400 Personel Gabungan Diterjunkan Tertibkan 30 Lapak Liar di Pasar Jongkok Antang

Kamis, 02 Jul 2026 13:40
400 Personel Gabungan Diterjunkan Tertibkan 30 Lapak Liar di Pasar Jongkok Antang
Suasana penertiban PKL di kawasan Pasar Jongkok Perumnas Antang, Jalan AMD Raya, Kamis (2/7/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Pemerintah Kecamatan Manggala, Kota Makassar, mengambil langkah tegas dengan melakukan penertiban terhadap sekitar 30 lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Jongkok Perumnas Antang, Jalan AMD Raya, Kamis (2/7/2026).

Camat Manggala, Ahmad, memimpin langsung proses penertiban yang menyasar sekitar 30-an lapak yang berdiri di atas bahu jalan dan menutup saluran drainase.

Dia bilang, langkah tersebut diambil sebagai respons atas keluhan warga terkait kemacetan parah yang kerap terjadi, serta upaya mitigasi banjir akibat tersumbatnya saluran air.

"Penertiban ini sebenarnya sudah kita lakukan prosesnya dari awal. Kita sudah mengadakan sosialisasi dengan turun langsung ke lapangan, terutama di jalur-jalur yang sering mengalami kemacetan ini. Sekarang, kami bahkan sudah menyurat sampai ketiga kalinya, tetapi mereka (para pedagang) tidak mengindahkan surat tersebut," ujarnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya bersama jajaran Lurah, RT, dan RW setempat telah mencapai kesepakatan untuk melakukan penertiban di kawasan tersebut.

"Ini bukan pertama kalinya kami melakukan penertiban di sini. Sudah ada beberapa ruas jalan yang telah kami tertibkan sebelumnya.Ruas jalan pertama di Jalan Tamangapa Raya. Di sana ada sekitar 20 lebih lapak yang sudah kami tertibkan. Ruas jalan kedua yaitu di Jalan Baruga. Di sana ada sekitar 20 lapak beserta bangunan rumah yang dibongkar. Namun, untuk di Jalan Baruga, mereka membongkar sendiri lapaknya masing-masing," jelas Ahmad.

Lantaran pedagang enggan melakukan pembongkaran secara mandiri, lanjut dia, pihak Kecamatan Manggala akhirnya mengambil langkah tegas dengan melakukan penertiban di lokasi tersebut.

"Akhirnya kami menyurat ke dinas terkait untuk turun bersama-sama melakukan penertiban. Terutama dari Pak Asisten yang turut membantu, Dinas PU, dan juga kemarin rencananya dari PD Pasar mau ikut turun. Tapi kemarin belum sempat, mungkin lain kali baru bisa turun bersama. Namun, alhamdulillah, berkat kerja sama yang baik ini, tadi alat berat sudah menyusul ke lokasi dan alhamdulillah penertiban bisa kita laksanakan di sini," sebutnya saat diwawancarai.

Kata dia, penertiban ini dipastikan berlanjut di masa mendatang sebagai langkah pengawasan agar para pedagang tidak kembali membuka lapak di lokasi yang telah dibersihkan.

"Kita akan terus melakukan pemantauan agar mereka tidak kembali lagi mendirikan aksi lapak di sini. Berdasarkan pengalaman di beberapa pasar tradisional yang ada di sini, biasanya kalau sudah ditertibkan, 2 atau 3 hari kemudian mereka akan maju lagi ke jalan. Oleh karena itu, kali ini kita adakan pembongkaran total di sini.Kondisi di sini sangat macet, apalagi di atas saluran air (drainase) ini tersumbat karena tertutup lapak. Itu yang sedang kita tangani sekarang," paparnya.

Ahmad membeberkan, penyumbatan saluran drainase yang menyebabkan banjir saat musim hujan dipicu oleh aksi pedagang yang menutup akses drainase secara sepihak untuk mendirikan lapak.

"Saya sendiri sering lewat sini dan memang banjir di sini. Itu yang kita benahi, sehingga secara otomatis kita harus mengambil tindakan tegas seperti ini. Ada sekitar 30-an lapak di sini, yang digunakan untuk berjualan. Lapak-lapak ini juga sebenarnya sudah berapa kali kita berikan teguran di sini," akunya.

Menurut Ahmad, meski area dalam pasar sebenarnya mampu menampung seluruh pedagang, faktor perilaku transaksi antara penjual dan pembeli menjadi kendala utama dalam penataan lokasi tersebut.

"Pembeli tidak mau masuk ke dalam pasar, sehingga penjual akhirnya ikut keluar. Itu persoalan utamanya. Kalau namanya pasar, memang susah sekali ditertibkan seperti itu. Jadi, Insyaallah ke depannya kami akan tetap turun setiap saat untuk melakukan pengawasan agar jangan ada lagi yang menempatkan lapak di atas drainase," terangnya saat ditemui di sekitar lokasi penertiban.

Camat Manggala pun mengakui, penertiban di lapangan tidak terlepas dari sejumlah kendala yang harus dihadapi oleh petugas. "Beberapa kendala pasti ada. Setiap penertiban itu pasti ada kendalanya masing-masing. Terutama tadi sempat ada warga pemilik lapak yang agak emosi. Dia bilang tidak ada surat teguran. Saya sampaikan, "Ini buktinya, Pak. Ada surat teguran satu, dua, sampai tiga kali yang kami kirimkan." Bahkan Ibu Lurah juga sudah turun langsung ke sini untuk sosialisasi, tetapi mereka tetap tidak mengindahkan. Iya, kendalanya seperti itu," kuncinya.

Ahmad mencatat adanya lonjakan jumlah pedagang kaki lima di bahu jalan tersebut dibandingkan dengan kondisi pada periode sebelumnya.

"Cuma karena pembeli enggan masuk ke dalam, akhirnya pembeli ini jadi masalah juga. Pembeli tidak mau masuk ke dalam kalau membeli, mereka hanya mau membeli dari pinggir jalan agar cepat. Kita pahamlah masalah pasar seperti itu, sambil naik kendaraan lalu membeli," katanya kepada awak media.

Selain memicu kemacetan, Ahmad menekankan bahwa bertransaksi di bahu jalan sangat berisiko tinggi dan menjadi salah satu alasan mendesak dilakukannya penertiban.

"Di samping berbahaya, bikin macet luar biasa di sini. Apalagi di saat hari libur, Sabtu dan Minggu itu paling macet di sini. Kalau hari-hari kerja biasa tidak terlalu tapi kalau Sabtu dan Minggu, itu menjadi persoalan di sini. Bukan hanya pedagang dari sini saja, tapi pedagang yang datang ini ada juga yang dari Gowa datang menjual ke sini. Sebenarnya bukan penduduk asli sini yang banyak berjualan, hanya saja mereka menyewa tempat di sini. Jadi rumah-rumah yang di pinggir jalan di dalam sini menyewakan halaman depan rumahnya untuk ditempati lapak. Makanya tadi itu terjadi ketegangan di sana sama seorang warga," jabarnya.

Pemerintah Kecamatan Manggala memastikan akan menertibkan dan merelokasi para pedagang tersebut ke dalam area pasar dalam waktu dekat ini.

"Iya, rencananya begitu. Kita akan relokasi masuk ke dalam. Jadi kita tetap optimis melakukan sosialisasi ini agar lapak-lapak yang ada di luar bisa masuk ke dalam semua, supaya tidak mengganggu arus lalu lintas dan tidak bikin macet," tegas Ahmad.

Dalam penertiban ini, pihak Kecamatan Manggala menurunkan ratusan personel gabungan.

"Dari Mako itu, dia menurunkan personelnya. Mungkin sekitar 400-an di situ. Karena juga dibantu. Dari Mako juga itu banyak yang datang," tutupnya.

Sementara itu, salah satu warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa lapak yang dibangun di depan rumahnya itu tidak disewakan secara pribadi.

"Tidak ada saya kasih sewa di depan rumahku! Awalnya itu tempat parkir mobil tapi langsung dibuatkan atap jualan para pedagang dari tahun 2020 lalu," ungkapnya kepada SINDO Makassar diselah penertiban.

Dari pantauan di lapangan, proses penertiban dilakukan dengan menggunakan kendaraan ekskavator dan beberapa warga memilih membongkar mandiri atap bangunannya.

Sempat ada beberapa penolakan dari warga, tetapi proses penertiban tetap dilaksanakan tanpa pandang tebang pilih. Selama proses tersebut, terdapat salah satu pipa PDAM patah dan menyebabkan kebocoran.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru