutions; serta Bambang Yapri, PCC, Presiden ICF Jakarta Charter Chapter sekaligus Consulting Director di Eclectic People Consulting/Head of Business Mekari Talenta.

Diskusi tersebut membahas bagaimana pemimpin membangun kepercayaan, empati, autentisitas, dan akuntabilitas ketika organisasi menghadapi tuntutan kinerja sekaligus perubahan yang berlangsung cepat.

Perspektif mengenai tantangan personal dalam memimpin turut disampaikan Alexander Sriewijono, pendiri Daily Meaning sekaligus Certified Executive Leadership Coach, melalui sesi Inspiring Talk: Pain of Leadership. Setelah jeda makan siang, David Tjokrorahardjo, President Maxwell Leadership Indonesia, melanjutkan pembahasan melalui sesi Outgrow Your Leadership, yang mengajak peserta mengevaluasi kapasitas diri dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

CEO Lintas Industri Bahas Transformasi Organisasi
Tantangan perubahan organisasi menjadi pokok bahasan dalam sesi Transformational Leadership: Challenging the Status Quo to Drive Meaningful Change. Sesi ini menghadirkan Irfan Setiaputra, mantan CEO Garuda Indonesia; Tommy Watimena, CEO Great Giant Foods; serta Halim Wijaya, Director of Grab Indonesia.

Ketiganya berbagi perspektif berdasarkan pengalaman memimpin di industri yang berbeda, terutama mengenai keberanian menantang pola lama, membangun rasa kepemilikan terhadap perubahan, serta memastikan transformasi menghasilkan dampak nyata bagi organisasi.

Diskusi ini menegaskan bahwa tantangan kepemimpinan tidak dapat dipandang hanya dari satu perspektif industri. Pengelolaan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, ketahanan organisasi, dan pengambilan keputusan merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan pertukaran pengalaman serta pendekatan yang sesuai dengan konteks masing-masing organisasi.

Menyiapkan Pemimpin Menghadapi Era AI
Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu agenda penting dalam MLS 2026. Melalui sesi AI-Ready Leadership: Where to Start?, Dudi Arisandi, Chief People Officer tiket.com sekaligus Ketua Umum PMSM; Dita Maharani Aisyah, Chief Business Development Officer BINAR; serta Robby Aris Cahyady, Vice President Consumer Business Area Pamasuka Telkomsel, membahas kesiapan pemimpin dan organisasi dalam menghadapi perubahan teknologi.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada penggunaan AI, tetapi juga pada kemampuan pemimpin mengidentifikasi persoalan bisnis yang tepat, meningkatkan literasi AI, menyiapkan kompetensi yang dibutuhkan, serta memastikan penerapan teknologi memberikan nilai bagi organisasi.

Dengan demikian, adopsi AI tidak semata-mata menjadi persoalan teknis, tetapi juga menuntut kesiapan sumber daya manusia, ketepatan strategi, dan kemampuan pemimpin mengarahkan perubahan agar selaras dengan kebutuhan organisasi.

Di sisi lain, ketahanan menghadapi ketidakpastian dibahas melalui sesi Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth. Sesi ini menghadirkan Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA; Disa Rizky Novianty, Chief Executive Officer Kalla Aspal; serta Angela Tanoesoedibjo, Direktur MNC.

Ketiganya mengangkat pentingnya menjaga kualitas pengambilan keputusan di tengah tekanan, perubahan, dan tantangan bisnis. Ketahanan kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bertahan dalam situasi sulit, tetapi juga dengan kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman dan menggunakannya sebagai dasar untuk bertumbuh.

Membangun Ekosistem Kepemimpinan Lintas Sektor
Beragamnya latar belakang pembicara menjadi bagian dari upaya MLS 2026 membangun ekosistem dialog kepemimpinan yang melibatkan sektor publik, dunia usaha, praktisi sumber daya manusia, teknologi, dan komunitas profesional.

Ketua Panitia Makassar Leadership Summit 2026, Fauziah Zulfitri, mengatakan forum tersebut dirancang untuk mempertemukan berbagai perspektif, bukan menawarkan satu formula kepemimpinan yang berlaku untuk semua organisasi.

“Dunia yang berubah membutuhkan cara memimpin yang juga terus berkembang. Karena itu, MLS 2026 tidak kami desain untuk menawarkan satu formula tentang leadership, tetapi untuk mempertemukan berbagai perspektif dari public leadership, bisnis, sumber daya manusia, teknologi, hingga emerging leaders. Harapannya, percakapan yang terjadi di sini tidak berhenti sebagai insight, tetapi menjadi refleksi yang mendorong pemimpin untuk mengambil keputusan dan tindakan yang lebih relevan bagi organisasinya,” ujarnya.

Rangkaian summit ditutup dengan sesi refleksi yang mengajak peserta merangkum pembelajaran dan menerjemahkannya menjadi komitmen praktis saat kembali ke organisasi masing-masing.

Peserta diajak menjawab satu pertanyaan mendasar: “What will I do differently as a leader starting tomorrow?” atau apa yang akan saya lakukan secara berbeda sebagai pemimpin mulai esok hari?

Pertanyaan tersebut merangkum pesan utama MLS 2026 bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada gagasan, forum, ataupun jabatan. Kepemimpinan diuji melalui nilai yang dipegang, keputusan yang diambil, perubahan yang digerakkan, serta dampak yang dihasilkan.

Dengan mempertemukan lebih dari 500 peserta dan 18 pembicara dari berbagai latar belakang, Makassar Leadership Summit 2026 menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan kepemimpinan Indonesia yang berakar pada nilai, terbuka terhadap perubahan, dan berorientasi pada dampak jangka panjang.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru