Pertanian dan Hilirisasi Jadi Kunci Dorong Ekonomi Sulsel 2026

Kamis, 27 Agu 2026 21:52
Pertanian dan Hilirisasi Jadi Kunci Dorong Ekonomi Sulsel 2026
Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki E Wimanda saat memaparkan perkembangan ekonomi Sulsel saat acara pelatihan wartawan alias media engagement. Foto/Istimewa
Comment
Share
BALI - Penguatan sektor pertanian dan hilirisasi industri menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2026. Bank Indonesia (BI) menilai dua sektor tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, memperluas investasi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki E Wimanda mengatakan ekonomi Sulsel masih memiliki prospek positif pada 2026. BI memproyeksikan ekonomi Sulsel tumbuh pada kisaran 5,4–6,2 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2025.

Menurut Rizki, peluang tersebut perlu dioptimalkan dengan memperkuat sektor-sektor yang menjadi basis ekonomi Sulsel, terutama pertanian dan industri pengolahan.

“Untuk 2026 kami masih optimis tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2025, di range 5,4 sampai 6,2 persen. Tahun 2027 juga meningkat, meskipun meningkatnya sedikit,” kata Rizki dalam kegiatan pelatihan wartawan atau media engagement di Bali, Kamis (27/8/2026).

Penguatan pertanian dinilai penting karena sektor tersebut tidak hanya berperan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi.

BI mendorong setiap sentra produksi di Sulsel fokus pada satu hingga tiga komoditas unggulan dengan mempertimbangkan potensi pasar. Sejumlah komoditas yang dinilai potensial antara lain kakao, kopi, padi, jagung, perikanan, dan rumput laut.

Pengembangan komoditas unggulan tersebut, kata Rizki, perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Produktivitas di tingkat petani dan nelayan harus dibarengi dengan penguatan pascapanen, pengolahan, distribusi, hingga akses pasar.

Salah satu skema yang didorong adalah pembentukan kontrak dengan offtaker. Dengan pola tersebut, petani dan nelayan dapat lebih fokus meningkatkan produksi, sementara pemasaran dan distribusi ditangani perusahaan atau koperasi.

“Perkuat kelembagaan petani atau nelayan. Buat koperasi. Kemudian bangun dashboard pangan kabupaten/kota untuk mendigitalisasi data stok, harga, dan cuaca,” jelasnya.

BI juga menilai penguatan infrastruktur pascapanen dan rantai dingin menjadi kebutuhan penting, terutama untuk komoditas pertanian dan perikanan yang memiliki karakter mudah rusak.

Fasilitas seperti gudang, agregator, unit pengolahan, benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pendampingan perlu disiapkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Dorong Hilirisasi
Selain pertanian, BI mendorong percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Sulsel.

Rizki mengatakan proyek hilirisasi perlu disiapkan agar layak dibiayai atau bankable. Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan sejumlah aspek pendukung, mulai dari kepastian pasokan bahan baku, kemudahan perizinan, ketersediaan utilitas, hingga kepastian calon offtaker.

Menurutnya, hilirisasi akan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian daerah dibandingkan sekadar menjual komoditas dalam bentuk bahan mentah.

Untuk memperkuat kapasitas industri, BI juga merekomendasikan pembangunan fasilitas pengolahan bersama atau shared processing facility. Fasilitas tersebut dapat menjadi solusi bagi pelaku usaha yang belum memiliki kapasitas pengolahan sendiri.

Pengembangan industri pengolahan juga diharapkan menciptakan mata rantai ekonomi baru, mulai dari produksi bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Dengan demikian, nilai tambah komoditas dapat lebih banyak dinikmati di dalam daerah.

Tantangan Masih Membayangi
Penguatan pertanian dan hilirisasi menjadi semakin penting di tengah sejumlah risiko yang masih membayangi ekonomi Sulsel.

BI mencatat risiko tersebut antara lain fenomena El Nino, produktivitas pertanian yang belum optimal, kenaikan harga pupuk, serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Risiko dari sisi pangan juga masih perlu diantisipasi. Pada Juli 2026, Sulsel memang mencatat deflasi bulanan sebesar 0,18 persen. Namun, sejumlah komoditas pangan masih memberikan tekanan terhadap inflasi.

Secara kumulatif hingga Juli, inflasi ikan layang tercatat mencapai 19,24 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas seperti tomat, beras, dan minyak goreng.

Karena itu, peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya ditujukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan.

Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian juga menjadi tantangan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 turun dari proyeksi sebelumnya 3,5 persen menjadi sekitar 3 persen.

Ketidakpastian tersebut antara lain dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada perdagangan dan arus energi dunia.

Meski menghadapi berbagai risiko, BI tetap optimistis ekonomi Sulsel dapat tumbuh 5,4–6,2 persen pada 2026. Penguatan pertanian, percepatan hilirisasi, serta peningkatan investasi menjadi bagian penting untuk memastikan pertumbuhan tersebut tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih berkualitas dan berkelanjutan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru