Menggerakkan Kedaulatan Energi, PLN UIP Sulawesi Fokus Kembangkan EBT
Kamis, 18 Jun 2026 15:26
Jajaran pimpinan PLN UIP Sulawesi memberikan penjelasan mengenai strategi terkait pengembangan pembangkit EBT maupun non-EBT saat media gathering di kantornya, Kamis (18/6/2026). Foto/Tri Yari K
MAKASSAR - PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah itu merupakan upaya mendukung kedaulatan energi dan memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik di Sulawesi yang terus meningkat.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Media Gathering PLN UIP Sulawesi bertema "Menggerakkan Kedaulatan Energi: Bersama Media Mengawal Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan untuk Pertumbuhan, Keberlanjutan, dan Keandalan Energi di Sulawesi Selatan" yang digelar di Kantor PLN UIP Sulawesi, Kamis (18/6/2026).
General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan Sulawesi memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar sehingga menjadi fokus utama dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ke depan.
"Sesuai arahan Presiden untuk mewujudkan swasembada energi, terlebih Sulawesi memiliki potensi energi terbarukan yang besar, maka kami akan fokus pada pembangunan proyek-proyek yang memanfaatkan energi baru terbarukan," ujarnya.
Menurut dia, arah pengembangan tersebut juga sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang menempatkan porsi EBT mencapai 76 persen dari tambahan kapasitas pembangkit nasional.
Di Sulawesi, sejumlah proyek berbasis energi bersih telah disiapkan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Salah satu proyek yang menjadi prioritas adalah PLTA Bakaru 2. Proyek ini dinilai strategis karena mampu menambah kapasitas pasokan listrik Sulawesi Selatan dengan biaya pembangkitan yang lebih murah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
"Sumber energinya berasal dari air sehingga lebih ekonomis dan mampu menjawab kebutuhan listrik yang terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan," katanya.
PLN juga melakukan evaluasi terhadap seluruh proyek infrastruktur ketenagalistrikan yang sedang berjalan agar investasi yang dilakukan memberikan manfaat paling besar bagi sistem kelistrikan. Prioritas saat ini diarahkan pada proyek-proyek yang mampu menambah kapasitas pasokan listrik, sementara proyek yang sifatnya meningkatkan redundansi atau keandalan sistem akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi jaringan.
Berdasarkan data PLN UIP Sulawesi, total kapasitas proyek pembangkit EBT yang tengah dikembangkan mencapai 264,5 MW. Seluruhnya berasal dari pemanfaatan potensi tenaga air di Sulawesi Selatan, termasuk proyek PLTA Bakaru 2 dan PLTA Pokko.
Di sisi lain, PLN juga tetap membangun pembangkit non-EBT dengan total kapasitas 920 MW untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan memenuhi kebutuhan beban dasar masyarakat maupun sektor industri.
Senior Manager Perencanaan PLN UIP Sulawesi, Misdjan Endang Subrata, menjelaskan pengembangan EBT juga diiringi upaya mitigasi terhadap risiko gangguan sistem, termasuk yang pernah terjadi akibat faktor cuaca.
Saat ini, komposisi pembangkit di sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) terdiri atas sekitar 20 persen EBT dan 80 persen non-EBT. Untuk menjaga keandalan pembangkit energi terbarukan, PLN menerapkan berbagai langkah mitigasi, salah satunya teknologi modifikasi cuaca yang telah diterapkan di wilayah Poso.
"Kami memiliki banyak pembangkit EBT dengan kapasitas relatif kecil. Karena itu, keandalan sistem harus terus dijaga melalui berbagai langkah mitigasi," ujarnya.
Pengembangan pembangkit energi terbarukan juga menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya konsumsi listrik di Sulawesi Selatan. Hingga Mei 2026, beban puncak sistem Sulbagsel mencapai 2.089,22 MW, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.990,40 MW. Adapun daya mampu pasok saat ini mencapai 2.205,23 MW.
PLN memproyeksikan tren pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut hingga 2034, dengan beban puncak diperkirakan mencapai 2.895 MW. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PLN turut membangun jaringan transmisi backbone yang menghubungkan pusat-pusat pembangkit dengan wilayah beban melalui dua koridor utama, yakni Backbone Selatan dan Backbone Selatan-Tengah-Tenggara.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, terutama proses perizinan dan pembebasan lahan, PLN memastikan proyek-proyek strategis EBT akan tetap dilanjutkan karena memiliki manfaat jangka panjang bagi ketahanan energi, efisiensi biaya pembangkitan, dan pengurangan emisi karbon.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, Sulawesi dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan energi bersih nasional sekaligus menopang target transisi energi Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Media Gathering PLN UIP Sulawesi bertema "Menggerakkan Kedaulatan Energi: Bersama Media Mengawal Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan untuk Pertumbuhan, Keberlanjutan, dan Keandalan Energi di Sulawesi Selatan" yang digelar di Kantor PLN UIP Sulawesi, Kamis (18/6/2026).
General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan Sulawesi memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar sehingga menjadi fokus utama dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ke depan.
"Sesuai arahan Presiden untuk mewujudkan swasembada energi, terlebih Sulawesi memiliki potensi energi terbarukan yang besar, maka kami akan fokus pada pembangunan proyek-proyek yang memanfaatkan energi baru terbarukan," ujarnya.
Menurut dia, arah pengembangan tersebut juga sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang menempatkan porsi EBT mencapai 76 persen dari tambahan kapasitas pembangkit nasional.
Di Sulawesi, sejumlah proyek berbasis energi bersih telah disiapkan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Salah satu proyek yang menjadi prioritas adalah PLTA Bakaru 2. Proyek ini dinilai strategis karena mampu menambah kapasitas pasokan listrik Sulawesi Selatan dengan biaya pembangkitan yang lebih murah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
"Sumber energinya berasal dari air sehingga lebih ekonomis dan mampu menjawab kebutuhan listrik yang terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan," katanya.
PLN juga melakukan evaluasi terhadap seluruh proyek infrastruktur ketenagalistrikan yang sedang berjalan agar investasi yang dilakukan memberikan manfaat paling besar bagi sistem kelistrikan. Prioritas saat ini diarahkan pada proyek-proyek yang mampu menambah kapasitas pasokan listrik, sementara proyek yang sifatnya meningkatkan redundansi atau keandalan sistem akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi jaringan.
Berdasarkan data PLN UIP Sulawesi, total kapasitas proyek pembangkit EBT yang tengah dikembangkan mencapai 264,5 MW. Seluruhnya berasal dari pemanfaatan potensi tenaga air di Sulawesi Selatan, termasuk proyek PLTA Bakaru 2 dan PLTA Pokko.
Di sisi lain, PLN juga tetap membangun pembangkit non-EBT dengan total kapasitas 920 MW untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan memenuhi kebutuhan beban dasar masyarakat maupun sektor industri.
Senior Manager Perencanaan PLN UIP Sulawesi, Misdjan Endang Subrata, menjelaskan pengembangan EBT juga diiringi upaya mitigasi terhadap risiko gangguan sistem, termasuk yang pernah terjadi akibat faktor cuaca.
Saat ini, komposisi pembangkit di sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) terdiri atas sekitar 20 persen EBT dan 80 persen non-EBT. Untuk menjaga keandalan pembangkit energi terbarukan, PLN menerapkan berbagai langkah mitigasi, salah satunya teknologi modifikasi cuaca yang telah diterapkan di wilayah Poso.
"Kami memiliki banyak pembangkit EBT dengan kapasitas relatif kecil. Karena itu, keandalan sistem harus terus dijaga melalui berbagai langkah mitigasi," ujarnya.
Pengembangan pembangkit energi terbarukan juga menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya konsumsi listrik di Sulawesi Selatan. Hingga Mei 2026, beban puncak sistem Sulbagsel mencapai 2.089,22 MW, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.990,40 MW. Adapun daya mampu pasok saat ini mencapai 2.205,23 MW.
PLN memproyeksikan tren pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut hingga 2034, dengan beban puncak diperkirakan mencapai 2.895 MW. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PLN turut membangun jaringan transmisi backbone yang menghubungkan pusat-pusat pembangkit dengan wilayah beban melalui dua koridor utama, yakni Backbone Selatan dan Backbone Selatan-Tengah-Tenggara.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, terutama proses perizinan dan pembebasan lahan, PLN memastikan proyek-proyek strategis EBT akan tetap dilanjutkan karena memiliki manfaat jangka panjang bagi ketahanan energi, efisiensi biaya pembangkitan, dan pengurangan emisi karbon.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, Sulawesi dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan energi bersih nasional sekaligus menopang target transisi energi Indonesia.
(TRI)
Berita Terkait
News
Akses Air Bersih Diperkuat, PLN Siapkan Sumur Bor dan Tandon di Kaluku Bodoa
Untuk memperkuat akses sekaligus kesiapsiagaan menghadapi risiko kekeringan, PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi mendukung penyediaan 12 sumur bor dan 17 tandon air yang menjangkau masyarakat di 51 RT.
Rabu, 30 Sep 2026 12:47
News
SK Hak Terbit, PLN Lanjutkan Sertifikasi Aset GITET 275 kV Kendari
Sebanyak 47 persil lahan yang menjadi bagian dari Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 275 kV Kendari kini memasuki tahap akhir proses legalisasi aset.
Jum'at, 25 Sep 2026 15:40
News
Jejak Lestari Danau Purba Matano di Tengah Denyut Industri Nikel
Dikelola PT Vale, LGS menjadi salah satu benteng ekologis yang menjaga agar aktivitas industri nikel tetap berjalan berdampingan dengan kelestarian lingkungan.
Kamis, 24 Sep 2026 22:27
News
PLN Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Jaga Debit Air PLTA di Musim Kemarau
PLN memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sejumlah wilayah untuk menjaga keandalan listrik di PLTA.
Rabu, 23 Sep 2026 15:37
Ekbis
PLN Mulai First Stringing SUTT Bungku, Dorong Pertumbuhan Industri Morowali
PLN mulai melakukan penarikan konduktor perdana (first stringing) Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Bungku-Pelanggan PT ACN di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Senin, 21 Sep 2026 12:19
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
WR IV UMI Buka Seleksi Calon Hafizh/Hafizhah UPT PKD, 36 Mahasiswa Ikuti Seleksi
2
3 DPO Kasus Penyiraman Cabai di Jeneponto Ditangkap
3
Siswa SD Maros Juara Panahan Tradisional Sulsel
4
Beasiswa Pemkab Luwu Timur Bantu Tiga Anak Satu Keluarga Jadi Sarjana
5
Perkuat Layanan KB, BKKBN Sulsel Ajak Fasyankes Toraja Utara Penguatan Tata Kelola Alkon
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
WR IV UMI Buka Seleksi Calon Hafizh/Hafizhah UPT PKD, 36 Mahasiswa Ikuti Seleksi
2
3 DPO Kasus Penyiraman Cabai di Jeneponto Ditangkap
3
Siswa SD Maros Juara Panahan Tradisional Sulsel
4
Beasiswa Pemkab Luwu Timur Bantu Tiga Anak Satu Keluarga Jadi Sarjana
5
Perkuat Layanan KB, BKKBN Sulsel Ajak Fasyankes Toraja Utara Penguatan Tata Kelola Alkon