IGS 2026 Jadi Peluang Pengrajin Makassar Bertemu Calon Mitra Ekspor
Selasa, 23 Jun 2026 21:56
Suasana konferensi pers Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Anjungan MNEK CPI, Makassar, Selasa (23/6/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar menggelar konferensi pers Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 bertema "The Taste & Craft of Makassar" di Anjungan MNEK CPI, Makassar, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk mengangkat potensi kuliner, kriya, dan wastra Kota Makassar sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperin) Kota Makassar, Evy Aprialti, mengatakan pihaknya mendapat tugas untuk mengoptimalkan keterlibatan pelaku industri dan usaha kecil menengah (UKM) lokal dalam rangkaian kegiatan IGS 2026.
"Tanggal 23, kita melakukan kegiatan pameran dagang lokal, di mana dalam pameran dagang lokal itu kami melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang industri di Kota Makassar dan juga para UKM. Kegiatan pameran dagang ini nanti selain mempromosikan hasil kerajinan, ada praktik, dalam hal ini mereka demo," ujarnya.
Menurut Evy, pameran dagang lokal tersebut menjadi sarana mempertemukan para pengrajin dengan istri duta besar yang hadir dalam rangkaian IGS 2026. Pertemuan itu diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dan akses pasar yang lebih luas bagi produk lokal.
"Targetnya semoga bisa jauh lebih bagus lagi daripada pameran dagang lokal yang sebelumnya kami lakukan. Kenapa? Karena ini langsung pembelian produk atau pelaku usaha bisa bertemu langsung dengan para pelaku-pelaku industri yang bisa dalam hal ini mungkin bisa dibawa ke ekspor nantinya ke negara masing-masing," sambungnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga membuka peluang ekspor bagi para pengrajin Kota Makassar.
"Kami harapkan mereka bukan cuman nanti memamerkan kerajinannya, tetapi semua mulai dari bahannya, mulai dari sistem pemasarannya, dan bagaimana untuk menyampaikan supaya produk-produk kerajinan Kota Makassar dikenal bisa juga menjadi contoh kabupaten/kota yang ada di Indonesia," harapnya.
Sementara itu, desainer Didi Budiarjo menilai Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada kain karena didukung rantai produksi yang lengkap, mulai dari budidaya ulat sutra hingga proses penenunan.
"Karena seperti kita ketahui juga, kainnya itu bukan hanya beli benang dari benang yang sudah jadi kan? Itu kan bahkan mereka memelihara ulat sutranya, kemudian menenun, mewarnai, dan kemudian dijadikan sebuah wastra. Itu tidak banyak dipunyai oleh daerah yang lain," terangnya.
Menurut Didi, karakteristik tenun Sulawesi Selatan yang khas menjadi modal penting untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk daerah.
"Saya rasa sangat besar ya, karena menurut saya karakteristiknya dari Sulawesi Selatan itu kan memang punya potensi, punya karakteristik yang sangat khas, yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya," sebutnya.
Ia juga menilai harga kain tenun Sulawesi Selatan masih cukup kompetitif dan sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.
"Sebetulnya cukup terjangkau. Bukan harus makin mahal tapi harus sesuai. Apa yang dijual dengan kualitas harus sesuai. Tetapi berarti saya melihat ada potensi, bahwa orang untuk menggunakan tenunan-tenunan eksklusif yang baik mutunya, itu ada," lanjutnya.
Di sisi lain, Project Officer Citra Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan kepada para pengrajin tenun, khususnya yang berada di wilayah pedesaan.
"Kita mencoba memberikan mereka sebuah wawasan yang baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar sekarang. Kita memberikan kepada mereka juga wawasan mengenai kualitas. Dalam pembinaan, kami selalu melakukan itu di dalam satu tahun dan itu satu tim. Tim itu antara lain ada desainer tekstil, desainer training, dan ada fashion designer," jelasnya.
Menurut Syamsidar, kolaborasi dengan para desainer fesyen menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan dan promosi tenun lokal kepada konsumen yang lebih luas.
"Mereka juga terlibat di dalam pekerjaan pembinaan itu. Mereka ini kan sebagai pengguna (kain tenun) dan pemberita kepada konsumen. Melalui tangan mereka, itu akan bisa mengangkat tenun ini lebih cepat. Dan konsumen pun jadi langsung melihat dalam bentuk pakaian," imbuhnya.
Melalui IGS 2026, Dekranasda Kota Makassar berharap produk kriya, tenun, dan berbagai hasil kerajinan lokal semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pengrajin, pelaku usaha, desainer, dan delegasi mancanegara untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk unggulan daerah.
Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk mengangkat potensi kuliner, kriya, dan wastra Kota Makassar sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperin) Kota Makassar, Evy Aprialti, mengatakan pihaknya mendapat tugas untuk mengoptimalkan keterlibatan pelaku industri dan usaha kecil menengah (UKM) lokal dalam rangkaian kegiatan IGS 2026.
"Tanggal 23, kita melakukan kegiatan pameran dagang lokal, di mana dalam pameran dagang lokal itu kami melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang industri di Kota Makassar dan juga para UKM. Kegiatan pameran dagang ini nanti selain mempromosikan hasil kerajinan, ada praktik, dalam hal ini mereka demo," ujarnya.
Menurut Evy, pameran dagang lokal tersebut menjadi sarana mempertemukan para pengrajin dengan istri duta besar yang hadir dalam rangkaian IGS 2026. Pertemuan itu diharapkan dapat membuka peluang kerja sama dan akses pasar yang lebih luas bagi produk lokal.
"Targetnya semoga bisa jauh lebih bagus lagi daripada pameran dagang lokal yang sebelumnya kami lakukan. Kenapa? Karena ini langsung pembelian produk atau pelaku usaha bisa bertemu langsung dengan para pelaku-pelaku industri yang bisa dalam hal ini mungkin bisa dibawa ke ekspor nantinya ke negara masing-masing," sambungnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga membuka peluang ekspor bagi para pengrajin Kota Makassar.
"Kami harapkan mereka bukan cuman nanti memamerkan kerajinannya, tetapi semua mulai dari bahannya, mulai dari sistem pemasarannya, dan bagaimana untuk menyampaikan supaya produk-produk kerajinan Kota Makassar dikenal bisa juga menjadi contoh kabupaten/kota yang ada di Indonesia," harapnya.
Sementara itu, desainer Didi Budiarjo menilai Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada kain karena didukung rantai produksi yang lengkap, mulai dari budidaya ulat sutra hingga proses penenunan.
"Karena seperti kita ketahui juga, kainnya itu bukan hanya beli benang dari benang yang sudah jadi kan? Itu kan bahkan mereka memelihara ulat sutranya, kemudian menenun, mewarnai, dan kemudian dijadikan sebuah wastra. Itu tidak banyak dipunyai oleh daerah yang lain," terangnya.
Menurut Didi, karakteristik tenun Sulawesi Selatan yang khas menjadi modal penting untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk daerah.
"Saya rasa sangat besar ya, karena menurut saya karakteristiknya dari Sulawesi Selatan itu kan memang punya potensi, punya karakteristik yang sangat khas, yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya," sebutnya.
Ia juga menilai harga kain tenun Sulawesi Selatan masih cukup kompetitif dan sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.
"Sebetulnya cukup terjangkau. Bukan harus makin mahal tapi harus sesuai. Apa yang dijual dengan kualitas harus sesuai. Tetapi berarti saya melihat ada potensi, bahwa orang untuk menggunakan tenunan-tenunan eksklusif yang baik mutunya, itu ada," lanjutnya.
Di sisi lain, Project Officer Citra Tenun Indonesia (CTI), Syamsidar Isa, mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan kepada para pengrajin tenun, khususnya yang berada di wilayah pedesaan.
"Kita mencoba memberikan mereka sebuah wawasan yang baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar sekarang. Kita memberikan kepada mereka juga wawasan mengenai kualitas. Dalam pembinaan, kami selalu melakukan itu di dalam satu tahun dan itu satu tim. Tim itu antara lain ada desainer tekstil, desainer training, dan ada fashion designer," jelasnya.
Menurut Syamsidar, kolaborasi dengan para desainer fesyen menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan dan promosi tenun lokal kepada konsumen yang lebih luas.
"Mereka juga terlibat di dalam pekerjaan pembinaan itu. Mereka ini kan sebagai pengguna (kain tenun) dan pemberita kepada konsumen. Melalui tangan mereka, itu akan bisa mengangkat tenun ini lebih cepat. Dan konsumen pun jadi langsung melihat dalam bentuk pakaian," imbuhnya.
Melalui IGS 2026, Dekranasda Kota Makassar berharap produk kriya, tenun, dan berbagai hasil kerajinan lokal semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pengrajin, pelaku usaha, desainer, dan delegasi mancanegara untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk unggulan daerah.
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
BPBD Makassar Latih Mahasiswa dari 23 Kampus, Siapkan 23.000 SDM Tanggap Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menggandeng 23 perguruan tinggi untuk memperkuat mitigasi bencana.
Kamis, 16 Jul 2026 08:48
Makassar City
RSUD Daya Makassar Luncurkan Geliat, Percepat Penanganan Pasien Telantar
RSUD Kota Makassar (RSUD Daya) meluncurkan inovasi pelayanan Geliat (Gerakan Empati Layanan Integrasi Aktif Terpadu) untuk mempercepat penanganan pasien telantar.
Rabu, 15 Jul 2026 16:56
Makassar City
Dinas Sosial Makassar Raih Penghargaan Pelayanan Publik dari Ombudsman RI
Pemkot Makassar kembali meraih penghargaan di bidang pelayanan publik. Kali ini, Dinsos Kota Makassar menerima penghargaan dari Ombudsman Republik Indonesia atas hasil penilaian pelayanan publik.
Rabu, 15 Jul 2026 16:47
Makassar City
Localfest Hadir di Makassar Oktober 2026, Targetkan 15 Ribu Pengunjung
Kota Makassar akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Localfest pada awal Oktober 2026. Festival kreatif berskala nasional ini ditargetkan menarik sekitar 15.000 pengunjung.
Selasa, 14 Jul 2026 20:09
Makassar City
Makassar Terapkan Web-GIS Railing Besi untuk Pantau Bangunan di Kawasan Pesisir
Distaru Kota Makassar meluncurkan inovasi Railing Besi (Rekayasa Lingkungan di Bentang Pesisir) untuk memperkuat pengawasan pemanfaatan ruang, khususnya di kawasan pesisir.
Selasa, 14 Jul 2026 19:59
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KM Nurul Salsa Mati Mesin hingga Tenggelam di Perairan Selayar, 24 Korban Masih Dicari
2
Massa Geruduk DPRD Sulsel, Desak Bentuk Pansus Hak Angket Usut GMTD
3
Prof Amir Ilyas Dorong Dosen Unhas Ubah Hasil Riset Menjadi Peluang Usaha Bernilai Ekonomi
4
Pemprov Sulsel Tertibkan Aset di Kawasan Stadion Mattoanging
5
PPBM Kalla Institute Hadirkan Indonesia Best CEO 2025 Berbagi Strategi Kepemimpinan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
KM Nurul Salsa Mati Mesin hingga Tenggelam di Perairan Selayar, 24 Korban Masih Dicari
2
Massa Geruduk DPRD Sulsel, Desak Bentuk Pansus Hak Angket Usut GMTD
3
Prof Amir Ilyas Dorong Dosen Unhas Ubah Hasil Riset Menjadi Peluang Usaha Bernilai Ekonomi
4
Pemprov Sulsel Tertibkan Aset di Kawasan Stadion Mattoanging
5
PPBM Kalla Institute Hadirkan Indonesia Best CEO 2025 Berbagi Strategi Kepemimpinan