Prof Uceng dan Bivitri Soroti Respons Pemerintah Terhadap Kritik Publik
Minggu, 01 Nov 2026 05:36
?Pakar Hukum dan Tata Negara yakni Prof. Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti, di kantor redaksi Tribun Timur, Sabtu (31/10/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar dan Bivitri Susanti menyoroti cara pemerintah merespons kritik publik, khususnya gerakan mahasiswa. Keduanya menilai respons yang muncul cenderung mengalihkan perhatian dari substansi persoalan yang disuarakan masyarakat.
Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Prof Uceng atau Mas Uceng, menyayangkan respons pemerintah yang dinilainya minim kreativitas dan substansi dalam menghadapi kritik.
"Saya bilang, negara enggak kreatif," lontarnya dengan kalimat singkat, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut, kritik publik semestinya dijawab dengan penjelasan berbasis data dan analisis, bukan respons yang sekadar menyerang atau meremehkan pihak yang menyampaikan kritik.
"Kalau dikritik, menurut saya harusnya dijawab dengan angka, data, dan analisis. Bukan dipakai di media, 'Ah, enggak kreatif banget'," sebutnya saat memberikan keterangan.
Ia juga menilai gaya komunikasi defensif dan reaktif tanpa disertai substansi lebih menyerupai pola komunikasi buzzer. Menurutnya, negara tidak semestinya menggunakan pendekatan manipulatif dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
"Itu khas buzzer banget. Itu mah enggak perlu negara, CEO aja mungkinnya kayak gitu. Kelihatan banget, menurut saya harusnya bukan negara. Negara itu enggak boleh berpikir manipulatif dengan rakyatnya," ucap Prof Uceng.
Sementara itu, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai terdapat pola tindakan yang disengaja dan sistematis dalam merespons gerakan kritis masyarakat, terutama mahasiswa.
Menurut Bivitri, salah satu dampaknya adalah terbentuknya citra negatif terhadap gerakan mahasiswa. Ia menyebut penggunaan istilah 'maha sewa' sebagai salah satu bentuk pelabelan yang dapat memengaruhi pandangan publik.
"Menurut saya, tindakan itu disengaja untuk dua hal. Pertama, menimbulkan citra buruk untuk mahasiswa, yang sekarang berubah menjadi 'maha sewa'. Walaupun sekarang sudah terbuka ya, bahwa orang itu dibayar dan lain sebagainya," katanya kepada awak media.
Ia menilai, meskipun informasi mengenai pihak-pihak yang disebut dibayar mulai terbuka, citra negatif terhadap mahasiswa telanjur menyebar di masyarakat, terutama melalui media sosial.
"Tapi kan, bagaimanapun, citra itu nempel di kepala banyak orang. Mungkin di kalangan jurnalis, akademisi, atau, kayak saya, sudah lebih kritis, bisa paham. Tapi kan itu menyebar di media sosial. Jadi buat saya, itu jahat sekali karena tujuannya untuk mengecilkan gerakan mahasiswa," tambahnya.
Bivitri juga menyoroti pengalihan perhatian publik dari tuntutan utama mahasiswa ke isu lain yang berkembang di ruang publik. Ia mencontohkan perbincangan mengenai Raffi Ahmad yang menurutnya membuat masyarakat tidak lagi berfokus pada persoalan yang menjadi tuntutan gerakan.
"Sebenarnya kan masalah sesungguhnya, kita tahu ya ada tuntutan dari mahasiswa, dari kelompok lain. Tapi kita jadi membicarakan ini, marah-marah sama Rafi Ahmad, yang benar juga, sih, tapi kan kita jadi enggak fokus. Buat saya, sebenarnya ini sistematis, apa yang dilakukan itu," tutup Bivitri.
Zainal Arifin Mochtar, yang akrab disapa Prof Uceng atau Mas Uceng, menyayangkan respons pemerintah yang dinilainya minim kreativitas dan substansi dalam menghadapi kritik.
"Saya bilang, negara enggak kreatif," lontarnya dengan kalimat singkat, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut, kritik publik semestinya dijawab dengan penjelasan berbasis data dan analisis, bukan respons yang sekadar menyerang atau meremehkan pihak yang menyampaikan kritik.
"Kalau dikritik, menurut saya harusnya dijawab dengan angka, data, dan analisis. Bukan dipakai di media, 'Ah, enggak kreatif banget'," sebutnya saat memberikan keterangan.
Ia juga menilai gaya komunikasi defensif dan reaktif tanpa disertai substansi lebih menyerupai pola komunikasi buzzer. Menurutnya, negara tidak semestinya menggunakan pendekatan manipulatif dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
"Itu khas buzzer banget. Itu mah enggak perlu negara, CEO aja mungkinnya kayak gitu. Kelihatan banget, menurut saya harusnya bukan negara. Negara itu enggak boleh berpikir manipulatif dengan rakyatnya," ucap Prof Uceng.
Sementara itu, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai terdapat pola tindakan yang disengaja dan sistematis dalam merespons gerakan kritis masyarakat, terutama mahasiswa.
Menurut Bivitri, salah satu dampaknya adalah terbentuknya citra negatif terhadap gerakan mahasiswa. Ia menyebut penggunaan istilah 'maha sewa' sebagai salah satu bentuk pelabelan yang dapat memengaruhi pandangan publik.
"Menurut saya, tindakan itu disengaja untuk dua hal. Pertama, menimbulkan citra buruk untuk mahasiswa, yang sekarang berubah menjadi 'maha sewa'. Walaupun sekarang sudah terbuka ya, bahwa orang itu dibayar dan lain sebagainya," katanya kepada awak media.
Ia menilai, meskipun informasi mengenai pihak-pihak yang disebut dibayar mulai terbuka, citra negatif terhadap mahasiswa telanjur menyebar di masyarakat, terutama melalui media sosial.
"Tapi kan, bagaimanapun, citra itu nempel di kepala banyak orang. Mungkin di kalangan jurnalis, akademisi, atau, kayak saya, sudah lebih kritis, bisa paham. Tapi kan itu menyebar di media sosial. Jadi buat saya, itu jahat sekali karena tujuannya untuk mengecilkan gerakan mahasiswa," tambahnya.
Bivitri juga menyoroti pengalihan perhatian publik dari tuntutan utama mahasiswa ke isu lain yang berkembang di ruang publik. Ia mencontohkan perbincangan mengenai Raffi Ahmad yang menurutnya membuat masyarakat tidak lagi berfokus pada persoalan yang menjadi tuntutan gerakan.
"Sebenarnya kan masalah sesungguhnya, kita tahu ya ada tuntutan dari mahasiswa, dari kelompok lain. Tapi kita jadi membicarakan ini, marah-marah sama Rafi Ahmad, yang benar juga, sih, tapi kan kita jadi enggak fokus. Buat saya, sebenarnya ini sistematis, apa yang dilakukan itu," tutup Bivitri.
(MAN)
Berita Terkait
News
Mahasiswa Nobel Praktik Penggunaan Alat Pemetaan Tambang
Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia mempraktikkan penggunaan alat pemetaan yang digunakan dalam industri pertambangan.
Kamis, 15 Okt 2026 19:07
News
Karantina Goes to Campus, Ajak Mahasiswa Unhas Lindungi Kekayaan Hayati Indonesia
Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan menggelar kegiatan bertajuk Karantina Goes to Campus di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, belum lama ini.
Senin, 12 Okt 2026 08:27
News
Pertamina Gandeng Mahasiswa Perkuat Pengawasan Distribusi BBM & LPG Bersubsidi di Sulsel
Sejumlah isu menjadi perhatian dalam audiensi, mulai dari pengawasan SPBU, distribusi BBM bersubsidi, aktivitas transportir, hingga upaya memastikan penyaluran energi berjalan sesuai ketentuan.
Jum'at, 25 Sep 2026 16:45
News
Unhas Tegaskan Narasi Militerisme dan Penutupan GOR saat PKKMB FIB Tidak Benar
Universitas Hasanuddin (Unhas) mengklarifikasi terkait beredarnya informasi di media sosial perihal dugaan pembajakan prosesi Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, di Gedung Olahraga JK Arenatorium Unhas adalah tidak benar.
Jum'at, 14 Agu 2026 06:35
News
Unhas Sambut 10.041 Mahasiswa Baru, Didorong Selesai Tepat Waktu
Sebanyak 10.041 mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas) mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di JK Arenatorium Unhas, Selasa (11/8/2026).
Selasa, 11 Agu 2026 19:30
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Mahalini, Fiersa Besari, hingga For Revenge Siap Ramaikan Spektamagis Vol. 3
2
Puncak Cita Askara Adujak GenRe Sulsel 2026: Lahirnya Wajah Baru Penggerak Perubahan
3
Dua Putra-Putri Luwu Timur Raih Beasiswa S2 Vale Indonesia 2026
4
Produksi dan Penjualan Meningkat, Kinerja Keuangan PT Vale Menguat
5
OJK Serahkan Tambahan Hasil Penelusuran Aset DSI kepada Bareskrim
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Mahalini, Fiersa Besari, hingga For Revenge Siap Ramaikan Spektamagis Vol. 3
2
Puncak Cita Askara Adujak GenRe Sulsel 2026: Lahirnya Wajah Baru Penggerak Perubahan
3
Dua Putra-Putri Luwu Timur Raih Beasiswa S2 Vale Indonesia 2026
4
Produksi dan Penjualan Meningkat, Kinerja Keuangan PT Vale Menguat
5
OJK Serahkan Tambahan Hasil Penelusuran Aset DSI kepada Bareskrim