SIBF 2026 Perkuat Investasi Sulampua, Ekspor Tumbuh Tiga Kali Lipat

Jum'at, 30 Okt 2026 09:11
SIBF 2026 Perkuat Investasi Sulampua, Ekspor Tumbuh Tiga Kali Lipat
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki E Wimanda, saat menyampaikan sambutan pada acara Sulampua Investment & Business Forum (SIBF) 2026 di Makassar. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Potensi investasi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) semakin terbuka. Melalui Sulampua Investment & Business Forum (SIBF) 2026, sebanyak 17 proyek investasi berhasil menarik komitmen senilai Rp9,64 triliun. Forum ini juga mencatat komitmen ekspor Rp818,5 miliar, meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi hasil penyelenggaraan SIBF 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah daerah se-Sulampua pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar.

Mengusung tema “Advancing Sulampua’s Potential: From Regional Strengths to Global Value Chains”, forum ini menjadi wadah mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan investor untuk memperkuat sinergi investasi serta perdagangan. Kegiatan tersebut dihadiri Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta secara virtual, perwakilan Gubernur Sulawesi Selatan, pemerintah daerah se-Sulampua, perwakilan kedutaan besar, kamar dagang, serta investor dan mitra bisnis dari dalam maupun luar negeri.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan SIBF 2026 merupakan pengembangan dari kegiatan tahunan Anging Mammiri Business Fair (AMBF) dan South Sulawesi Investment Forum (SSIF) yang sejak 2024 diselenggarakan melalui Forum PINISI SULTAN.

Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 43 proyek investasi potensial dari wilayah Sulampua ditawarkan kepada investor. Selain itu, dijadwalkan 98 pertemuan bisnis (one-on-one meeting) yang melibatkan lebih dari 30 calon investor dari dalam dan luar negeri.

"Keberhasilan SIBF tidak hanya diukur dari besarnya komitmen yang dihasilkan, tetapi juga dari realisasi investasi dan transaksi perdagangan yang berkelanjutan," ujarnya.

Komitmen memperkuat iklim investasi juga ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, menekankan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah.

Menurutnya, pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan perlu ditopang infrastruktur serta konektivitas yang memadai. Dukungan tersebut diperlukan untuk menarik investasi, memperkuat rantai pasok, dan mendorong pemerataan ekonomi.

Melalui SIBF 2026, pemerintah daerah juga mengajak investor dan mitra usaha berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur dan konektivitas melalui investasi yang berkelanjutan serta memberikan dampak luas bagi perekonomian daerah.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta turut menekankan bahwa investasi dan perdagangan merupakan penggerak penting pertumbuhan ekonomi Sulampua yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Karena itu, penguatan kedua sektor tersebut perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah, diversifikasi ekonomi, serta konektivitas antarwilayah.

BI mengedepankan prinsip Impactful, Inclusive, Integrated, dan Synergy (3I dan 1S) dalam penyelenggaraan SIBF 2026. Prinsip tersebut menitikberatkan pada pencapaian hasil konkret, perluasan partisipasi pelaku usaha, keterpaduan program investasi dan perdagangan, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Untuk memperbesar dampak forum, terdapat tiga strategi utama yang dijalankan. Pertama, memperkuat pemetaan proyek investasi dan UMKM unggulan secara terintegrasi di seluruh wilayah Sulampua.

Kedua, membangun kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam penyiapan proyek dan pengembangan skema pembiayaan, termasuk Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Upaya ini juga melibatkan trading house dan jaringan ritel modern untuk memperluas akses pasar UMKM.

Ketiga, memperkuat promosi dan fasilitasi bisnis melalui market sounding, business matching, serta pendampingan berkelanjutan guna mendorong realisasi investasi dan perdagangan.

Secara keseluruhan, SIBF 2026 melibatkan sekitar 900 peserta dalam berbagai agenda, mulai dari promosi proyek investasi dan produk UMKM unggulan, empat sesi talkshow, business matching, hingga kunjungan langsung ke lokasi investasi (investment site visit).

Dari rangkaian kegiatan tersebut, tercatat 17 Letter of Intent (LoI) dengan total potensi investasi Rp9,64 triliun. Sementara itu, komitmen ekspor mencapai Rp818,5 miliar, meningkat signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp228,1 miliar.

Komitmen perdagangan tersebut melibatkan 47 UMKM se-Sulampua yang bermitra dengan 44 buyer dari 20 negara. Sulawesi Selatan memberikan kontribusi terbesar dengan nilai komitmen ekspor Rp740,6 miliar. Selain itu, tujuh UMKM Sulawesi Selatan berhasil memperluas akses pasar melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern dalam negeri.

Capaian tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk mengubah potensi sumber daya dan keunggulan daerah di kawasan Sulampua menjadi aktivitas ekonomi bernilai tambah, sekaligus memperkuat posisi kawasan dalam rantai nilai global.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru