Panen KWT Wulasi Mandiri Naik Dua Kali Lipat Berkat Program TJSL PLN
Minggu, 30 Agu 2026 08:31
Nilai penjualan hasil panen KWT Wulasi Mandiri di Luwu Timur, meningkat lebih dari dua kali lipat setelah kelompok tersebut mendapat pendampingan melalui Program TJSL PLN UIP Sulawesi. Foto/IST
LUWU TIMUR - Nilai penjualan hasil panen Kelompok Wanita Tani (KWT) Wulasi Mandiri di Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, meningkat lebih dari dua kali lipat setelah kelompok tersebut mendapat pendampingan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi. Dari sekitar Rp200 ribu untuk sekali panen kangkung, kini kelompok mampu meraup sekitar Rp485 ribu.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu dampak dari perubahan cara anggota KWT mengelola lahan. Pengetahuan tentang pengolahan limbah pertanian, pembuatan kompos, hingga pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) mulai diterapkan untuk mendukung budidaya tanaman.
Sebanyak 14 anggota KWT Wulasi Mandiri mengikuti pelatihan yang didampingi penyuluh pertanian. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mulai mempraktikkan pembuatan kompos dan PGPR secara mandiri.
Sebelumnya, sisa tanaman hanya dikumpulkan dan dibiarkan membusuk. Setelah mengikuti pelatihan, anggota KWT memahami bahwa pembuatan kompos membutuhkan proses yang terkontrol, mulai dari menjaga kelembapan hingga memastikan kondisi bahan selama proses penguraian.
Ketua KWT Wulasi Mandiri, Nurhapidah, mengatakan pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru bagi anggota kelompok. Selain mulai memproduksi kompos, mereka juga telah mencoba menerapkan PGPR pada lahan pertanian.
“Dari pelatihan kami belajar bahwa membuat kompos bukan hanya mencampur bahan yang ada di sekitar. Kondisinya juga harus diperhatikan, apakah terlalu basah, terlalu kering, atau mengalami pembusukan. Sekarang kami mulai membuat kompos sendiri dan sudah menerapkan PGPR di lahan KWT,” ujar Nurhapidah.
PGPR yang dibuat anggota KWT memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti akar bambu, dedak, terasi, dan air. Setelah melalui proses pengolahan dan fermentasi, hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Perubahan cara budidaya tersebut berjalan beriringan dengan dukungan fasilitas dari PLN UIP Sulawesi berupa green house, rumah kompos, sistem pengairan sederhana, dan sarana pendukung budidaya lainnya.
Fasilitas tersebut membantu anggota KWT melakukan pembibitan dan pemeliharaan tanaman secara lebih terarah. Sistem pengairan yang tersedia juga membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman, terutama saat musim kemarau.
Dampaknya mulai terlihat pada hasil panen. Jika sebelumnya nilai penjualan kangkung dalam satu kali panen berada di kisaran Rp200 ribu, kini mencapai sekitar Rp485 ribu. Nilai tersebut masih berpotensi meningkat karena tanaman timun yang dibudidayakan kelompok mulai berbuah dan memasuki masa panen.
Bagi Nurhapidah, manfaat program tidak hanya terlihat dari meningkatnya hasil panen. Aktivitas kelompok yang semakin berkembang juga membuat masyarakat semakin percaya terhadap KWT Wulasi Mandiri.
“Dulu sekali panen kalau sudah menyentuh Rp200 ribu itu sudah terhitung banyak sekali. Sekarang alhamdulillah bisa sampai hampir Rp500 ribu, dan ini belum termasuk timun yang nanti kami panen. Orang-orang juga semakin percaya dengan KWT kami setelah adanya bantuan PLN. Sekarang sudah ada yang datang meminta bibit dari kami,” ungkapnya.
General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas, tetapi juga dari peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
“Yang ingin kami tumbuhkan bukan hanya sarana pertaniannya, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian kelompok. Ketika fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan, pengetahuan baru diterapkan, kemudian produktivitas masyarakat ikut meningkat, di situlah manfaat program TJSL menjadi semakin nyata dan berkelanjutan,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, pemberdayaan KWT Wulasi Mandiri merupakan bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya SUTET 275 kV Wotu–Bungku.
“PLN ingin keberadaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan juga menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Melalui program TJSL, kami berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri,” tambahnya.
Kini, green house dan rumah kompos yang dibangun melalui program tersebut tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung. Keduanya mulai dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan produksi bagi anggota KWT Wulasi Mandiri untuk menerapkan pengetahuan baru, meningkatkan produktivitas, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha kelompok secara berkelanjutan.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu dampak dari perubahan cara anggota KWT mengelola lahan. Pengetahuan tentang pengolahan limbah pertanian, pembuatan kompos, hingga pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) mulai diterapkan untuk mendukung budidaya tanaman.
Sebanyak 14 anggota KWT Wulasi Mandiri mengikuti pelatihan yang didampingi penyuluh pertanian. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mulai mempraktikkan pembuatan kompos dan PGPR secara mandiri.
Sebelumnya, sisa tanaman hanya dikumpulkan dan dibiarkan membusuk. Setelah mengikuti pelatihan, anggota KWT memahami bahwa pembuatan kompos membutuhkan proses yang terkontrol, mulai dari menjaga kelembapan hingga memastikan kondisi bahan selama proses penguraian.
Ketua KWT Wulasi Mandiri, Nurhapidah, mengatakan pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru bagi anggota kelompok. Selain mulai memproduksi kompos, mereka juga telah mencoba menerapkan PGPR pada lahan pertanian.
“Dari pelatihan kami belajar bahwa membuat kompos bukan hanya mencampur bahan yang ada di sekitar. Kondisinya juga harus diperhatikan, apakah terlalu basah, terlalu kering, atau mengalami pembusukan. Sekarang kami mulai membuat kompos sendiri dan sudah menerapkan PGPR di lahan KWT,” ujar Nurhapidah.
PGPR yang dibuat anggota KWT memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti akar bambu, dedak, terasi, dan air. Setelah melalui proses pengolahan dan fermentasi, hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Perubahan cara budidaya tersebut berjalan beriringan dengan dukungan fasilitas dari PLN UIP Sulawesi berupa green house, rumah kompos, sistem pengairan sederhana, dan sarana pendukung budidaya lainnya.
Fasilitas tersebut membantu anggota KWT melakukan pembibitan dan pemeliharaan tanaman secara lebih terarah. Sistem pengairan yang tersedia juga membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman, terutama saat musim kemarau.
Dampaknya mulai terlihat pada hasil panen. Jika sebelumnya nilai penjualan kangkung dalam satu kali panen berada di kisaran Rp200 ribu, kini mencapai sekitar Rp485 ribu. Nilai tersebut masih berpotensi meningkat karena tanaman timun yang dibudidayakan kelompok mulai berbuah dan memasuki masa panen.
Bagi Nurhapidah, manfaat program tidak hanya terlihat dari meningkatnya hasil panen. Aktivitas kelompok yang semakin berkembang juga membuat masyarakat semakin percaya terhadap KWT Wulasi Mandiri.
“Dulu sekali panen kalau sudah menyentuh Rp200 ribu itu sudah terhitung banyak sekali. Sekarang alhamdulillah bisa sampai hampir Rp500 ribu, dan ini belum termasuk timun yang nanti kami panen. Orang-orang juga semakin percaya dengan KWT kami setelah adanya bantuan PLN. Sekarang sudah ada yang datang meminta bibit dari kami,” ungkapnya.
General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas, tetapi juga dari peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
“Yang ingin kami tumbuhkan bukan hanya sarana pertaniannya, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian kelompok. Ketika fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan, pengetahuan baru diterapkan, kemudian produktivitas masyarakat ikut meningkat, di situlah manfaat program TJSL menjadi semakin nyata dan berkelanjutan,” ujar Aditya.
Menurut Aditya, pemberdayaan KWT Wulasi Mandiri merupakan bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya SUTET 275 kV Wotu–Bungku.
“PLN ingin keberadaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan juga menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. Melalui program TJSL, kami berupaya mendorong pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri,” tambahnya.
Kini, green house dan rumah kompos yang dibangun melalui program tersebut tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung. Keduanya mulai dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan produksi bagi anggota KWT Wulasi Mandiri untuk menerapkan pengetahuan baru, meningkatkan produktivitas, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha kelompok secara berkelanjutan.
(TRI)
Berita Terkait
News
Pelindo Salurkan Material Bangunan untuk Korban Kebakaran di Makassar
Warga terdampak kebakaran di Kelurahan Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Makassar, mendapat bantuan material bangunan dari PT Pelabuhan Indonesia Regional 4.
Senin, 19 Okt 2026 19:36
News
PLN Kebut Pembangunan SUTT 150 kV Bungku-ACN, Target Energize Desember 2026
Manajemen PLN UIP Sulawesi meninjau proyek Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Bungku-ACN dan Gardu Induk (GI) 150 kV Bungku Extension di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Sabtu, 17 Okt 2026 12:41
News
PLN Raih Sector Champion dan Runner Up di Danantara CX100 Award 2026
PLN meraih predikat Sector Champion kategori Energy & Public Utilities sekaligus menempati posisi Runner Up dalam daftar 100 BUMN dengan layanan terbaik pada ajang Danantara Indonesia CX100 Award 2026.
Rabu, 14 Okt 2026 13:36
News
Keandalan Kelistrikan Sulbagsel Jadi Perhatian, PLN Kebut Proyek Transmisi
Dewan Komisaris PLN, Jisman Parada Hutajulu, melakukan kunjungan kerja ke Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Makassar, Senin (5/10) lalu.
Rabu, 07 Okt 2026 08:06
News
Hadapi Risiko Kerja di Ketinggian, PLN Perkuat Kesiapan Pekerja SUTT
PLN UIP Sulawesi melalui Tim K3LK PLN UPP Sulawesi Tengah menggelar Refreshment Training dan Screening Working at Height bagi para pekerja di Kabupaten Donggala.
Selasa, 06 Okt 2026 11:43
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Prof JJ Lantik Pimpinan RS Unhas Periode 2026–2030
2
BEM Polbangtan Gowa Kumpulkan 109 Pendonor Darah
3
Muslimah Millionaire Hadir di Makassar, Dorong Pengusaha Kembangkan Bisnis Islami
4
Turnamen Tenis SCI CUP 1 dan SCI Games Meriahkan HUT Sulsel
5
Realisasi PAD Maros Capai 82,23 Persen, Tersisa Rp61,5 Miliar dari Target
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Prof JJ Lantik Pimpinan RS Unhas Periode 2026–2030
2
BEM Polbangtan Gowa Kumpulkan 109 Pendonor Darah
3
Muslimah Millionaire Hadir di Makassar, Dorong Pengusaha Kembangkan Bisnis Islami
4
Turnamen Tenis SCI CUP 1 dan SCI Games Meriahkan HUT Sulsel
5
Realisasi PAD Maros Capai 82,23 Persen, Tersisa Rp61,5 Miliar dari Target