Kompolnas Verifikasi Lapangan Kasus Polisi Tembak Remaja di Toddopuli
Jum'at, 06 Mar 2026 00:27
Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, memberikan keterangan di Mapolda Sulsel, Kamis (5/3/2026). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan transparansi penyidikan kasus penembakan di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.
Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, turun langsung ke Makassar untuk memeriksa fakta di lokasi kejadian serta memantau perkembangan proses hukum yang sedang berjalan.
"Kompolnas sebenarnya tidak hanya hari ini, tetapi dari kemarin pagi sudah sampai di Makassar, datang memang untuk ngecek langsung apa yang terjadi dalam peristiwa Panakkukang," ungkapnya.
Tim Kompolnas memulai investigasi dengan menemui keluarga korban. Setelah itu, mereka melakukan peninjauan tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa sejumlah titik kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi.
"Kami cocokkan dari hasil CCTV yang ada, dengan TKP, dengan berbagai keterangan. Kami juga ngambil informasi di masyarakat sebenarnya apa yang terjadi. Terus juga kami ketemu sama yang terduga saat ini," ujarnya.
Selain itu, Kompolnas juga menemui dokter yang melakukan autopsi terhadap korban. Mereka turut melakukan audiensi dengan Kapolres Makassar, Direktur Reserse Kriminal Umum, hingga Kepala Bidang Propam untuk memantau perkembangan penyidikan.
"Pertama, kami mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Polda maupun Polres untuk melakukan penindakan. Kemarin sudah diumumkan bahwa statusnya sudah dinaikkan sebagai tersangka," ucapnya saat ditemui di Mapolda Sulsel.
Dalam proses verifikasi, tim investigasi juga menelusuri rekaman CCTV dari berbagai sudut di sekitar lokasi kejadian guna memperoleh gambaran visual yang lebih detail.
"Memang betul di sana memang ada kegiatan masyarakat. Anak-anak, remaja begitu yang memang terekam di kamera CCTV dengan sangat jelas. Salah satunya memang kalau di media itu ada tembak-menembak dengan senjata omega itu, senjata mainan itu," paparnya.
Choirul mengatakan tim Kompolnas telah memperoleh rekaman CCTV dengan visual yang lebih jelas dibandingkan potongan video yang beredar di masyarakat. Namun, isi rekaman tersebut tidak diungkap secara detail demi menjaga objektivitas proses penyidikan.
"Memang ada tembakan peringatan. Nah, tembakan kedua, sepanjang yang kami lihat di video. Itu kan kalau video itu kan gak bisa dirubah, gitu ya. Dan kita konfirmasi dengan informasi di berbagai pihak, memang posisi tangan menentukan dan posisi tubuh yang melakukan penembakan memang menentukan apakah itu sengaja dan tidak sengaja," katanya saat dikonfirmasi.
Ia menilai rekaman video tersebut menjadi bukti penting dalam proses penegakan hukum karena membantu memperjelas peristiwa yang terjadi.
"Tapi itu peristiwanya terang. Jadi, maksudnya terang itu dengan adanya video tersebut, peristiwanya terang-benerang. Jadi gampang untuk melihatnya, gak terlalu susah," jelas Choirul.
Berdasarkan koordinasi dengan tim medis, Kompolnas memastikan luka pada tubuh korban murni disebabkan oleh lintasan proyektil peluru. Pihaknya juga mengklarifikasi bahwa bercak pada tubuh korban merupakan lebam mayat secara medis, bukan luka memar akibat penganiayaan.
"Konsekuensi dari jenazah itu, kalau jenazah sudah umur sekian, ya sekian jam itu ya pasti dia akan mengalami perubahan kondisi fisik. Itu kami pastikan, ya kami lihat foto jenazah. Terus kami juga mendapatkan informasi dari dokter yang melakukan otopsi, enggak ada memar, enggak ada luka. Artinya lukanya hanya di tubuh akibat tembakan itu, lubang tembakan. Kalau di wajah enggak ada," tegasnya.
Kompolnas juga mengapresiasi langkah Polda Sulawesi Selatan dan Polres Makassar yang dinilai terbuka dalam menyampaikan perkembangan kasus kepada publik, termasuk penetapan tersangka.
"Yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kepolisian, Polda Sulawesi Selatan, maupun Polres untuk melakukan penegakan hukum, yang statusnya sudah tersangka, mengumumkan di publik bagaimana kondisinya," tuturnya.
Ia menegaskan proses hukum harus terus dijaga agar berjalan transparan dan memenuhi harapan keluarga korban.
"Saya kira ini proses yang harus kita apresiasi dengan baik. Yang berikutnya, ya ayo kita jaga bersama-sama proses ini biar berjalan dengan lancar. Karena salah satu yang paling penting, misalnya dalam konteks ini, kemarin ketemu sama keluarga, harapan keluarganya ya penegakan hukumnya bisa berjalan," terangnya.
Kompolnas juga mengklarifikasi temuan visual terbaru yang menunjukkan posisi subjek dalam rekaman video tidak dalam gestur membidik secara langsung.
"Artinya kalau membidik itu begini, misalnya memang nyasar satu obyek tertentu, subyek tertentu itu tidak kelihatan. Tidak kelihatan di situ. Sehingga apakah ini posisinya sengaja, tidak sengaja? Karena video tersebut menjadi fakta utama untuk menunjukkan bagaimana posisi tangan, bagaimana posisi senjata tersebut," pungkasnya.
Sebelumnya, kepolisian telah menetapkan Iptu N alias Nasrullah sebagai tersangka penembakan yang menewaskan Bertrand (18). Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 Wita pada Minggu (1/3/2026).
Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, turun langsung ke Makassar untuk memeriksa fakta di lokasi kejadian serta memantau perkembangan proses hukum yang sedang berjalan.
"Kompolnas sebenarnya tidak hanya hari ini, tetapi dari kemarin pagi sudah sampai di Makassar, datang memang untuk ngecek langsung apa yang terjadi dalam peristiwa Panakkukang," ungkapnya.
Tim Kompolnas memulai investigasi dengan menemui keluarga korban. Setelah itu, mereka melakukan peninjauan tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa sejumlah titik kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi.
"Kami cocokkan dari hasil CCTV yang ada, dengan TKP, dengan berbagai keterangan. Kami juga ngambil informasi di masyarakat sebenarnya apa yang terjadi. Terus juga kami ketemu sama yang terduga saat ini," ujarnya.
Selain itu, Kompolnas juga menemui dokter yang melakukan autopsi terhadap korban. Mereka turut melakukan audiensi dengan Kapolres Makassar, Direktur Reserse Kriminal Umum, hingga Kepala Bidang Propam untuk memantau perkembangan penyidikan.
"Pertama, kami mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Polda maupun Polres untuk melakukan penindakan. Kemarin sudah diumumkan bahwa statusnya sudah dinaikkan sebagai tersangka," ucapnya saat ditemui di Mapolda Sulsel.
Dalam proses verifikasi, tim investigasi juga menelusuri rekaman CCTV dari berbagai sudut di sekitar lokasi kejadian guna memperoleh gambaran visual yang lebih detail.
"Memang betul di sana memang ada kegiatan masyarakat. Anak-anak, remaja begitu yang memang terekam di kamera CCTV dengan sangat jelas. Salah satunya memang kalau di media itu ada tembak-menembak dengan senjata omega itu, senjata mainan itu," paparnya.
Choirul mengatakan tim Kompolnas telah memperoleh rekaman CCTV dengan visual yang lebih jelas dibandingkan potongan video yang beredar di masyarakat. Namun, isi rekaman tersebut tidak diungkap secara detail demi menjaga objektivitas proses penyidikan.
"Memang ada tembakan peringatan. Nah, tembakan kedua, sepanjang yang kami lihat di video. Itu kan kalau video itu kan gak bisa dirubah, gitu ya. Dan kita konfirmasi dengan informasi di berbagai pihak, memang posisi tangan menentukan dan posisi tubuh yang melakukan penembakan memang menentukan apakah itu sengaja dan tidak sengaja," katanya saat dikonfirmasi.
Ia menilai rekaman video tersebut menjadi bukti penting dalam proses penegakan hukum karena membantu memperjelas peristiwa yang terjadi.
"Tapi itu peristiwanya terang. Jadi, maksudnya terang itu dengan adanya video tersebut, peristiwanya terang-benerang. Jadi gampang untuk melihatnya, gak terlalu susah," jelas Choirul.
Berdasarkan koordinasi dengan tim medis, Kompolnas memastikan luka pada tubuh korban murni disebabkan oleh lintasan proyektil peluru. Pihaknya juga mengklarifikasi bahwa bercak pada tubuh korban merupakan lebam mayat secara medis, bukan luka memar akibat penganiayaan.
"Konsekuensi dari jenazah itu, kalau jenazah sudah umur sekian, ya sekian jam itu ya pasti dia akan mengalami perubahan kondisi fisik. Itu kami pastikan, ya kami lihat foto jenazah. Terus kami juga mendapatkan informasi dari dokter yang melakukan otopsi, enggak ada memar, enggak ada luka. Artinya lukanya hanya di tubuh akibat tembakan itu, lubang tembakan. Kalau di wajah enggak ada," tegasnya.
Kompolnas juga mengapresiasi langkah Polda Sulawesi Selatan dan Polres Makassar yang dinilai terbuka dalam menyampaikan perkembangan kasus kepada publik, termasuk penetapan tersangka.
"Yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kepolisian, Polda Sulawesi Selatan, maupun Polres untuk melakukan penegakan hukum, yang statusnya sudah tersangka, mengumumkan di publik bagaimana kondisinya," tuturnya.
Ia menegaskan proses hukum harus terus dijaga agar berjalan transparan dan memenuhi harapan keluarga korban.
"Saya kira ini proses yang harus kita apresiasi dengan baik. Yang berikutnya, ya ayo kita jaga bersama-sama proses ini biar berjalan dengan lancar. Karena salah satu yang paling penting, misalnya dalam konteks ini, kemarin ketemu sama keluarga, harapan keluarganya ya penegakan hukumnya bisa berjalan," terangnya.
Kompolnas juga mengklarifikasi temuan visual terbaru yang menunjukkan posisi subjek dalam rekaman video tidak dalam gestur membidik secara langsung.
"Artinya kalau membidik itu begini, misalnya memang nyasar satu obyek tertentu, subyek tertentu itu tidak kelihatan. Tidak kelihatan di situ. Sehingga apakah ini posisinya sengaja, tidak sengaja? Karena video tersebut menjadi fakta utama untuk menunjukkan bagaimana posisi tangan, bagaimana posisi senjata tersebut," pungkasnya.
Sebelumnya, kepolisian telah menetapkan Iptu N alias Nasrullah sebagai tersangka penembakan yang menewaskan Bertrand (18). Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.30 Wita pada Minggu (1/3/2026).
(MAN)
Berita Terkait
News
Kapolda Sulsel Janji Tuntaskan Kasus Penembakan Pengacara Rudy S Gani
Kasus penembakan yang menewaskan pengacara Rudy S Gani (49) hampir setahun. Kejadian nahas itu terjadi pada malam pergantian tahun, Selasa 31 Desember 2024 malam.
Selasa, 30 Des 2025 15:24
Sulsel
Polda Sulsel Ringkus 7 Pelaku Pembakaran dan Penembakan di Tallo
Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) merilis perkembangan terbaru kasus kericuhan antarkelompok di Kecamatan Tallo yang menewaskan satu orang serta membakar belasan rumah, Selasa (18/11/2025).
Selasa, 25 Nov 2025 05:32
News
Bukan Begal! Pelaku Penembakan Polisi di Makassar Ternyata Adik Kandung Sendiri
Pelaku penembakan terhadap anggota Satreskrim Polres Pelabuhan Makassar, Aiptu Noval (44), ternyata bukan dilakukan oleh seorang begal bernama Aldi Monyet.
Rabu, 16 Jul 2025 07:17
News
Pelaku Penembakan Staf Desa di Gowa Berhasil Diringkus Polisi
Polisi berhasil menangkap pelaku penembakan seorang staf Kantoe Desa Panikang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kasus itu ternyata dipicu masalah pembagian warisan.
Selasa, 08 Jul 2025 16:51
News
Polisi Tak Kunjung Temukan Pelaku Penembakan Pengacara di Bone
Pelaku penembakan pengacara Rudy S Gani (49) di Desa Patukku Limpoe, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, belum juga terungkap. Padahal peristiwa maut itu sudah berlangsung enam bulan lamanya.
Rabu, 02 Jul 2025 17:04
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler