Gelorakan Spirit Siri’ na Pacce, Kyai Zaitun Rasmin Ajak Umat Tak Diam Lihat Al-Aqsha Terluka
Minggu, 05 Apr 2026 15:29
Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, KH Muhammad Zaitun Rasmin, mengawali orasinya dengan menceritakan kejadian penutupan Masjidil Aqsha. Foto: Istimewa
BULUKUMBA - Gema takbir dan suasana hangat silaturahmi Syawal 1447 H memenuhi Masjid Islamic Center Dato' Tiro, Bulukumba, Ahad (5/4/2026). Namun, di balik kemeriahan Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah tersebut, terselip pesan mendalam yang menyentuh sanubari ribuan jamaah yang hadir. Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, KH Muhammad Zaitun Rasmin, mengawali orasinya dengan menceritakan kejadian penutupan Masjidil Aqsha.
Ia menegaskan bahwa penutupan kiblat pertama umat Islam selama lebih dari sebulan ini bukan sekadar berita biasa, melainkan kedukaan besar. "Masjidil Aqsha ditutup. Ini Adalah kesedihan dan kedukaan kita. Kita sudah bersuara sejak awal," tegas Kyai Zaitun.
Sayangnya, Ketua MUI Bidang Ukhuwah ini menyayangkan sikap diamnya sebagian besar umat Islam saat saudara-saudaranya di Gaza terus terhimpit blokade zionis. Ketidakpedulian inilah yang menurutnya menjadi tantangan terbesar, padahal kabar penindasan tersebut sudah terang-benderang sejak bulan Ramadan lalu.
"Kita sedih Ketika umat Islam tidak bergerak. Ketika umat Islam diam. Dari Maroko sampai Merauke, kecuali yang dapat dari Rahmat Allah itu juga sedikit," tambahnya.
Berangkat dari keprihatinan di tanah Palestina, Kyai Zaitun kemudian menarik benang merah ke arah situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas. Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak boleh dicoreng oleh tindakan yang justru merugikan sesama muslim.
Ia menyoroti ketegangan antara Iran dan negara-negara Teluk, seraya berpesan agar energi perjuangan difokuskan sepenuhnya untuk melawan penjajah.
Kyai Zaitun memberikan perumpamaan menohok, "Kalau Iran menyerang negara Teluk dengan alasan mengejar pangkalan Amerika, apa bedanya dengan Zionis yang menyerang Gaza untuk mengejar pejuang Palestina?!" Ia menekankan, "Jika Iran fokus menyerang penjajah maka tentu simpati akan besar kepada mereka," katanya.
Ketajaman dalam melihat masalah global ini, menurut Kyai Zaitun, memerlukan kacamata ketakwaan, bukan sekadar hawa nafsu atau semangat yang meledak-ledak.
Ia mengajak umat untuk bersikap objektif dan adil dalam menilai, termasuk dalam menyikapi perbedaan mazhab seperti Syiah. Baginya, menjaga akidah itu fundamental, namun tidak boleh membuat kita kehilangan rasa adil.
"Kita lihat masalah ini dari kacamata ketakwaan, jangan melihatnya dengan perasaan dan hawa nafsu," pesannya di hadapan para tokoh termasuk Bupati Bulukumba.
"Kita harus sedih jika ada serangan ke Iran karena di sana juga kaum Muslimin, meskipun ada perbedaan dengan kita. Tapi kita harus adil," sambungnya, seraya menekankan pentingnya meluruskan pandangan dan bersikap adil termasuk pada orang kafir sekalipun, sebagaimana Alquran memberikan petunjuk tentang hubungan kaum beriman dengan Romawi dan juga Persia.
Keadilan dalam berpikir inilah yang kemudian harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konstitusi perdamaian dunia. Wahdah Islamiyah secara tegas mendukung penuh jika pemerintah mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. "Melaksanakan konstitusi perdamaian dunia wajib kita dukung pengiriman pasukan ke Gaza, sebagai muslim itu juga bahagian dari jihad," ungkap dia.
Namun, perjuangan besar itu harus dimulai dari hal-hal kecil di dalam diri, yakni menghidupkan nilai-nilai Islam melalui ketakwaan yang nyata, berbagi dengan sesama di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti.
Pesan ini pun menukik hingga ke ranah personal dan organisasi, di mana Kyai Zaitun meminta para kader Wahdah untuk selalu mendinginkan kepala meski hati sedang memanas. "Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin," pintanya.
Kyai Zaitun bahkan sempat berbagi pengalaman pribadinya saat diuji oleh komentar negatif netizen yang melupakan jejak perjuangannya untuk Palestina, namun ia memilih untuk membalasnya dengan kelapangan dada dan bersyukur atas cinta mereka pada Palestina.
Ia berharap kader Wahdah bisa menahan emosi dan mau mengalah dengan ormas Islam lainnya demi persatuan. "Kader Wahdah juga harus mengalah dengan ormas lain demi persatuan karena sama-sama mengajak kebaikan," tegasnya, seraya menekankan keinginan Wahdah untuk maju bersama ormas lain mewujudkan Indonesia Emas dan Berkah.
Sebagai penutup yang mengunci seluruh rangkaian pesan, Kyai Zaitun menekankan pentingnya loyalitas atau Al-Wala. Loyalitas ini tidak hanya tertuju pada kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi juga tegak lurus pada aturan pemimpin, ulama, serta dasar negara Pancasila dan UUD 1945.
"Jaga loyalitas kita pada kebenaran, al wala lil hak. Kita muslim loyal pada Islam. Harus loyal pada pemimpin. Baik itu pemimpin ulama maupun pemimpin di Masyarakat," serunya.
Ia menegaskan bahwa penutupan kiblat pertama umat Islam selama lebih dari sebulan ini bukan sekadar berita biasa, melainkan kedukaan besar. "Masjidil Aqsha ditutup. Ini Adalah kesedihan dan kedukaan kita. Kita sudah bersuara sejak awal," tegas Kyai Zaitun.
Sayangnya, Ketua MUI Bidang Ukhuwah ini menyayangkan sikap diamnya sebagian besar umat Islam saat saudara-saudaranya di Gaza terus terhimpit blokade zionis. Ketidakpedulian inilah yang menurutnya menjadi tantangan terbesar, padahal kabar penindasan tersebut sudah terang-benderang sejak bulan Ramadan lalu.
"Kita sedih Ketika umat Islam tidak bergerak. Ketika umat Islam diam. Dari Maroko sampai Merauke, kecuali yang dapat dari Rahmat Allah itu juga sedikit," tambahnya.
Berangkat dari keprihatinan di tanah Palestina, Kyai Zaitun kemudian menarik benang merah ke arah situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas. Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak boleh dicoreng oleh tindakan yang justru merugikan sesama muslim.
Ia menyoroti ketegangan antara Iran dan negara-negara Teluk, seraya berpesan agar energi perjuangan difokuskan sepenuhnya untuk melawan penjajah.
Kyai Zaitun memberikan perumpamaan menohok, "Kalau Iran menyerang negara Teluk dengan alasan mengejar pangkalan Amerika, apa bedanya dengan Zionis yang menyerang Gaza untuk mengejar pejuang Palestina?!" Ia menekankan, "Jika Iran fokus menyerang penjajah maka tentu simpati akan besar kepada mereka," katanya.
Ketajaman dalam melihat masalah global ini, menurut Kyai Zaitun, memerlukan kacamata ketakwaan, bukan sekadar hawa nafsu atau semangat yang meledak-ledak.
Ia mengajak umat untuk bersikap objektif dan adil dalam menilai, termasuk dalam menyikapi perbedaan mazhab seperti Syiah. Baginya, menjaga akidah itu fundamental, namun tidak boleh membuat kita kehilangan rasa adil.
"Kita lihat masalah ini dari kacamata ketakwaan, jangan melihatnya dengan perasaan dan hawa nafsu," pesannya di hadapan para tokoh termasuk Bupati Bulukumba.
"Kita harus sedih jika ada serangan ke Iran karena di sana juga kaum Muslimin, meskipun ada perbedaan dengan kita. Tapi kita harus adil," sambungnya, seraya menekankan pentingnya meluruskan pandangan dan bersikap adil termasuk pada orang kafir sekalipun, sebagaimana Alquran memberikan petunjuk tentang hubungan kaum beriman dengan Romawi dan juga Persia.
Keadilan dalam berpikir inilah yang kemudian harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konstitusi perdamaian dunia. Wahdah Islamiyah secara tegas mendukung penuh jika pemerintah mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. "Melaksanakan konstitusi perdamaian dunia wajib kita dukung pengiriman pasukan ke Gaza, sebagai muslim itu juga bahagian dari jihad," ungkap dia.
Namun, perjuangan besar itu harus dimulai dari hal-hal kecil di dalam diri, yakni menghidupkan nilai-nilai Islam melalui ketakwaan yang nyata, berbagi dengan sesama di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti.
Pesan ini pun menukik hingga ke ranah personal dan organisasi, di mana Kyai Zaitun meminta para kader Wahdah untuk selalu mendinginkan kepala meski hati sedang memanas. "Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin," pintanya.
Kyai Zaitun bahkan sempat berbagi pengalaman pribadinya saat diuji oleh komentar negatif netizen yang melupakan jejak perjuangannya untuk Palestina, namun ia memilih untuk membalasnya dengan kelapangan dada dan bersyukur atas cinta mereka pada Palestina.
Ia berharap kader Wahdah bisa menahan emosi dan mau mengalah dengan ormas Islam lainnya demi persatuan. "Kader Wahdah juga harus mengalah dengan ormas lain demi persatuan karena sama-sama mengajak kebaikan," tegasnya, seraya menekankan keinginan Wahdah untuk maju bersama ormas lain mewujudkan Indonesia Emas dan Berkah.
Sebagai penutup yang mengunci seluruh rangkaian pesan, Kyai Zaitun menekankan pentingnya loyalitas atau Al-Wala. Loyalitas ini tidak hanya tertuju pada kebenaran Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi juga tegak lurus pada aturan pemimpin, ulama, serta dasar negara Pancasila dan UUD 1945.
"Jaga loyalitas kita pada kebenaran, al wala lil hak. Kita muslim loyal pada Islam. Harus loyal pada pemimpin. Baik itu pemimpin ulama maupun pemimpin di Masyarakat," serunya.
(GUS)
Berita Terkait
News
Tokoh Nasional dan Menteri Kabinet Merah Putih Hadiri Silatnas Wahdah Islamiyah
Wahdah Islamiyah kembali menggelar program Tahunan, Silaturahmi Nasional 2025 secara Hybrid di Asrama Haji Embarkasi Makassar, Sabtu (15/11/2025).
Sabtu, 15 Nov 2025 19:48
Makassar City
Pemkot Makassar dan Wahdah Islamiyah Kolaborasi Tingkatkan Pembinaan Akhlak Anak
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menerima kunjungan silaturahmi dan audiensi dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Wahdah Islamiyah di ruang rapat Wakil Wali Kota Makassar, Selasa (25/03/2025).
Selasa, 25 Mar 2025 19:19
Sulsel
Ribuan Kader Ramaikan Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah di Gowa
Ribuan kader Wahdah Islamiyah memenuhi Masjid Agung Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa untuk menghadiri Tabligh Akbar Nasional dan Silaturahmi Syawal 1444 H.
Minggu, 14 Mei 2023 16:03
Sulsel
Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah Bakal Digelar di Gowa
Tabligh Akbar Nasional dan Silaturahmi Syawal 1444 H Wahdah Islamiyah akan diadakan di Masjid Agung Syekh Yusuf Kabupaten Gowa pada Ahad, (14/05/2023).
Kamis, 11 Mei 2023 17:15
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Etno Adventure Ajak Anak Pesisir Paotere Lestarikan Budaya Lewat Permainan Tradisional
2
Persis Amankan Poin Krusial dari PSM Makassar, Milo Akui Berat Bermain di Parepare
3
Kasus Curanmor di Jeneponto Terbongkar, Pelaku Utama Ditangkap di Kelara
4
Spirit Jogja Harus Lahir Kembali, IKAJO Sulsel Formulasikan Kekuatan Alumni
5
Jelang Makassar Half Marathon 2026, Munafri Ajak Warga Rutin Lari Tiap Akhir Pekan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Etno Adventure Ajak Anak Pesisir Paotere Lestarikan Budaya Lewat Permainan Tradisional
2
Persis Amankan Poin Krusial dari PSM Makassar, Milo Akui Berat Bermain di Parepare
3
Kasus Curanmor di Jeneponto Terbongkar, Pelaku Utama Ditangkap di Kelara
4
Spirit Jogja Harus Lahir Kembali, IKAJO Sulsel Formulasikan Kekuatan Alumni
5
Jelang Makassar Half Marathon 2026, Munafri Ajak Warga Rutin Lari Tiap Akhir Pekan